Who's New

Jovay
m3n1ck
doni
antonius eka
vina
huller_bastian
pesonamml
Santoso
oLendo kwok
domingos neves
Erwin S.
Coco

KAWIN CAMPUR

edi's picture

Romo Edi, sebelumnya salam kenal..maaf bila mengganggu..saya umat di paroki gereja Santa Maria Tangerang. ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan :

  1. Bagaimana pandangan gereja Katolik tentang menikah beda agama?
  2. Sebenarnya bila pasangan pengantin menikah di Gereja Katolik, tetapi salah satu pasangannya bukan Katolik, melainkan Kristen Protestan, apakah mereka menerima pemberkatan seperti halnya pasangan Katolik atau hanya didoakan saja? Apakah dia juga menerima sakramen perkawinan?
  3. Biasanya berapa lama pasangan harus mengikuti kursus pernikahan sebelum menikah?
  4. Sebenarnya saya saat ini sedang berpacaran dengan seseorang yg beragama Kristen Protestan..dari awal berpacaran saya sudah berniat utk tidak main2, saya benar2 berniat utk mencari pasangan hidup sama halnya seperti pacar saya. Kami juga menyadari perbedaan agama kami, dan pada saat itu kami tdk terlalu mempermasalahkannya, mungkin krn agama Katolik dan Kristen tdk terlalu berbeda seperti Katolik dgn Islam misalnya. Dan selama ini sudah hampir 3 thn berpacaran, kami memang jarang berselisih, kami selalu mencoba jujur, terbuka, percaya dan membicarakan segala hal dengan bersama-sama. Kami memang belum berencana utk menikah saat2 ini, tetapi kami sadar kami hrs merencanakannya, dan setiap kami membicarakan utk menikah pasti tidak menemukan keputusannya. Pacar saya sendiri sangat aktif di gerejanya, saya tidak keberatan dengan dia aktif di gerejanya krn menurut saya pelayanan yg dia lakukan memang baik, satu hal yg juga membuat saya mau mendekati dia dulu sebelum pacaran ialah krn dia tidak terlalu fanatik. Pacar saya ingin menikah di gerejanya waktu kecil dan diiringi oleh teman2nya ke depan pendeta dan mendapat berkat dari gereja, pacar saya juga bilang kalau setelah menikah dia tdk akan memaksa saya utk ikut ke gerejanya, dia hanya ingin menikah di gerejanya saja. jujur saja Romo, saya sendiri sebenarnya tidak keberatan, saya rela menikah di gerejanya, tetapi masalahnya bila ingin diberkati di gerejanya saya harus dibaptis lagi. Sedangkan saya tidak mau dibaptis Kristen, karena saya takut nanti setelah saya dibaptis Kristen saya tidak pantas lagi untuk datang mengikuti Ekaristi di Gereja Katolik. Menurut Romo bagaimana saya menyingkapi masalah ini? saya tidak ingin putus dengan pacar saya, karena saya sangat menyayangi pacar saya.
    Saya sangat mengharapkan bantuan nasehat dari Romo...

Tertanda: Henry (nama disamarkan)

Henry yang baik,

Pertama-tama proficiat bahwa kamu sudah mendapatkan sahabat dekat yang kau jajagi kemungkinannya untuk menjadi pasangan hidupmu. Saya akan langsung menjawab pertanyaanmu dan menanggapi cerita hidupmu sebagaimana kamu minta.

