Hari Minggu Prapaskah II –Tahun C/II | Minggu, 13 Maret 2022
Oleh P. Walterus Teguh Santosa, SJ.

Pertobatan Rohani Theilhard de Chardin, SJ adalah seorang Jesuit dari Perancis. Dia dikenal sebagai seorang filsuf, sekaligus ahli paleontologi. Salah satu bukunya yang terkenal adalah The Phenomenon of Man (1955). Dalam buku tersebut dia menulis bahwa, “Kita bukanlah manusia yang memiliki pengalaman rohani, tetapi makhluk rohani yang memiliki pengalaman manusia”.

Sebagai makhluk rohani, telah dari sejak dahulu kala sebelum berkembangnya agama-agama samawi, manusia telah memiliki kerinduan untuk berkomunikasi dengan Tuhan penciptanya. Apabila pada bacaan kedua dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus menulis sebuah fakta bahwa ada sebagian orang yang memiliki gaya hidup hedonis, itu adalah sebuah pengecualian. Paulus menulis, “Tuhan mereka adalah perut, kemuliaan mereka adalah hal-hal aib, sedangkan pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara-perkara duniawi.”

Kisah Abraham meneguhkan bahwa manusia adalah makhluk rohani. Pada bacaan pertama, dikisahkan bagaimana usaha Abraham, yang dahulu dikenal sebagai Abram, meskipun masih gagap dalam mengenali Allah, tetapi ia telah memiliki intuisi rohani.
Barangkali dalam pengalaman awal Abraham, Allah dikenali sebagai salah satu “dewa” yang menjumpai dan memanggilnya. Intuisi rohani tersebut mendorongnya untuk membuat persembahan hewan kurban saat berjumpa dengan “dewa”. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Allah lantas secara lebih tegas memperkenalkan lebih dekat dalam hidup Abraham, “Akulah Tuhan yang membawa engkau keluar dari Ur Kasdim guna memberikan negeri ini menjadi milikmu.

Abraham mengingat bagaimana saat pertama Tuhan menjumpai Abraham, Ia berjanji, “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang jika engkau dapat! Demikianlah banyaknya nanti keturuanmu.” Tuhan yang memperkenalkan diri kepada Abraham, Ia akan membuatnya menjadi bangsa yang besar, dan memberkatinya. Abram memang meninggalkan negeri dan sanak keluarganya dan sekian lama ia berjalan mengikuti panggilan Tuhan. Walaupun demikian, Tuhan belum memenuhi janji-Nya. Padahal usianya sudah lanjut, dan belum memiliki anak. Pada akhirnya Abraham memetik buah imannya!

Di masa pandemi ini, kita ditantang kembali untuk memurnikan hidup kita sebagai makhluk rohani.
Saya sedih bahwa gereja tak lagi diminati orang untuk berjumpa dengan Tuhan. Kapasitas gereja yang disediakan umat tidak pernah terisi penuh. Tidak sedikit orang lebih dikungkung oleh rasa takut mengalahkan kerinduan bertemu Tuhan.

Dalam bacaan Injil kita mendapatkan teladan dari Yesus. Dia mau repot naik gunung untuk berdoa. Hanya dalam Injil Lukas ditegaskan bahwa Yesus naik ke gunung untuk berdoa. Dalam injil sinoptik lain tidak diceritakan mengapa Yesus naik ke gunung yang tinggi. Yesus mau berlelah-lelah naik ke gunung yang tinggi untuk berdoa berjumpa Bapa-Nya. Lantas, mengapa ada yang enggan berlelah-lelah pergi ke gereja dengan segala usaha yang mesti dijalani seperti harus naik kendaraan, perlu hadir lebih awal, perlu menjalani protokol, dst? Sama seperti Yesus, mendaki gunung untuk berdoa pun juga perlu effort, menjalani langkah-langkah tegap untuk meniti jalan terjal.

Apabila dalam masa prapaskah ini kita diajak untuk membangun pertobatan, maka saya mengusulkan tema yang tidak perlu jauh-jauh dari hidup kita. Kita diajak untuk membangun kerinduan bertemu dengan Tuhan di gereja. Masa pandemi memang membawa begitu banyak kesulitan untuk kita. Tetapi kita mendapat teladan dari Bapa Abraham. Dalam bayang-bayang samar, Abraham memiliki keyakinan, bahwa Tuhan yang ia imani akan memenuhi janji-Nya. Dan itu terbukti! Kekuatan doa juga memampukan Yesus untuk menempuh jalan derita.

Semoga kita tetap memiliki kerendahan hati di hadapan Tuhan, meletakkan hidup kita hanya tergantung kepada-Nya. Salam sehat berlimpah berkat,

Leave a Reply

Your email address will not be published.