Renungan Pekan Prapaskah V April 2022
Bacaan Injil:Yoh 8:1-11

Suatu ketika Yesus duduk didepan pelataran Kenisah Yerusalem sedang memberi pengajaran tentang kebahagiaan kekal dan sukacita tanpa akhir dalam surga. Dan seluruh rakyat datang kepada-Nya (ayat 2)

Tiba-tiba sesuatu yang menakutkan, liar dan kejam terjadi. Seperti biasa bersumber dari pada ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah (ayat 3)

Dengan seloroh kemenangan, wanita malang itu diseret kemuka lalu didorong ke hadapan Yesus, sambil berseru: ”Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam Hukum Taurat memerintahkan kita melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang ini?” (ayat 4-5)

pic: sangsabda.wordpress.com

Situasi ini mengundang pertanyaan “Mengapa para tetua hukum tidak merajam sendiri si perempuan berdosa itu?” – “Bukankah hukum Musa memberi wewenang pada mereka untuk merajamnya dan tak ada seorangpun akan keberatan?”

Sebenarnya, mereka menyeret perempuan itu disertai rencana jahat untuk menjebak Yesus! Mereka menanyai Dia disaat hukum Musa sudah jelas. Mereka mencobai Dia, supaya memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya (ayat 6a) Semua yang hadir menduga satu dari dua hal ini akan terjadi :

Pertama:
Yesus dengan belas kasih-Nya akan membebaskan si perempuan berdosa, sehingga mereka mempunyai alasan untuk mendakwa-Nya.

Kedua:
Yesus akan menjunjung hukum dengan berkata : ”Lakukanlah seperti yang tertulis dalam hukum”. Dengan demikian, Ia akan menjadi bahan tertawaan dan cemooh, karena mengingkari perintah-Nya sendiri tentang belas kasihan dan kebaikan penuh kasih.

Disaat para pendakwa mengajukan pertanyaan, “Apa pendapat-Mu?”, sebuah keheningan terjadi. Sekali lagi mereka memaksa-Nya “Apa pendapat-Mu?”. Yesus tidak berbicara apapun.

Sesaat kemudian seakan tidak mendengar, Yesus membungkuk, lalu menulis di tanah dengan jari-jariNya (ayat 6b). Apa yang ditulis Yesus dalam debu? Sang Penginjil diam mengenai soal ini dan tidak mencatatnya.

bengcumenggugat.com

Banyak pendapat para ahli tentang hal ini. Beberapa memperkirakan, Yesus menulis dengan jari diatas tanah seolah-olah ingin menunjukkan bahwa Dia adalah Allah. “Dan TUHAN memberikan kepada Musa di gunung Sinai, kedua loh batu, yang ditulisi jari Allah” (Kel 31:18)

Kemungkinan lain, Yesus menulis dosa-dosa dan mengungkapkan rahasia kefasikan mereka. “Sebab, siapa yg suka menunjukkan dosa orang lain merupakan pakar dalam menyembunyikan dosanya sendiri” Yesus mengingatkan mereka bahwa “sementara menanggung beban pelanggaran sendiri, seharusnya mereka tidak menjadi hakim kejam atas pelanggaran orang lain”

Mereka yang padanya kata-kata ini ditujukan, menunduk dan membaca yang tertulis dengan kengerian tak terlukiskan. Lalu, Yesus bangkit dan berkata: ”Barangsiapa diantara kamu yang tidak berdosa, hendaknya ia yang pertama kali melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:7).

Situasi ini bagaikan seorang yang merenggut senapan dari musuhnya lalu berkata menantang: ”Sekarang tembak!” Tak satu pun lidah mampu bertutur untuk sekali lagi mengucapkan pertanyaan jahat yang menjebak, “Apa pendapat-Mu?”

Para hakim congkak yang sekarang berdiri tanpa senjata, bungkam tak bergeming di tanah. Mereka tak berpikir lagi tentang si perempuan berdosa. Lalu, sesaat kemudian pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua.

Yesus membungkuk lagi dan menulis di tanah (ayat 8) Apa yang ditulis-Nya kali ini? Sang Penginjil tetap diam tidak mencatatnya. Hal ini tidaklah penting untuk kita ketahui. Yang paling mendasar disini, lewat tulisan di tanah, Yesus meraih tiga hasil :

Pertama Ia menghancurkan badai yang dimunculkan tetua Yahudi terhadap-Nya.
Kedua Ia membangunkan nurani mati yang membatu dalam jiwa para tetua Yahudi.
Ketiga Ia menyelamatkan si perempuan berdosa dari kematian.

