Hengkang dari Katolik mendapat Hidayah..?
Dear Rm. Edi Mulyono, SJ yang saya hormati,
Sebenarnya sudah lama saya ingin menanyakan hal ini kepada romo. Romo, saya ingin menanyakan tentang keadaan masyarakat kita pada khususnya; kenapa sih jika seseorang berpindah keyakinan dari agama Katolik (atau agama lain) ke agama mayoritas di Indonesia, disebut mendapatkan Hidayah? Setahu saya Hidayah itu berarti mendapat pencerahan atau dengan kata lain telah disadarkan/sadar dari pandangannya yang dianggap ‘salah”. Sehingga memberi kesan seolah-olah penganut agama yang bukan penganut agama mayoritas tersebut dianggap belum sadar atau telah salah pandangan/keyakinan selama dia masih menganutnya. Menurut romo, apa sih Hidayah itu..?, apa makna Hidayah itu sendiri bagi romo..? Dan bagaimana Gereja Katolik memandang “fenomena” ini..? Jujur padahal selama saya menjadi penganut Katolik tidak ada secuil pun hal yang saya anggap menyimpang, aneh, brutal, kolot, melanggar hukum, norma-norma kehidupan manusia, atau hal buruk lainnya..? mengapa demikian..? Sedikit ‘buka-buka-an’ kepada romo, waktu kuliah dulu saya pernah berhubungan (pacaran) dengan seorang wanita yang beragama mayoritas di Indonesia, waktu itu saya sedikit di ‘paksa’ dengan ajaran agamanya tersebut, berulang kali dia berusaha menunjukan beberapa ‘kebaikan-kebaikan’ yang dimiliki oleh agamanya, sistemnya, bahkan saya pernah di pertemukan dengan seorang pemuka agamanya yang luar biasa hebatnya dalam berdebat soal agama, waktu itu saya akui memang pengetahuan saya tentang Katolik sangat minim, karena memang saya belum disentuh-Nya, sehingga saya hanya diam saja ketika di ‘cuci-otak’ secara besar-besaran. Pemuka agama tersebut dengan gigihnya memberikan masukan-masukan tentang agamanya tersebut. Kembali ke pertanyaan awal, mengapa harus ada istilah “Mendapatkan Hidayah” dalam memeluk agama tertentu (dalam hal ini pindah ke agama tersebut), jika memang pada kenyataannya sama saja (setiap agama mengajarkan yang baik-baik dan positif bukan..?). Sebelumnya terima kasih kepada Rm. Edi pada khususnya dan pada teman-teman yang akan memberikan mindset (konsep berpikir) nya dalam menanggapi topik ini. Dan mohon dimaklumi bila ada salah struktur penulisan. (Samuel)
Sebelumnya saya sangat setuju dengan pendapat Romo Edy.
saya sendiri pernah mengalami hal yang sama dengan apa yg di alami oleh bro Samuel tapi tidak persis, pada waktu itu kami masih dalam taraf pacaran dengan istri saya yg sekarang, pada waktu itu dia statusnya adalah katolik yang pindah ke protestan (gereja lain) pada saat itu kediamannya malah di jadikan gereja tempat peribadatan, pada saat itu saya kenal dengan "pemimpin" gerejanya. beliau mengatakan kepada pacar saya bahwa intinya dia harus berhati2 dalam berhubungan dengan saya karena saya masih dalam dunia kegelapan (maksudnya saya tidak seiman dengan mereka), hal ini saya ketahui dari pengakuan pacar saya sendiri.dengan berbagai cara dan alasan mereka selalu merayu saya untuk bergabung dengan mereka.
entah mengapa ada dorongan kuat dala hati untuk membuktikan bahwa apa yg di ucapkan oleh "pemimpin" gereja tersebut adalah salah besar. setelah itu saya banyak berdoa kepada Bunda Maria, dan semakin mendekatkan diri kepada Dia, dalam doa selalu saya ucapkan "Tuhan Engkau yg lebih tau dari siapapun". dan pada akhirnya Tuhan tunjukan semua kepada pacar saya itu siapa dan apa yg benar. kini gerejanya bubar, anggotanya terpecah2 dan mendirikan gereja sendiri2 karena konflik yg terjadi didalam diri mereka sendiri. dan kini pacar saya tersebut sudah mendapat "Hidayah" untuk kembali kepada gereja katolik yg kudus dan apostolik dan menjadi istri tercinta saya hingga kini (amin) hingga di karuniai anak yg cantik.
yg menjadi ganjalan dalam hati saya adalah : saya tidak habis fikir mengapa mereka bersikap seperti itu kepada sesama pengikut Kristus..?bukankah justru saudara2 kita yg belum mengenal Kristus yg harus di selamatkan...?
