“Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku kedalam kolam itu apabila airnya mulai bergoncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”

(Yohanes 5:7)

Ada sebuah ungkapan berbunyi : “Anda boleh kehilangan sesuatu, kecuali harapan”. Mengapa kita tidak boleh kehilangan harapan? Karena harapan adalah harta manusia yang sangat berharga, yang tidak dapat dicuri oleh siapapun !

Harold Lindsey, seorang penulis Kristen Amerika, mengungkapkan dengan sangat baik tentang hal ini dalam tulisannya :

Man can live for about forty days without food, and about three days without water, about eight minutes without air..but only for one second without hope”

Harapan adalah bentuk transformasi atas perjalanan hidup

Harold Lindsey

Harold mengisyaratkan bahwa harapan adalah bentuk transformasi atas perjalanan hidup. Jika harapan itu hilang, maka proses transformasi akan terhenti dan hidup akan menjadi tidak jelas. Itulah sebabnya harapan harus terus dipelihara walau kenyataannya orang sulit berharap, terlebih dalam peristiwa gelap dan pahit.

Konsep Alkitab tentang “harapan” jauh lebih luas dan dalam daripada yang digunakan umum. Kata bahasa asli Alkitab yang diterjemahkan dengan “harapan” memiliki arti “menunggu dengan penuh kerinduan” atau “menantikan sesuatu yang baik”

Harapan seperti itu tidak sama dengan sekedar angan-angan. Allah memberi umat-Nya dasar kuat untuk berharap! Alkitab penuh dengan janji-janji Allah yang menakjubkan serta catatan sejarah yang akurat tentang penggenapannya.

Janji-janji-Nya tentang masa depan begitu dapat diandalkan sehingga adakalanya dicatat seolah-olah sudah digenapi pada saat janji itu dibuat. Itulah sebabnya Alkitab juga disebut “Buku Harapan”.

 

Perikop bacaan Injil Yohanes hari ini, mengisahkan seorang yang sudah 38 tahun sakit lumpuh, terbaring di atas tilam di serambi kolam Betesda. Dengan penuh harapan dia menanti air kolam bergoncang, karena menurut kepercayaan, orang pertama yang masuk ke kolam tersebut akan sembuh. (ayat 4-5)

Ketika Yesus melihat kondisi orang itu dan tahu apa yang menjadi kerinduannya, Ia bertanya : “Maukah engkau sembuh ?” (ayat 6)

Luar biasanya, orang itu tidak menjawab “ya” atau “tidak”, melainkan hanya meratapi kemalangannya selama ini. “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku kedalam kolam itu apabila airnya mulai bergoncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” (ayat 7)

Inilah ratapan kemalangannya ! Dia memang jadi orang yang kalah dan tersingkirkan, tetapi mengapa dia selalu setia datang ke kolam itu selama ini ? Satu hal yang mendorongnya kesitu adalah harapan. Harapan bahwa suatu saat Tuhan akan menyembuhkannya, dan Yesus melihat harapan orang itu begitu kuat lalu menyembuhkannya.

Orang lumpuh itu adalah orang yang tidak pernah kehilangan harapan meski dalam kegetiran sekalipun. Tanpa harapan kuat, mustahil dia setia datang kesitu setiap hari. Berharap berarti percaya bahwa Tuhan selalu menyertai kita.

Memang, manusia cenderung takut kehilangan apa yang disayangi dan dimilikinya. Manusia juga takut memikul beban berat atau menghadapi masalah sulit, sehingga seringkali langkah pertama yang diambil adalah berlari dan menghindar.
Padahal keutamaan dan keistimewaan manusia ditentukan oleh seberapa besar tekad dan semangatnya saat menghadapi masalah.

Harapan membuat kita memiliki semangat untuk bangkit, melangkah dalam iman dari waktu ke waktu. Harapan juga berarti mempercayai apa yang sudah Allah janjikan bagi kita sejak semula yang tercatat di kisah penciptaan, pewartaan para nabi, dan terutama dalam diri Yesus Kristus.

Roh Kudus diberikan agar kita dapat dengan sabar berpengharapan akan kebenaran. Sebab itu jangan pernah kehilangan harapan.

Salam damai sejahtera


Theodorus Lintang

Leave a Reply

Your email address will not be published.