Who's New

Jovay
m3n1ck
doni
antonius eka
vina
huller_bastian
pesonamml
Santoso
oLendo kwok
domingos neves
Erwin S.
Coco

Sepeda Hias

DmZ's picture

Sepulang sekolah Iman Bergegas ke kamar dan mengganti pakaian seragamnya. Ia mengeluarkan kantong kresek dari dalam tas sekolah dan berlari ke garasi mengambil sepeda kesayangannya. Iman ke belakang rumah dan meletakkan sepedanya di bawah pohon mangga yang rindang. Tikar plastik kecil ditebarkan dan ia mengeluarkan seluruh isi dari kantong kresek. Kertas warna-warni mulai digunting, dibentuk, diamat-amati, kemudian disambung dengan lem. Raut mukanya yang mungil begitu serius dan jari-jemarinya yang kecil terus bekerja menggunting, melipat dan seterusnya. Sesekali terlihat bibirnya tersenyum, keningnya mengkerut dan tanganya bertolak pinggang sambil memperhatikan hasil karyanya dari kertas-kertas warna. Kemudian Iman berdiri “selesai sudah, kini tinggal menghias sepeda!”

Melihat Iman berdiri ibu yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan segera mendekat dan bertanya “untuk apa kertas warna-warni ini Iman...?” Iman memandang ibu dan tersenyum “untuk menghias sepeda bu, besok pagi di RT kita ada acara sepeda gembira untuk memperingati hari kemerdekaan RI, semua anak yang punya sepeda diharapkan ikut dan menghiasnya sebagus mungkin...” Ibu tersenyum bangga melihat usaha Iman, sambil mengusap kepala Iman ibu berkata “Bagaimana kalau kita makan siang dulu nanti dilanjutkan lagi dan ibu akan ikut menemanimu...” Iman membusungkan perutnya “baiklah bu, perut Iman juga sudah keroncongan, nih dengar bu kruyuk...kruyuk....” Iman dan ibu tertawa sambil melangkah dengan cepar menuju ruang makan.

Sehabis makan siang Iman kembali menghias sepedanya, kali ini ditemani ibu. Sambil duduk di tikar sesekali ibu membantu mengulurukan lem, kertas warna ataupun gunting kepada Iman. “Horeeee...akhirnya selesai juga!” teriak Iman. Ibu dan Iman bertepuk tangan dan tertawa, kemudian menyimpan sepeda itu ke garasi. “Daaaag....sampai jumpa besok sepeda...!” Iman melambaikan tangan.

Pagi hari tepat pukul 06.00 di lapangan tak jauh dari rumah Iman telah berkumpul anak-anak dengan sepeda hiasnya termasuk Iman. terdengar pengumuman melalui pengeras suara bahwa sepeda gembira akan segera imulai. Terlihat wajah-wajah gembira dengan mata berbinar dan senyum manis di bibir. Saat sedang bersiap-siap mata Iman tertahan pada sesosok tubuh mungil yang berdiri dibawah pohon. Sambil mengigit jari dan mata berkaca-kaca ia memperhatikan anak-anak yang telah siap diatas sepeda masing-masing. Dimatanya ada sorot sedih seakan ingin ikut. Iman tidak mengenal anak itu tapi ia segera turun dari sepeda dan mendekatinya. Anak itu mundur selangkah “Hai...siapa namamu,kamu anak baru ya...?” sapa Iman sambil tersenyum. Iman menjabat tangannya “namaku Iman...” Anak itu sedikit tersenyum “aku Dewa, baru 2 hari yang lalu aku pindah ke sini...” Iman memegang tangan Dewa “ikut bersepeda yuk...!” Dewa secepat kilat menolak “tidak...aku tidak punya sepeda...” Iman menarik tangan Dewa sambil berlari kecil “tidak apa, kamu bonceng disepedaku saja..., aku kuat kok coba lihat nih betisku besar kaya singkong ha..ha..ha..” Akhirnya Dewa ikut berlari kecil menuju sepeda Iman. Mata Dewa yang semula berkaca-kaca jadi berbinar gembira. Sesaat kemudian perjalanan sepeda gembira dimulai. Terdengar gelak tawa di sepanjang jalan. Semua senang, gembira, tak terkecuali Iman dan Dewa. Iman begitu bahagia karena bisa membuat Dewa tertawa. Dewa juga sangat senang karena punya teman baru dan bisa ikut sepeda gembira.

Satu jam kemudian peserta telah berkumpul kembali di lapangan. Dewa dan Iman duduk di atas rumput sambil melepas lelah, tiba-tiba Dewa berucap dengan suara penuh kegembiraan “terima kasih atas kebaikanmu Iman...” Sambil tersenyum Iman mengangguk, lalu mengajak Dewa untuk mengikuti perlombaan yang lain. (Kir : Ibu Theresia)