Hidayah hanyalah sebuah kalimat saja, yang sering dugunakan oleh saudara2 muslim. Dan bagi sebagian muslim yang masih belum cukup luas pandangannya, bisa mengartikan kalimat itu dalam makna yang sangat sempit. Maka kita sering merasa "tersindir" oleh pengertian-pengertian yang diucapkan oleh beberapa orang muslim tersebut .
Namun seperti kata romo, sebagai umat katolik, yang telah kita yakini Kristus sebagai satu-satunya pintu keselamatan, jalan kebenaran dan hidup, roti kehidupan, dan Allah dalam rupa manusia, maka kita dapat memaknai dalam sudut pandang iman Katolik, dengan menempatkan Kristus sebagai sumber hidayah. Mengenal Kristus lebih dekat, membawa kita pada hidayah yang sesungguhnya...Nah masalahnya adalah,maukan kita mengenal Dia lebih dekat? i mean lebih dari sekedar tahu bahwa dia itu guru dan Tuhan....:)
Kata hidayah bisa saja kita padankan dengan bertobat / insyaf / kembali kejalan yang benar dll. Maka, semua anggapan miring seperti ditanyakan oleh bro samuel bisa terjawab dan menjadikan kita lebih dewasa mengimani Kristus dan menjadikan Dia sebagai satu-satunya sumber hidayah bagi kita umat katolik.
I Love Jesus Christ...
Terima kasih atas jawaban Rm. Edi dan teman-teman (The_Amazing_Renno & ribew) yang telah memberi pandangannya. Itu makanya saya heran sekali (dari dulu) kenapa ada istilah untuk penganut agama diluar agama tersebut yang dikatakan "Belum Mendapat Hidayah". Padahal Hidayah itu sendiri berbanding lurus artinya dengan : "Kembali ke jalan yang benar yang di-ridhoi-Nya". "Nya" disini khan berarti sang pencipta kita juga.. weleh2x.. seperti kata bro ribew, istilah "Hidayah" tersebut dipelintir sedemikian rupa oleh orang-orang yang berpikiran sempit sehingga menciptakan paradigma baru dalam masyarakat kita : bahwa orang-orang yang bukan penganut agama mayoritas tersebut belum mendapatkan hidayah-Nya.. So, percaya aja deh sama Jesus Christ..! amin..
Maaf sebelumnya...
Perkenalkan, nama saya Iyan..kebetulan saya sempat membaca artikel yang tertera diatas, kebetulan saya adalah salah satu orang penganut agama yang mayoritas tersebut.
Saya sangat senang telah membaca artikel diatas, banyak sebuah informasi yang dapat saya ambil, saya hanya ingin meluruskan saja sebuah makna dari kata Hidayah.
Kata hidayah merupakan salah satu kata yg sangat populer ditelinga kita. hingga dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya belum memakai jilbab, karena belum dapat hidayah … ”
“Ya ALLOH, berikan kami taufik dan hidayah…”
“Hatinya sudah tidak bisa menerima hidayah”
*dan masih banyak contoh penggunaan hidayah dalam kehidupan sehari-hari*
Sebenarnya apakah hidayah itu
Jika merujuk dari bahasa Arab, hidayah mempunyai arti karunia atau hadiah. Apabila konteks hidayah digunakan di Islam, hidayah mempunyai pengertian petunjuk atau bimbingan dari ALLOH SWT. Bisa juga dikatakan ‘pencerahan’.
“HIDAYAH ITU MESTI DICARI, MESKI KADANG DIA MENGHAMPIRI”
Maksud dari kalimat di atas adalah, untuk mendapatkan pencerahan, seseorang mestilah mencarinya. Namun kadangkala pencerahan itu datang seketika, tanpa diundang dan tidak disangka.
