Minggu Biasa II –Tahun C/II Minggu, 16 Januari 2022
oleh P SP Bambang Ponco Santosa, SJ.

Kitab Suci hari Minggu ini sungguh bagus dan penuh makna. Bacaan I, (Yes.2: 1-5) menggambarkan betapa besar kasih Allah kepada manusia bagaikan kasih suami kepada isterinya.
Dalam Bacaan II (2Kor.12: 4-11) Paulus menekankan, bahwa kita semua diberi “rupa-rupa karunia, tetapi hanya ada satu Roh”, “rupa-rupa pelayanan, tetapi hanya ada satu Tuhan”, dan semua itu “untuk kepentingan bersama”.
Dan dalam Injilnya (Yoh.2: 1-11) Yohanes mau menunjukkan bahwa apa yang terjadi dalam perkawinan di Kana, adalah suatu gambaran tentang komunitas kristiani ideal, karena Yesus dan Maria hadir dan berperan di dalamnya.

Perkawinan adalah suatu peristiwa penting dalam hidup manusia. Di situlah terungkap hubungan kasih paling mendalam di antara duamanusia, suami dan isteri. Sikap Allah terhadap Israel, umat terpilih-Nya, diumpamakan sebagai sikap kasih suami terhadap isterinya.
Dan dalam Injil hari ini Yohanes ingin menunjukkan kepada kita, bahwa pesta perkawinan di Kana yang diceriterakannya sungguh membahagiakan dan terberkati. Yesus dan Maria bahkan murid-murid-Nya pun ikut hadir.

Perkawinan begitu dihargai oleh Gereja, bahkan diangkat menjadi sakramen. Dengan demikian perkawinan dihubungkan dengan Allah, yakni dalam hubungannya melalui Yesus Kristus. Dengan latar belakang ini, di dalam cerita tentang perkawinan di Kana itu ditunjukkan peranan dua orang tokoh penting yang harus hadir dalam setiap komunitas umat kristiani yaitu Yesus dan Maria.
Maria hadir dalam perkawinan itu. “Ketika mereka kekurangan anggur, Ibu Yesus berkata kepada-Nya: ‘Mereka kehabisan anggur.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Mau apakah engkau dari padaKu, Ibu? SaatKu belum tiba.’ Tetapi Ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan:‘Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu.’”(Yoh.2: 3-5).

Ia mohon Yesus puteranya untuk menolong dan menggembirakan hati orang-orang yang hadir. Meskipun tidak secara langsung, permohonannya akhirnya dikabulkan-Nya juga. Di sini sungguh tampak kepekaan kasih keibuan Maria dalam menghadapi situasi krisis. Yesus juga hadir dalam pesta perkawinan itu secara nyata untuk menggembirakan suasana perkawinan itu.

Yesus memperlihatkan kebapaan dan kepemimpinan-Nya yang sejati. Yesus menghormati setiap orang. Di mana usaha seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhannya, di situlah Ia tampil, bukan supaya diri-Nya dipuji orang, melainkan agar orang itu dapat ikut merasakan betapa besar kasih Allah kepadanya.

Betapa indah dan bahagia setiap perkawinan, keluarga dan komunitas apapun, apabila Maria dan Yesus dapat ikut hadir di dalamnya. Bila setiap orang dalam hidupnya bersama dengan orang-orang lain seperti ditunjukkan Yesus dan Maria dalam kehadiran mereka dalam perkawinan di Kana, maka ia sungguh akan merasakan kegembiraan kristiani sejati. Semoga segenap hidup perkawinan di dalam setiap keluarga, dan segenap hidup bersama dalam setiap komunitas apapun, terciptalah suasana riang gembira berkat kehadiran kebapaan, keibuan dan kekeluargaan Yesus dan Maria, seperti dalam perkawinan di Kana.

Leave a Reply

Your email address will not be published.