Di zaman modern ini banyak dijumpai orang-orang yang karena imannya, cenderung menjadi ekstrim, dan seringkali berperilaku keterlaluan, seolah-olah mereka memiliki iman yang paling benar dan menjadi orang spesial atau di spesialkan Tuhan.

Fenomena sosial dan moral ini jelas sekali terlihat dengan ngetrennya sharing pengalaman iman yang disampaikan langsung secara lisan maupun melalui tulisan yang menggunakan istilah “fenomena mendengar suara Tuhan” atau “fenomena melihat wajah Tuhan” misalnya :

“Saya tanya pada Tuhan, apakah saya boleh ikut pergi dengan dia? Lalu Tuhan menjawab saya: “Jangan! kamu harus berbuat ini dan itu”

“Ketika sedih lalu saya berdoa, berseru kepada Tuhan, dan saya mendengar Dia menjawab: “Jangan takut!, Aku mencintai dan mengasihimu”

“Ketika sedang menunggu sesuatu, Saya melihat tahta kerahiman Tuhan tepat di depan saya”

Memang cukup sensasional untuk mengatakan bahwa ketika berdoa/bernyanyi bisa terharu merasakan jamahan Tuhan, lalu mengklaim itu dari Roh Kudus sendiri.

Orang seperti ini tidak sadar siapa dirinya dan siapa Tuhan. Tuhan adalah pencipta dan mahakuasa, sedangkan dia tetaplah manusia biasa yang tak terhitung jauhnya bila dibandingkan dengan Pencipta yang Agung. Kitab Suci sendiri menegaskan hal ini :

Dialah satu-satunya yg tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tidak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (1Tim 6:16)

Allah memang menjadi dekat dengan manusia melalui inkarnasi, namun tidak merubah kodratNya sebagai “Yang tak terhampiri”

Begitu menggelikan jika manusia meng-klaim bisa mendengar suara-Nya atau melihat wajah-Nya langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena spiritualitas/penghayatan Kristen semacam itu tidak pernah ditemukan. Sejarah kekristenan sendiri tidak pernah menorehkan catatan teologi, tradisi, maupun relasi dengan Tuhan seperti ini, sejak zaman perdana sampai abad 19.

Baru pada abad 20, trend gaya Kristen semacam itu muncul dari aliran yang meng-klaim dirinya bersumber dari Roh Kudus.

Praktek semacam ini sungguh sulit di damaikan dengan logika, mengapa? Manusia beriman seharusnya semakin sadar bahwa ia diciptakan sebagai manusia. Maka seharusnya berpikir dan bertindak sebagai manusia.

Secara prinsip, Gereja Katolik percaya bahwa tidak ada pertentangan antara akal budi (reason) dan iman (faith), karena keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Tuhan.

Kalau sampai akal budi bertentangan dengan iman, maka bisa jadi manusia tidak menggunakan akal budinya atau tidak mempercayai iman yang ilahi.

Karena Tuhan tidak dapat mempertentangkan Diri-Nya sendiri, maka anugerah akal budi dan iman juga tidak mungkin saling bertentangan. Katekismus Gereja Katolik mengatakan :

Meskipun iman itu melebihi akal budi, namun tidak pernah bisa ada satu pertentangan yg sesungguhnya antara iman dan akal budi, karena Allah sama, yang mewahyukan rahasia-rahasia, dan mencurahkan iman, telah menempatkan di dalam roh manusia cahaya akal budi; tetapi Allah tidak dapat menyangkal Diri-Nya sendiri, dan tidak pernah yg benar bertentangan dengan yang benar” (KGK 159 – KV1 : DS 3017 )

Dalam surat-surat penggembalaannya Rasul Paulus menyatakan hal ini sampai tiga kali, yakni agar para pengajar menghindari sikap berlagak sok tahu dalam hal apapun, karena hal ini merupakan puncak kebodohan.

Menurut Rasul Paulus, sikap sok tahu itu didasari oleh karakter seseorang yang bodoh, angkuh, serta tidak memiliki gambar diri yang benar.

“Ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya adalah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokkan antara orang-orang yg tidak lagi berpikiran sehat” (1Tim 6:4-5)

Dalam ilmu jiwa atau Psychology, sikap berlagak sok-sokan ini merupakan salah satu penyakit kejiwaan yang biasa disebut “Snob Syndrome”,.

Fenomena kejiwaan yang error ini terlihat saat seseorang merasa dirinya lebih dari kenyataan sebenarnya, seperti :

  • Tahu sedikit, tapi merasa tahu banyak
  • Belum tahu tapi merasa sdh tahu.
  • Tidak menyadari atau mengakui ketidak- tahuannya.
  • Ingin dianggap tahu pinter/paham.
  • Pengetahuannya sedikit/terbatas, wawasan berpikirnya sempit/dangkal, mindset berpikirnya keliru.

Oleh sebab itu, marilah kita bicara hanya untuk hal-hal yang benar-benar kita pahami, walaupun itu cuma sedikit.

Dengan kata lain, jika kita tidak mengerti atau paham akan sesuatu hal, maka cobalah belajar bersikap sedikit rendah hati dengan:

1. Bertanya kepada yang lebih tahu

2. Banyak membaca artikel / buku yg relevan

BTL

Leave a Reply

Your email address will not be published.