  1. Pandangan Gereja Katolik tentang PERNIKAHAN BEDA AGAMA: Pernikahan beda agama bukanlah pernikahan ideal karena bagi Gereja Katolik pernikahan adalah sakramen atau sarana dan tanda keselamatan Allah atas umatNya satu sama lain, sementara pernikahan beda agama bukan merupakan sakramen. Mengapa pernikahan beda agama bukan sakramen? Karena keselamatan ada dalam Gereja Katolik yang dilaksanakan Kristus sebagai Kepala Gereja Katolik, sementara orang beragama lain tidak memiliki iman seperti ini. Bahkan dalam situasi tertentu, perkawinan beda agama dapat membuat orang beriman katolik berada dalam keadaan dibahayakan imannya, misalnya karena kepicikan atau fanatiknya pasangan yang tidak beragama katolik itu. Oleh karena itu, demi amannya iman warga Gereja Katolik, pernikahan katolik yang sah (secara bebas, di depan imam dan dua saksi melalui proses secara hukum Gereja) harus mendapatkan ijin dari Uskupnya. Dalam praktek, pastor paroki akan membantu memintakan ijin asal terjamin keamanan iman pihak Katolik. Ijin ini merupakan kemurahan Gereja Katolik, maka dapat diberikan, dapat pula tidak diberikan. Tergantung pada penilaian mengenai keamanan iman katolik pihak katolik.
  2. Pernikahan orang Katolik dengan orang Protestan yang baptisannya sah dan diterima oleh Gereja Katolik disebut PERNIKAHAN BEDA GEREJA. Pernikahan beda Gereja yang sah bagi seorang katolik adalah bila melalui proses hukum Gereja yang sah (praktisnya diproses oleh pastor Katolik), dengan mendapatkan ijin dari uskup, dilaksanakan secara bebas di hadapan seorang imam dan dua saksi. Pernikahan beda Gereja yang sah adalah sakramen karena dilaksanakan oleh dua orang yang dibaptis secara sah, keduanya sama-sama mengakui pernikahan sebagai sarana dan tanda keselamatan yang dikerjakan Allah melalui masing-masing orang itu satu sama lain. Keduanya sama-sama mempercayai bahwa keselamatan manusia dikerjakan oleh Kristus sebagai Kepala Gereja universal (Katolik artinya sama dengan Universal). Jadi kalau Henry melaksanakan perkawinan beda Gereja seperti dijelaskan di atas, maka perkawinan di Gereja Katolik itu bukan hanya pemberkatan, tetapi perkawinan sebagai Sakramen. Harus diingat bahwa yang melaksanakan perkawinan adalah Henry dan pasangan Henry, bukan pastor. Pastor berfungsi sebagai saksi resmi yang utama, peneguh dan memohonkan berkat (mendoakan) bagi pasangan. Seringkali orang salah paham, dikiranya imam yang memberikan sakramen perkawinan. Itu salah. Yang benar adalah bahwa orang yang menikahlah yang saling menerimakan sakramen pernikahan.
  3. Kursus perkawinan di satu tempat dan tempat lain berbeda jangka waktunya. Umumnya seperti di Gereja St Maria yaitu satu setengah hari: mulai dari jam 17.30 s.d 21.30 hari jumat, dilanjutkan hari berikutnya yaitu Sabtu jam 08.00-17.00. Setelah mengikuti kursus, peserta (agama apapun) akan mendapatkan sertifikat kursus, sebagai tanda bukti bahwa dia sudah mempersiapkan diri untuk pernikahannya. Tanda bukti ini perlu difotokopy dan dibawam fotocopyannya ketika pasangan menghadap pastor paroki untuk memulai proses mengurus pernikahan sesuai hukum Gereja.
  4. Henry, menyayangi sesuatu atau seseorang boleh-boleh saja, tetapi jangan sampai memberhalakan atau memutlakkannya sampai menggantikan Allah, seolah-olah tanpa sesuatu atau seseorang itu lalu hidup tidak berarti atau hidup menjadi lebih buruk. Baik bahwa kamu sudah memperhatikan kecenderungan kamu untuk memilih pacarmu itu, tetapi cara terbaik mengambil keputusan justru dengan mengambil jarak (ini tidak sama dengan berpisah) terhadap pacarmu, sehingga keputusan obyektif. Keputusan yang baik bukan didasarkan pada emosi atau rasa cinta manusiawi belaka, tetapi didasarkan pada penilaian obyektif bahwa keputusan itu merupakan jalan terbaik mencapai tujuan kamu diciptakan yaitu mencintai Allah sebagai satu-satunya yang paling ditaati dan mencintai sesama yang juga mengasihi Allah dan kebenaranNya. Bagi orang yang sungguh Katolik, Gereja Katolik adalah jalan keselamatan sejati yang didirikan Tuhan Jesus Kristus, sehingga selain tidak akan meninggalkan Allah Tritunggal, orang Katolik juga pasti tidak mau meninggalkan Gereja Katolik. Dan Karena Gereja Katolik diyakini sebagai jalan sejati keselamatan yang dikehendaki Jesus sejak semula (bukan agama lain atau Gereja Protestan yang terpecah belah menjadi ribuan), maka orang katolik sejati akan mendidik anak-anaknya secara katolik. Masalahnya: apakah perkawinan dengan