Sebagai ilustrasi, saya berikan 2 contoh:
Hidayah yg mesti dicari:
Nabi Ibrahim as, sebelum menemukan siapa Tuhan yg sesungguhnya (ALLOH SWT), beliau melakukan pencarian yg tidak kenal lelah. Beliau sempat berpikir, bahwa bintang, bulan, dan matahari adalah Tuhannya, sebelum beliau mendapatkan pencerahan, bahwa hanya ALLOH SWT yg palilng pantas dan layak menjadi Tuhan dari semua yg ada di bawah langit dan bumi. seperti Nabi Ibrahim as. Merenung, berpikir (bedakan kedua hal tersebut dg melamun), kemudian bergaul dg orang2 yg memang membuat kita bisa mendapatkan hidayah tersebut.
Hidayah yg datang tiba-tiba/tidak diperkirakan sebelumnya:
Seorang penjahat kambuhan (residivis) yg telah sekian tahun menjadi momok dan biang kerok di kampungnya, tiba-tiba bertobat dan menjadi seseorang yg alim, rajin beribadah, dan menjadi orang yg berguna di masyarakatnya. Saat ditanya apa penyebab/alasannya, si residivis mengatakan bahwa hatinya mendadak ‘tersentuh’ saat mendengar adzan subuh.
Tapi, sekali lagi, jika ALLOH SWT sudah menetapkan, manusia mana yg bisa menolak?
mungkin seperti itu makna dan arti dari kata HIDAYAH.
Sebelumnya saya minta maaf, karena bukan maksud saya terlalu lancang dalam hal seperti ini. Saya hanya bermaksud untuk meluruskan saja. sekali lagi apabila ada kata-kata yang kurang berkenan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya
Salam buat temen-teman sekalian dan juga Romo.




Sdr Samuel yang baik, kata hidayah itu berasal dari bahasa Arab yaitu “Ihdi” berarti “pimpinlah, tunjukilah, beri hidayahlah”. Orang Katolik jarang sekali menggunakan istilah ini. Yang sering menggunakan adalah orang Islam. Saya tidak tahu bahasa Arab dan tidak beragama Islam, jadi saya mencari informasi dari website dimana ada keterangan dari orang Islam sendiri. Demikianlah keterangan yang dapat kita unduh dari : klick sini
Menurut artikel itu, arti “hidayah” ialah menunjukkan sesuatu jalan atau cara yang mengantarkan orang kepada yang ditujunya, dengan baik. Oleh karena itu, ada macam-macam hidayah yang telah diberikan Allah kepada manusia antara lain hidayah naluri, hidayah panca indra, hidayah akal pikiran dan hidayah agama.
a. Hidayah Naluri (gharizah). Manusia begitu juga binatang dilengkapi oleh Allah dengan bermacam-macam sifat, yang timbulnya bukanlah dari pelajaran, bukan pula dari pengalaman, melainkan telah dibawanya dari kandungan ibunya. Sifat-sifat ini namanya “naluri”. Dalam bahasa arab disebut “gharizah”. Suatu misal, naluri “ingin memelihara diri” (mempertahankan hidup).
b. Hidayah Pancaindera. Karena gharizah sifatnya belum pasti maka ia belum cukup untuk dijadikan hidayah bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Sebab itu oleh Allah ta’ala manusia dilengkapi lagi dengan panca indera. Panca indera amat besar harganya terhadap pertumbuhan akal dan fikiran manusia.
c. Hidayah Akal (fikiran). Dengan akal, dapatlah manusia menyalurkan gharizah ke arah yang baik, agar gharizah menjadi pokok bagi kebaikan. Dengan akal, dapatlah manusia membetulkan kesalahan-kesalahan panca inderanya, membedakan buruk dengan baik. Namun akal manusia belum juga memadai untuk membawanya kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Apalagi pendapat akal bisa bermacam-macam. Yang baik menurut fikiran si A belum tentu baik menurut pandangan si B. Maka untuk menyampaikan manusia kepada akidah tauhid yang murni, yang tidak dicampuri sedikitpun oleh kepercayaan-kepercayaan menyembah dan membesarkan selain Allah dan untuk membentangkan jalan yang benar yang akan ditempuhnya dalam perjalanannya mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, dan untuk jadi pedoman bagi hidupnya di dunia ini, manusia membutuhkan hidayah yang lain disamping hidayah-hidayah yang telah disebutkan itu. Maka didatangkanlah oleh Allah hidayah yang keempat yaitu “Agama” yang dibawa oleh para rasul as.
d. Hidayah Agama.
