Tinggal beberapa hari lagi paroki Gereja HSPMTB Tangerang akan mengadakan pemilihan Dewan Paroki Harian (DPH) periode 2022-2025. Tim formatur telah melakukan proses evaluasi dan menetapkan tiga orang calon Wakil Ketua DPH yang akan dipilih oleh Dewan Paroki Pleno (DPP) pada hari Minggu, 27 Maret 2022 mendatang.

“Dewan Pastoral Paroki Harian” sesuai dengan namanya adalah pelaksana karya penggembalaan sehari-hari. Istilah “Harian” tidak mengacu pada keinginan ideal untuk hadir di paroki setiap hari. Istilah “Harian” disini dimaksudkan untuk memikirkan, merencanakan dan mengambil keputusan dan tindakan untuk hal-hal kehidupan beriman sehari-hari dari umat Allah, yang seringkali penuh dengan kejutan-kejutan dari Tuhan (bdk. Gaudete et Exsultate/GE, 139).

Secara singkat, tugas utama Dewan Pastoral Harian adalah :

  • Membantu ketua umum untuk memperoleh gambaran situasi nyata umat
  • Mendengarkan aspirasi umat Allah
  • Menerjemahkan ajaran Gereja kedalam program-program strategis yang nantinya dilaksanakan seksi-seksi DPP utk perkembangan iman dan kehidupan umat Allah.
sumber: pedomanharian.org

Untuk mewujudkan tugas utama tersebut, setiap anggota DPH diharapkan memiliki “jiwa pelayanan”. Seorang pelayan tanpa jiwa pelayanan akan menjadi loyo dan tidak mempunyai sukacita dan damai ketika melakukan pekerjaan-pekerjaannya.

Tanpa inti yang menjiwai pelayanan ini, maka seorang pelayan cenderung mementingkan ambisi pribadinya, atau melakukan pelayanan dengan ala kadarnya. Mudah meninggalkan pelayanan jika menemui ketidak-cocokan dengan teman satu pelayanan. Mudah putus asa, ngambek, atau mudah menyerah kalau merasa tidak dihargai oleh orang lain. Oleh sebab itu, seorang pelayan Gerejawi yang sejati selayaknya memiliki sikap :

1. Religius

Ciri religius pelayanan Kristiani secara konkret ialah menimba kekuatannya dari suri-teladan Kristus. Pelayanan dan seluruh hidup sebagai seorang religius membutuhkan suatu sikap “lebih” dari sekedar yang dapat diberikan oleh seorang yang kreatif.

Sehingga “Mengajar” menjadi lebih dari sekedar mentransfer ilmu pengetahuan. “Pastoral” lebih dari sekedar ketrampilan menjawab pertanyaan atau menghibur dengan kata-kata manis. “Mengorganisasi paroki” lebih dari sekedar berkutat dengan teori-teori managerial modern.

“Beribadat harian” serta “Merayakan Ekaristi” lebih dari sekedar melaksanakan liturgi, tetapi merayakan hidup Allah yang berkenan tinggal bersama kita.

2. Hati Seorang Hamba

Penting bagi seorang pelayan Kristiani untuk memiliki hati sebagai seorang hamba atau pelayan, sebab Allah membentuk kita memang untuk melayani, bukan untuk mementingkan diri sendiri.

Jika kita tidak memiliki hati seorang seorang pelayan, maka kita akan mudah tergoda untuk menyalah-gunakan pelayanan itu untuk tujuan pribadi.

Untuk memiliki hati seorang hamba dibutuhkan waktu dan proses, itulah sebabnya seringkali Tuhan menguji kita dengan cara-cara yang tidak pernah kita duga untuk membentuk kita memiliki hati seorang pelayan.

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yg terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk 9:35).

3. Kerendahan Hati

Dalam pandangan Kristiani, sikap melayani adalah sikap yang tidak merendahkan dan tidak membedakan, melainkan mengedepankan kesamaan, persaudaraan, sebab di hadapan Tuhan semua orang sederajat.

Dari kerendahan hati, kita akan menemukan kesabaran, kasih, kelemah-lembutan, kebaikan hati, hormat, dan kesatuan. Kerendahan hati membuka jalan selebar-lebarnya bagi pekerjaan Tuhan. Tanpa kerendahan hati, seseorang tidak bisa dipakai oleh Tuhan, dan tidak bisa berguna untuk sesamanya.

Kerendahan hati bukanlah sesuatu yang amat istimewa atau tanda kesucian, melainkan sikap realistis yang mengakui keterbatasan segala usaha manusia, termasuk pelayanan Gereja.

Dalam pelayanannya, Gereja tidak memainkan peranan Tuhan. Pelayanan Gereja ialah menerima dunia dan manusia apa adanya. Jadi, kerendahan hati adalah keihklasan dalam menolong dan melayani sesama dengan penuh suka cita.

Sahabat…..

Ternyata melayani bukanlah hal yg mudah. Untuk menjadi seorang pelayan Gerejawi yang sejati, tidaklah cukup hanya dengan modal semangat & kepintaran. Mengapa? Melayani itu sama dengan memberi diri, karenanya dituntut pengorbanan diri kita.

Pelayanan Gerejawi yang sejati merupakan ungkapan iman setiap anggota Gereja. Iman sendiri merupakan jawaban atas penggilan Tuhan, dan semuanya diawali kemampuan mendengarkan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Kebesaran seseorang dalam pelayanan Kristiani tidak dinilai dari status, kuasa, martabat, atau dari kedudukannya.

Membantu warga prasejahtera dengan memberi paket sembako. dok: komsos.

Allah menentukan kebesaran seorang hamba-Nya bukan berdasarkan banyaknya orang yang melayaninya, melainkan banyaknya orang yang dilayani.

Allah tidak menentukan kebesaran seorang hamba-Nya dari banyaknya kuasa yang dimiliki seseorang dalam pelayanan, melainkan berdasarkan berapa banyak kuasa itu dipakai untuk melayani orang lain.

Kita semua dipanggil dan diutus untuk menyembuhkan yang terluka, menyatukan yang remuk dan memanggil kembali yang tersesat.

Semoga pemilihan Wakil Ketua DPH periode 2022-2025 diberkati Tuhan dan berjalan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki bagi kita.

”Allah tidak pernah mempertanyakan kemampuan dan ketidakmampuan kita, melainkan kesediaan kita”

Salam Damai Sejahtera


Theodorus Lintang

Leave a Reply

Your email address will not be published.