seorang protestan yang aktif memungkinkan kamu setia pada Gereja Kristus yang sejati dan memungkinkan kamu memberikan yang terbaik pada anak-anakmu, karena dua hal ini adalah kewajiban yang perlu kamu janjikan pada Allah dan Gereja Katolik? Untuk menjawab masalah ini, kamu harus membicarakan dengan pihak protestan. Seringkali bukan hanya dengan pacarmu, tapi juga dengan kerabatnya. Saya beritahu satu rahasia penting. Gereja Katolik amat baik bersikap terhadap orang dari Gereja Protestan, tetapi sikap yang baik ini TIDAK SELALU diimbangi sikap yang baik dari pihak Gereja Protestan. Sikap baiknya bagaimana? Para pemeluk Gereja Protestan dipandang oleh Gereja Katolik saudara-saudari dalam Kristus karena pembaptisannya diakui sebagai sah oleh Gereja Katolik (asal rumusan serupa dengan Katolik), sehingga KALAU dia berpindah menjadi anggota Gereja Katolik, orang itu TIDAK PERLU DIBAPTIS KEMBALI. Tetapi, banyak Gereja Protestan tidak menganggap orang Katolik dan Gereja Katolik sebagai pengikut Kristus dan Gereja Kristus sejati (ada yang menyebut anti Kristus, tidak mengikuti Kristus) dan oleh karena itu TIDAK MENGAKUI BAPTISAN KATOLIK. Tampaknya pacarmu termasuk dalam Gereja Protestan yang tidak mengakui baptisan katolik, sehingga kalau kamu menikah di Gerejanya, kamu harus dibaptis dalam gerejanya. Ini sebenarnya sudah menunjukkan bahwa ada benih permusuhan (kadang ini tersembunyi atau tidak diperlihatkan demi menarik orang Katolik menjadi anggota Gereja Protestan), dan perlu dibicarakan dengan mendalam dan terbuka kepada pacarmu (syukur kalau dia tidak fanatic, sehingga kemungkinan besar akan menerima saran saya). Saran saya: kalau kamu sudah mantab tetap mau menikah dengan dia atau orang protestan lain karena kamu yakini menjadi jalan yang lebih membantu mencapai tujuan kamu diciptakan Tuhan, upayakan agar kamu menikah di Gereja Katolik saja sehingga kamu tidak perlu dibaptis menjadi orang protestan dan dia juga tidak harus dibaptis menjadi orang katolik (Pacarmu tetap boleh jadi orang Protestan, Gereja Katolik hanya mau menerima anggota yang sungguh-sungguh sukarela dan melalui proses katekumen, seperti dialami oleh Tony Blair mantan Perdana Mentri Inggris tahun lalu). Perkawinanmu dengan dia yang protestan bagi Gereja Katolik juga bukan perkawinan ideal, rawan percekcokan di kemudian hari, terutama menyangkut bagaiaman anak dididik nanti (Gereja Katolik menghendaki anak-anak dididik secara katolik oleh Richard, dan ini akan menjadi kesulitan). Percekcokan belum terjadi selama pacaran karena pacaran berarti hubungan dua pihak belaka, sementara perkawinan adalah hubungan berbagai pihak, yaitu kamu dengan Allah dan Gerejanya, serta kamu dengan istri, anak, kerabat. Kalau pacarmu bersedia menikah di Gereja Katolik, maka setelah kursus perkawinan diajak menghadap pastor untuk melakukan proses secara hukum Gereja sebelum perkawinan di Gereja. Ketika menikah dilakukan di Gereja Katolik, pacarmu tetap bisa mengajak teman-teman dan kerabatnya, mereka boleh ikut menari dan menyanyi pada saat yang tepat, pendetanya boleh berkotbah untuknya dan mendoakannya, setelah imam memimpin janji perkawinan dan memberkati kalian.
  5. Saran lain kalau sudah kamu ambil keputusan untuk menikah dengan pacarmu: kamu mengajak dia untuk lebih mengerti Gereja Katolik, termasuk membaca buku katolik dan menghadiri perayaan di Gereja Katolik; demikian juga kamu mencoba memahami Gereja yang dianut dia, sekedar untuk memahami. Memang Ekaristi sebagai perjamuan yang diadakan Tuhan atau ibadat ilahi (diwakili imam) hanya ada di Gereja Katolik. Di Gereja lain hanya ada kebaktian, upacara manusia, atau kalau di Gereja katolik setara dengan ibadat sabda, doa karismatik, doa jalan salib, rosario. Ekaristi dikehendaki oleh Tuhan, dicerminkan secara mendalam dalam Kitab Wahyu sebagai ibadah ilahi bersama para malaikat (perhatikan doa syukur Agung). Karena itu, sekarang banyak penginjil protestan Gereja Evangelis, Presbitarian, Anglikan yang berpindah ke Gereja Katolik. Mereka yang cerdas ini mengungkapkan imannya dalam buku ROME SWEET HOME (oleh Scott Hahn dan Kimberly Hahn) atau MENGAPA SAYA BERPINDAH KE KATOLIK (oleh David B Currie). Kalau gak punya uang, cobalah mampir toko buku Gramedia, baca buku itu di sana. Kalau punya uang, bisa baca buku itu dan merenungkan kekayaan ROHANI Gereja Katolik. Ini akan membantu kamu mengasihi Gerejamu, tidak secara membabi buta, tetapi dengan lebih rasional dan spiritual.

