“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih” (Mat 23:25-26)

Ayat diatas merupakan salah satu kecaman Yesus, terhadap kemunafikan orang-orang Farisi yang tercantum dalam Injil Matius dan dikenal sebagai “Eight Woes” (Delapan Celaka)

Sikap ahli Taurat dan orang Farisi tersebut, tanpa kita sadari juga sering terjadi dalam kehidupan kita. Terlalu banyak waktu kita terkuras untuk memikirkan orang lain. Sebagian besar energi dan pikiran kita dicurahkan utk meneliti, menganalisa, menduga, meng-iterpretasi, membandingkan, memberi label, bahkan menghakimi.

Setiap orang berpikir mau mengubah orang lain, namun hampir tak seorang pun berpikir bagaimana mengubah dirinya.

Tentu tidak salah menasehati dan membantu orang untuk berubah. Yang salah adalah ketika kita memaksakan perubahan itu terjadi.

Kita melekat pada hasil yang kita inginkan, dan tidak melihat manusia secara utuh lagi. Kita melihat orang bagaikan sebuah produk, ada yang mulus, ada yang cacat.

Kita ingin terlihat heroik dengan berusaha memperbaiki orang lain, seolah-olah perbuatan kita adalah murni untuk kepentingan orang lain.

Kita sering lupa bahwa niatan memperbaiki orang lain sering kali timbul dari ego. Ketika kita ingin memperbaiki orang lain, secara tidak langsung kita merasa lebih baik dari mereka.

Berbicara tentang merubah orang lain, saya teringat sebuah tulisan indah dari seorang bijak yang bercerita tentang dirinya seperti berikut ini :

Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan aku selalu berdoa : “Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia !”

Ketika aku sudah separuh baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi : “Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku; keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas.”

Sekarang ketika aku sudah tua dan saat kematianku sudah dekat, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Sekarang, doaku satu – satunya adalah : “Tuhan, berilah aku rahmat untuk merubah diriku sendiri.”

Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, maka aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku !

….Sahabat ….

Kita telah lama melupakan kondisi internal diri. Kita terlalu sering bermain di luar. Kalau saja kita masuk lebih kedalam, kita akan sadar bahwa satu-satunya yang perlu dibersihkan terlebih dahulu adalah diri ini.

Di saat kita membersihkan bagian dalam diri, maka pelahan-lahan kita mulai mengerti mengapa pencuri atau pemalak melakukan pekerjaannya.

Tatkala “hakim-hakim” yang bertengger di benak kita lengser, maka bertahap kita akan mampu melihat penderitaan orang-orang yang kita beri label sebagai “manusia sulit” tersebut.

Orang yang sebelumnya kita lihat jahat, terlihat berbeda, mereka yang dirasa menyulitkan tiba-tiba menjadi mudah.

Ini bukan karena mereka berubah, namun karena cara, sudut pandang, dan kedalaman dalam melihat kita yang berubah. Semua jadi baik disaat lensa kita bening.

Menghakimi lalu menghukum bukanlah solusi, karena hukuman dengan maksud baik sekalipun seringkali menjelma menjadi luka yang baru.

Sementara mendengarkan, memahami dan menerima seutuhnya memang bukan obat ajaib nan instan, namun semuanya itu bagaikan salep mujarab yang menyembuhkan, dikala kita sabar mengoleskannya.

Oleh sebab itu ketika berdoa, mintalah kebijaksanaan yang membebaskanmu, bukan pengetahuan yang membuatmu merasa benar dgn bertengger diputih dan menyalahkan yang hitam.

Salam Dama Sejahtera



Theodorus Lintang

Leave a Reply

Your email address will not be published.