Pelataran Kenisah mendadak kosong. Tinggal Yesus seorang diri dengan perempuan yg tetap di tempatnya, “Si pendosa dan Yang tanpa dosa” (ayat 9)

Santo Agustinus mengungkapkan peristiwa ini dengan kalimat, “akhirnya tinggal Misericordia et Misera” (Belas kasih dan Penderitaan)

Keheningan makin mendalam, Yesus bangkit dan menatap sekeliling. Ia tidak melihat seorangpun kecuali si perempuan berdosa, lalu berkata kepadanya : ”Hai perempuan, dimanakah mereka pendakwamu, tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Si wanita yang kembali mampu bicara menjawab: ”Tidak ada, Tuhan.” (ayat 10)

pic: quizizz.com

Perkataan yang terucap oleh mahluk malang, yang tadinya tak punya harapan akan pernah berbicara lagi. Akhirnya, Yesus berkata kepadanya : ”Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (ayat 11)

Saat srigala melepaskan mangsanya, sang gembala tentu tak menginginkan pula kematian dombanya. Maka, penting kita cermati, bahwa sikap tak menghakimi Kristus mempunyai makna lebih daripada sikap tak menghakimi manusia.

Waktu orang tak menghakimi, artinya mereka tidak menjatuhkan hukuman bagi dosa kita, tetapi membiarkan dosa itu tetap di dalam kita.

Artinya, ketika Allah tidak menghakimi, ini berarti Ia mengampuni dosa kita, menariknya keluar, dan membuat jiwa kita bersih. Ini tersirat dari perkataan Yesus kepada si perempuan, “Aku tidak menghukum engkau” bermakna seperti “dosamu telah diampuni, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi “

Sungguh sukacita tak terperikan, sebab Tuhan menyibak kebenaran pada mereka yang terhilang. Sukacita dalam belas kasihan, karena Tuhan menunjukkan kemurahan. Sukacita dalam hidup, karena Tuhan menjaga kehidupan.

pic: wartakotalive.com

Kisah diatas sungguh memberikan pelajaran yang menarik dan sangat berharga bagi kita yang selalu melihat orang lain dengan kacamata kesalahan-kesalahan mereka. Kadang diam-diam kita malah bersorak melihat orang lain jatuh, lalu kita merasa menjadi lebih baik dan lebih hebat !

Andai kita berdiri seperti “Yesus” yang diposisikan sebagai “hakim”, maka apa yang dilakukan Yesus merupakan teladan sangat baik bagi kita, khususnya para pemuka dan pemimpin umat.

Yesus tidak serta-merta menghukum orang berdosa sesuai hukum yang berlaku, atau menerima begitu saja laporan, kesaksian, dan tuduhan orang. Yesus tidak melakukan satu pun dari dua hukum itu (Hukum Taurat dan Hukum Sipil).

Sebaliknya, Yesus mengalihkan tantangan kepada orang-orang yang mau menghakimi itu dengan membawa persoalan itu ke dalam hati nurani mereka. Yesus mengubah “Kaidah Hukum” menjadi “Kaidah Mora”

Andai kita berdiri seperti “Orang-orang Farisi dan Ahli Taurat” yang karena kedengkian hati suka mencari kesalahan, mengkritik dan menghakimi orang, maka kata-kata Yesus sangat tepat buat kita “Barangsiapa diantara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melempar batu kepada perempuan itu.”

Jadi … jika masih ada “batu-batu” dalam genggaman kita yang siap dilemparkan kepada sesama, lepaskanlah itu! Karena pada hakekatnya, kita tidak lebih baik dari mereka.

Andai kita berdiri sebagai “perempuan berdosa” yang mau dihukum dan dibinasakan, tetapi dibela dan diselamatkan Yesus, maka kata-kata Yesus sangat layak untuk kita hayati: ”Aku pun tidak menghukum engkau, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Inilah Injil Yesus Kristus yang artinya Kabar Baik! Inilah warta penuh sukacita, ajaran sukacita.
Inilah kisah dari selembar halaman Kitab Sukacita.

Salam Damai Sejahtera

Theodorus Lintang

Leave a Reply

Your email address will not be published.