Semoga semua jawaban saya membantu kamu berjalan di jalan Tuhan selalu. Tuhan memberkati. Salam untuk pacarmu.

Comments

myony's picture

Romo Edi salam

Romo Edi salam kenal,

Langsung aja ya Mo. Saya punya pacar beragama budha, kami sdh jln 9th (putus-nyambung gitu deh). Kami berencana utk menikah. Saya sich pengen sekali kami bisa menikah & diberkati secara katholik (meskipun dia beda). Dia sendiri jg tdk keberatan menikah scr katholik. Perlu Romo ketahui, Dia sudah pernah 3 kali gagal dlm pernikahan, semuanya pisah  tanpa ada surat cerai krn semua pernikahnnya tdk ada yg terdaftar dicatatan sipil. Dia sendiri jg bilang tdk mau pernikahannya kali ini gagal lagi, kami berdua berharap ini adalah pernikahan terakhir buat kami berdua. Orang tua kami pun tdk ada yang menghalangi (sdh merestui). Tapi yg menjd halangan & pertanyaan buat saya adalah :1>Apakah kami diijinkan menikah & diberkati scr katholik, sementara saya tdk ingin meninggalkan agama saya. Saya ingin pernikahan saya ini sah scr agama dan terdaftar scr hukum(catatan sipil). Apakah ada dispensasinya untuk kasus saya ini. Sampai sejauh ini kami sudah saling terbuka dan menerima kekurangan kami masing2. 2>Dengan statusnya yang seperti itu (tdk ada surat cerai) apakah kami masih boleh menikah scr katholik?

Romo tolong kasih saya solusinya?

ovie's picture

pengen menikah secara katholik

Halo....  iku nimbrung yah......kebetulan topik ini berhubungan dengan aku nih

saya sudah lama ( dari sejak kecil) menjadi simpatisan katholik dan baru tahun ini berani ambil keputusan untuk dibaptis secara katholik dan sekarang juga sedang menjalani proses katekisasi di salah satu paroki di Jakarta untuk nanti kalo lancar dibaptis Desember 2009 ini

 

Kebetulan saya sudah lama berpacaran dengan orang katholik juga dan hiubungan kami tidak ada halangan dari kedua belah pihak keluarga, bahkan kami berencana untuk menikah tahun 2010  setelah saya resmi dibaptis katholik

 Pertanyaan saya Romo, karena ternyata kursus perkawinan itu jadwal-nya hanya pada bulan bulan tertentu, :

(1) bolehkah pada saat yg bersamaan saya saat ini sedang menjalani katekisasi menjadi katholik apakah saya boleh saya ikut kursus pernikahan katholik ?

(2) Atau haruskah saya menunggu dibaptis resmi sebagai orang katholik  terlebih dahulu ?

Sebab saya ingin sekali saya saat menikah nanti bisa terima  sakaramen pernikahan dan bukan sekedar pemberkatan pernikahan.....

Mohon saran dan penjelasannya ya romo .......