..Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, ttp Anak manusia tidak mempunyai tempat utk meletakkan kepala-Nya” (Luk 9:58)

Ada satu ungkapan : “Tidak semua orang mendapat kesempatan berbuat baik” . Namun aneh, saat kesempatan itu datang banyak orang yang menolak.

Di masa pasca pandemi Covid-19 ini Gereja meresponnya dengan mengendorkan persyaratan mengikuti misa/kegiatan di Gereja walaupun tetap waspada. Tampak umat pun mulai berbondong-bondong mengikuti misa offline.

Persyaratan anggota koor yang bertugas pun mulai ke arah normal. Tadinya anggota koor yang bertugas hanya dihitung sebelah jari, sekarang sudah boleh 15 orang.

Namun, kondisi ini justru membuat sebagian korwil mengeluh ! Mengapa? Susahnya mengajak umat untuk ikut bertugas koor ketika wilayahnya kebagian giliran bertugas. Dengan berbagai alasan umat “ogah” ikut bertugas koor.

Petikan ayat diatas merupakan bagian perikop Injil Lukas tentang “Hal mengikuti Yesus” yang menceritakan tiga syarat mengikuti Yesus.

Berawal ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikuti Engkau, kemana saja Engkau pergi.”

Yesus yang mengetahui kedalaman hati setiap orang, mengetahui bahwa di balik ungkapan itu sebenarnya hati orang tersebut masih belum memutuskan (undecided), akankah benar-benar ia mau mengikuti Kristus, maka berkatalah Yesus kepadanya:

“Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Luk)

Kata “Tidak ada tempat untuk meletakkan kepala” dimaksud agar setiap murid harus siap bekerja, dan bukan bersantai-santai. Yesus menegaskan bahwa mengikutinya berarti bersedia berjaga terus menerus tanpa mengharapkan istirahat. Hal ini terkesan kurang manusiawi.

Memang mengikuti Yesus tidak dapat dijalankan dengan ikhtiar manusiawi belaka. Hal ini, di kemudian hari terjadi pada ketiga murid yang diajak menemaniNya di Getsemani, jatuh tertidur dan baru bangun ketika para penangkap datang.

Mengikuti Yesus hanya dapat terjadi bila ada kekuatan dari “atas sana” dan yang bersangkutan membiarkan diri dibimbing kekuatan ini.

Yesus sendiri di padang gurun disertai Roh ketika menghadapi pilihan hidup, “ikut Tuhan” atau “mengabdi pada iblis” (Luk 4:1)

Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” Orang itu bersedia mengikuti, tetapi minta kelonggaran waktu karena ada kewajiban mendesak, yaitu menguburkan ayahnya, maka ia berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya:

“Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah & beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.”

Perkataan Yesus ini sekilas terdengar kasar. Tetapi ini hanyalah gaya bahasa yang digunakan Yesus pada saat itu untuk menjelaskan bahwa “orang mati” di sini adalah mereka yang mempunyai interest/minat hanya kepada hal-hal yang fana, dan yang tidak punya penghargaan terhadap apa yang sifatnya ilahi dan kekal.

Ungkapan tersebut bukan untuk mengesampingkan tugas kewajiban kita terhadap orang tua, tetapi untuk menyadarkan kita bahwa tidak ada yang lebih penting daripada hal-hal surgawi, dan hati kita harus melekat pada hal-hal itu, (St. Yohanes Krisostomus, Homily on St. Mattheus )

Bahwa jika ingin ikut Yesus, harus berani mengesampingkan relasi emosional keluarga/persaudaraan, demi mewartakan Kerajaan Allah. Artinya, kesediaan untuk mengikuti Yesus tidak boleh ditunda.

Selanjutnya dikisahkan ada seseorang lain lagi yang mau mengikuti Kristus tetapi dengan satu kondisi yaitu bahwa ia diperbolehkan untuk berpamitan dengan keluarganya, katanya : “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dgn keluargaku.” Menanggapi perkataan itu, Yesus berkata :

“Setiap orang yang siap membajak, tetapi menoleh ke belakang tidak layak untuk Kerajaan Allah”

Disini Yesus mengajarkan agar kita memusatkan perhatian sepenuhnya kepada Allah, tanpa keraguan dan tanpa alasan. Kesetiaan kita kepada Tuhan dan kepada misi yang Tuhan percayakan kepada kita harus memampukan kita untuk menghadapi rintangan apapun.

Artinya harus fokus pada tujuan utama tidak boleh tergoda melihat hal-hal yang sudah lalu. Yang lalu biarlah berlalu. Kegagalan & keberhasilan masa lalu tidak boleh menghalangi langkah kita ke depan.

…. Sahabat …

Pesan pokok dari perikop Injil ini adalah “tak membagi hati” Seutuhnya kita berikan kepada Tuhan. Perhatian mendua tidak membuat orang tenang. Itulah totalitas murid-murid Yesus.

Tugas koor di Gereja adalah tugas untuk memuliakan Tuhan. Tidak semua orang mempunyai kesempatan seperti ini. Mengapa harus ditolak ?

Sebagaimana murid-murid Yesus pertama, Petrus, Andreas, Yakobus, yang segera mengikuti Yesus ketika dipanggil “ikutilah Aku” maka kita pun seharusnya siap sedia untuk tugas melayani koor.

Ingat! Tuhan tidak pernah menpertanyakan kemampuan kita, tetapi kesediaan kita.

Salam Damai Sejahtera

BTL

Leave a Reply

Your email address will not be published.