Hari Minggu Prapaskah I Tahun  C / II.Minggu, 06 Maret 2022.
Oleh P. Ignatius Suryadi Prajitno, SJ.

Masa Prapaskah ini mendahului Paskah dengan laku tobat selama 40 hari (merujuk pada masa puasa Yesus selama 40 hari). Hal ini dikuatkan: ”Oleh masa puasa selama 40 hari setiap tahun, Gereja mempersatukan diri dengan misteri Yesus di padang gurun.” (KGK 540).
Masa ini menjadi kesempatan untuk menguasai hawa nafsu dan memperoleh kebebasan hati (bdk. KGK. 2043), supaya kemuliaan Tuhan semakin bersinar dalam hidup kita.
Dari kisah Injil Lukas 4: 1-13, dalam mempersiapkan karya-Nya, Yesus berpuasa selama 40 hari. Tentu masa persiapan yang begitu panjang yang menunjukkan kesungguhan Diri-Nya menjalankan titah Allah.

Kesungguhan tersebut terlihat dimana Ia menyepi menyendiri di padang gurun untuk mendekat kepada Allah Bapa. Menyepi berpuasa selama itu memang tidak mudah. Semakin seseorang intens mendekat kepada Allah, semakin besar pula godaan roh jahat yang berusaha menggagalkannya. Ketika dalam posisi lemah (Yesus lapar), selalu muncul godaan-godaan dari iblis. Manusia sering kali jatuh dalam godaan karena dalam posisi selalu lemah. Iblis mengetahui dengan baik bahwa manusia akan dengan mudah dijeratnya. Yesus pun mengalami tiga godaan iblis. Melalui godaan tersebut Yesus diminta untuk menyembah iblis. Bahkan iblis pun tahu tentang alkitab, terlihat dari kalimat godaan yang ditawarkannya.

Namun Yesus tetap berpegang teguh pula dalam sabda Allah, sehingga Ia selalu konsisten menegaskan dengan isi alkitab dalam melawan iblis,”Ada tertulis..”. Isi alkitab menjadi pegangan hidup Yesus. Sabda Allah menjadi kekuatan Yesus yang utama. Sehebat apapun iblis, kuasa Sabda Allah jauh lebih dahsyat dari kuasanya. Hal ini menjadi pegangan bagi kita bahwa dalam kelemahan manusiawi kita selalu akan mendapat godaan dari iblis. Selalu iblis akan berusaha menjerat kita untuk menjadi bagian dari diri mereka, seperti dikatakan,”Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik (ay. 41).”

Oleh karenanya, pada perayaan Rabu Abu kemarin kita diajak untuk: ‘Bertobatlah dan percayalah kepada Injil’ (bdk. Mrk 1: 15). Bertobat merupakan tuntutan pertama yang dimaklumkan Yesus kepada para pendengar-Nya. Dalam kesempatan pertama tampil di hadapan publik, Ia meminta suatu pilihan sikap yang benar dan tidak tergantikan untuk membangun hidup dalam Dia dan bersama Dia. Pengikut-Nya hanya mempunyai satu pilihan sikap asli: berobat. Dengan bertobat, orang percaya kepada Injil, yakni Yesus sendiri sebagai kepenuhan Kabar Gembira yang datang dari Allah.Pertobatan ditempuh melalui 3 cara yang sangat indah yakni doa, puasa dan amal kasih!

Melalui doa, kita diajak untuk datang lebih dekat kepada Tuhan. Melalui puasa, kita berusaha melatih diri, menguasai diri, nafsu, emosi, egoisme, dan keinginan dagingnya. Melalui amal kasih, kita berbuat baik kepada sesama. Semoga teladan indah yang telah ditunjukkan oleh Yesus menjadi bekal kita menjalani Prapaskah secara serius, sehingga pertobatan dan kerahiman Allah sungguh nyata dalam kehidupan kita. Mari melawan aneka godaan dosa dengan mawas diri dan iman yang teguh. Selamat menjalankan laku tobat…

Leave a Reply

Your email address will not be published.