Oleh karena itu maka diutuslah oleh Allah rasul-rasul untuk membawa agama yang akan menunjukkan kepada manusia jalan yang harus mereka tempuh untuk kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.
<!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
<!--[endif]-->
Bagaimana orang katolik menanggapi hal ini? Kalau hidayah itu adalah suatu jalan yang dengan baik menghantar orang pada yang ditujunya, maka bagi orang katolik begitu jelas bahwa jalan itu adalah Jesús Kristus, yang mengakui diri sebagai “Jalan, Kebenaran dan Hidup.” Kenapa Jesús Kristus sebagai Jalan yang dengan baik menghantar orang pada yang ditujunya? Karena Dia kita akui sebagai pihak yang mengenal Allah yang disebut sebagai Bapa, sedangkan kita pada akhirnya mencari kebahagiaan sempurna dalam hidup kekal (benar kan, itu yang kamu cari dengan sibuk setiap hari ke sana kemari?), dan kebahagiaan sempurna hanya dapat ditemukan dalam hidup penuh cinta-kasih sebagaimana kita hayati dengan mengasihi Allah sepenuhnya serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Jesús Kristus adalah contoh sempurna untuk hidup dalam cinta-kasih itu, baik cinta pada Allah maupun pada sesama, karena dia sungguh mengenal Allah dan sungguh mengenal manusia. Sampai-sampai dikatakan dalam Injil Yohanes: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17:3). Mengenal pihak lain dengan sungguh-sungguh dalam kitab suci berarti juga mengasihi. Mengenal Allah ya mengasihi Allah, mengenal Jesús ya berarti mengasihi Jesús. Mengasihi Jesús berarti juga mengasihi sesama sebagaimana dia ajarkan, teristimewa orang yang miskin, kecil, lemah dan tersingkir. Kalau mengasihi pemimpin, tentu juga mengasihi anggota-anggota pimpinan itu, demikianlah orang Katolik diundang bukan hanya secara pribadi mengasihi Jesús Kristus sebagai Tuhan dan Allah sebagai Bapa kita, tetapi juga mengasihi keluarga besarnya, yaitu para anggota Gerejanya maupun orang-orang lain yang tidak melawan Gereja, teristimewa mereka yang miskin, kecil, lemah dan tersingkir.Mengapa Hidayah dalam diri Jesús Kristus itu penting? Karena manusia dari kodratnya dengan kemampuannya sendiri cenderung berdosa dan tidak bisa sampai pada Allah, sehingga membutuhkan jalan yang benar yang tidak menyesatkan, tetapi jalan benar yang membawa pada kehidupan penuh cinta-kasih di dunia dan kehidupan kekal dalam kebahagiaan sempurna. Jadi dibutuhkan pengantara yang sempurna, dan bagi orang Katolik itulah Jesús. Inilah Anak Allah (punya hubungan begitu erat dengan Allah, yang kita sebut Bapa), yang mengasihi sempurna Allah dan manusia, tidak bersalah (bahkan ini diakui oleh Pilatos yang menjatuhkan hukuman padanya dan oleh panglima Romawi yang menyalibkan dia). Jesuslah hidayah orang katolik, yang sesuai dengan akal sehat, pengalaman iman banyak orang, sesuai dengan yang dituliskan dalam kitab suci yang dibela dengan cinta-kasih, sampai banyak yang dibunuh karena memmbela iman (bukan membunuh untuk memmbela iman). Orang beragama lain punya hidayah sendiri, seperti diterangkan di atas. Mana yang benar? Masing-masing orang harus menentukan sendiri secara bertanggungjawab (menerima dengan segala resikonya) sebagai orang dewasa. Manakah jalan yang sungguh benar setelah melihat dan mempertimbangkan aneka jalan yang menyebut diri “benar”.