Shalom ….,

Di dalam penulisan suatu karya ilmiah, buku, atau artikel, tentu tidak terlepas dari gagasan, ide, teori orang lain yang dapat djadikan referensi untuk mendukung argumen yg dibangun.

Gagasan, ide-ide, serta teori bisa didapat dari mana saja seperti dari media online, media cetak, berupa audio dan video. Namun, disini terdapat suatu celah untuk melakukan tindakan plagiarisme.

Plagiarisme adalah sebuah tindakan yang tidak etis dan tidak bisa diterima dlam perspektif ilmiah. Bahkan dapat dianggap sebagai salah satu tindakan pidana.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi “plagiat” atau “plagiarisme” adalah sebagai berikut:|

  • Tindakan menjiplak atau menulis ulang suatu pendapat, karya, karangan orang lain dan menjadikannya karyanya sendiri;
  • Tindakan meng-copy atau menulis ulang bagian tertentu dari karya orang lain dengan tidak mencantumkan sumber kutipan;

Untuk memastikan hal ini, editor akan memeriksa artikel tersebut dengan menggunakan Plagiarism Checker X.

  • Batas maksimal kesamaan adalah 20%.
  • Bila ditemukan kesamaan antara 21% – 30%, penulis diminta untuk merevisi artikelnya;
  • Bila lebih dari 30%, tulisan akan ditolak.
  • Jika ditemukan kesamaan signifikan, meskipun kesamaan di bawah 20%, editor akan meminta tulisan tersebut untuk direvisi.
signalhfx.ca

Berdasarkan perspektif Kristen, plagiarisme bukan hanya sekedar masalah etika atau akademis, namun ini adalah masalah moral dan dapat dianggap dosa.

  1. Plagiat adalah Pencurian
    Mengambil milik orang lain adalah dosa. Perintah ke-8 dengan jelas menyatakan, “Jangan mencuri” (Kel. 20:15; Ul. 5:19). “Mencuri” yang dimaksud disini termasuk “mencuri ide” orang lain.

    “Sebab itu, sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan para nabi, demikianlah firman TUHAN, yang mencuri firman-Ku masing2 dari temannya.” (Yer 23:30)
    Dikisahkan, para nabi palsu tidak memiliki inspirasi pribadi, karena mereka tidak menerima sepatah kata pun dari TUHAN secara pribadi, sehingga mereka hanya dapat mengulangi apa yang mereka telah dengar dikatakan orang lain.

    Kata kerja Ibrani yang diterjemahkan sebagai “mencuri” dalam Yeremia 23:30, adalah kata kerja yang sama yang digunakan dalam Keluaran 20:15 dan Ulangan 5:19. Maka, tindakan “plagiat” yang dilakukan oleh para nabi tsb digolongkan sebagai pelanggaran terhadap perintah ke-8.
  1. Plagiat adalah Penipuan
    Dalam bukunya, Christian Ethics, Wayne Grudem menganggap plagiarisme sebagai “bentuk kebohongan”, karena membuat klaim tersirat yang salah tentang kepenulisan.

    Penggunaan bahan atau konsep dari orang lain untuk memberikan kesan bahwa bahan itu adalah kata-kata sendiri, adalah bentuk kebohongan, karena mencoba menipu para pembaca atau pendengarnya. Alkitab dengan sangat jelas memerintahkan: “Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya” (Im. 19:11)
  1. Plagiat adalah Perbuatan Curang
    Dalam konteks etika, moral, dan akademis, tindakan plagiat untuk mendapatkan pujian, penghargaan adalah perbuatan curang.

    Terkadang orang yang berlaku curang sepertinya berhasil, mereka mengira mendapatkan pahala, tetapi akhirnya semua akan terbukti kosong dan palsu.
    “Orang fasik membuat laba yang sia-sia, tetapi siapa menabur kebenaran, mendapat pahala yang tetap” (Ams 11:18)

    Penjiplak seperti itu seharusnya menyadari bahwa menyontek tidak akan pernah bisa disembunyikan “Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya,tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.” (Amsal 10:9)

    Seorang penjiplak mungkin dapat menipu pembacaya, tetapi Tuhan tidak akan tertipu, dan Tuhan akan mengungkapkan dosanya, seperti yang dikatakan rasul Paulus “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Galatia 6:7)

….Sahabat…

Dalam perspektif Kristen, kutipan yang tepat dalam penulisan suatu artikel atau makalah bukan hanya sekedar persyaratan akademis tetapi juga menjadi ekspresi kebajikan Kristen. Maka karya penulisan artikel haruslah menjadi tanda kerendahan hati dan rasa syukur.

Jika plagiarisme adalah dosa, dan bukan sekedar pelanggaran etika serta akademis, maka umat Kristen harus waspada. Jangan hanya mengandalkan sertifikat, tetapi lakukan studi Firman Tuhan secara serius, cermat dan berwawasan, agar mampu melakukan pengutipan dari sumber yang tepat.

“Berkaryalah, tetapi akan lebih baik jika berkarya dengan pikiran & imajinasimu sendiri”

Salam Damai Sejahtera

Blasius Theodorus Lintang

Reff:

  • Allen, O. Wesley, Jr. “Liar, Liar, Pulpit on Fire: Homiletical Ethics and Plagiarism.” Lexington Theological Quarterly 41.2 (2006): 65–85.
  • McQuilkin, Robertson and Paul Copan. An Introduction in Biblical Ethics, Walkung in the way of wisdon, 3rd edition Downers Grove, IL ; Inter Varsity, 2014.
  • Alexander N. Kirk, Plagiat adalah dosa. Jurnal Teologi Biblika, Vol 3 No 2 Edisi Oktober 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.