Tuhanku dipojokkan
ada sebuah artikel yang sangat menyinggung perasaan saya sebagai katolik romo, mohon saran agar saya lebih mencintai Yesus dan dapat membelaNYA.
APAKAH ARTIKEL YANG MEREKA BUAT BERDASARKAN ATAS PEMBENARAN AKAN BURUKNYA IMAN TERHADAP TUHAN MEREKA??
===========================
Kenyataan menunjukkan, meski Allah memerintahkan agar tidak menyembah Tuhan selain Allah, toh ummat Kristen menyembah 3 Tuhan, yaitu Tuhan Bapa (Allah), Tuhan Anak (Yesus) dan Roh Kudus, meski mereka dengan dalih Trinitas bersikeras bahwa yang 3 itu satu adanya.
Di Galatia dan banyak ayat lainnya, Paulus selalu menyatakan bahwa ada Tuhan Bapa dan Tuhan Anak serta Roh Kudus.
Mereka berusaha menggunakan dalih bahwa kunci yang terdiri dari lubang kunci dan anak kunci itu satu adanya, atau mobil itu terdiri dari ban, gas, mesin, tapi toh kesemua itu disebut mobil. Padahal jika kita berpikir, ban itu bukan mobil. Gas juga bukan mobil. Rem juga bukan mobil. Itu semua cuma bagian dari mobil. Jika berdiri sendiri, mereka tak bisa disebut mobil dan tak berguna.
Demikian juga dengan Tuhan versi Trinitas mereka. Jika Tuhan bisa dilepas-lepas seperti komponen barang, maka Allah sendiri bukan Tuhan. Cuma bagian dari Tuhan, dan tidak berdaya tanpa bagian lainnya. Yesus juga bukan Tuhan, karena tak berguna tanpa bagian lainnya.
Dalam Islam ditegaskan bahwa Tuhan itu cuma satu:
"Katakanlah Allah (Tuhan) itu Satu
Allah tempat meminta
Dia tidak beranak dan diperanakkan
Tak ada satupun yang setara dengannya" (Al Ikhlas)
Kemudian meski Allah melarang membuat berhala, toh pendeta-pendeta Kristen membuat dan menaruh patung di setiap gereja. Ini satu pelanggaran lagi.
Islam mengkoreksi hal ini. Dalam Al Qur'an diceritakan bagaimana patung-patung tersebut sama sekali tidak bisa memberi manfaat dan Ibrahim (Abraham) sampai menghancurkan patung-patung tersebut:
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan?" (Thaahaa:89)
"Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara"." (Al Anbiyaa:63)
Jadi gigihnya ummat Kristen membuat patung-patung dari Yesus, Maryam, dll, terkadang dibumbui dengan takhayul bahwa batu itu menitikkan air mata, meski hal ini bertentangan dengan akal sehat dan melanggar perintah Allah dalam Alkitab maupun dalam Al Qur'an.
Ummat Kristen juga menganggap zinah atau judi adalah hal yang biasa. Tak jarang jika ada aparat keamanan yang beragama Kristen, seperti Kapolres Ngawi: Yovianus, mereka dengan semangat menjadi beking judi dan minuman keras.
Padahal Zinah dan Judi dilarang oleh Tuhan sebagaimana disebut dalam Al Qur'an:
"Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan."
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,"
(Al Baqarah:219)
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (Al Israa':32)
Mengenai larangan untuk berdusta, setiap tahun ummat Nasrani dari pendeta hingga orang tua membohongi anak kecil yang masih lugu bahwa Sinterklas itu ada. Sinterklas itu mengendarai kereta yang ditarik oleh rusa-rusa serta bisa terbang. Anak-anak mereka suruh untuk menggantung kaus kaki di pohon cemara agar dapat hadiah dari Sinterklas yang bisa terbang itu. Padahal hadiah tersebut mereka beli dari toko.
Jadi berbohong sudah mendarah daging di kalangan ummat Kristen.
Begitu pula larangan membunuh. Sudah berapa ratus juga ummat manusia yang dibantai oleh orang-orang Kristen dari zaman Abad pertengahan dengan semboyan Gold, Glory, and Gospel (Emas, Kejayaan, dan Kristenisasi)? Mereka jajah negara-negara Afrika, Asia, Amerika dan Australia. Mereka Kristenkan secara paksa penduduk daerah tersebut.
Perang Dunia I dan II yang merupakan ulah mereka juga telah membantai puluhan juta manusia. Kemudian mereka membantai ratusan ribu Muslim di Bosnia, Ambon, dan Poso.
Itulah kekejian ummat Kristen yang merupakan pelanggaran dari SEPULUH PERINTAH TUHAN!
Referensi:
Kitab Suci Al Qur'an
Kitab Suci Alkitab TB-LAI
======================
Lihat saja referensinya yang membawa Kitab Sucinya sbg dalih kebenciannya terhadap katolik, saya ragu, apakah benar, kitab suci agama mereka memang mengharuskan menghina katolik??
Salut buat jawaban bung Be.Pe.Ka, smoga bung Dominus bisa lebih memahami Kekristenan itu dengan Iman bukan denagn Logika saja. GBU All.
Salut atas komen dari Bro Bepeka.
Penulis artikel tsb tidak bisa membedakan antara Kristen dan "penyakit" manusia. Padahal yang namanya penyakit manusia itu bercokol di semua manusia dengan identitas agama apapun.
Pencarian dalih2 ini sudah berlangsung belasan abad, mereka akan terus mencari.... dan akhirnya tanpa hasil dan Kristianitas akan trs hidup.
Nilailah pohon dari buah yang dihasilkan... saya cenderung melihat buah yang baik dari tradisi kekristenan yang kita anut. Ini menjadi alasan yang cukup buat gw pribadi untuk mementahkan segala retorika mereka.
Terima kasih atas komentar Bung Har & Bung Kolibri,
All glory to HIM only...
Semoga umat Katolik melalui natal kali ini bisa menjadi terang bagi sesamanya, sebagaimana Kristus telah menerangi kita semua.
God bless you all & peace always...
God will always be in our hearts of mankind ..... (Think with patience, saying the said words, and act with love) .. Why human beings are always changing - change in every thought word and deed ... hopefully in a month and Christmas is God's loving JESUS will bless us, everyone thought word and deed, God is with us ... now and forever ... Amen. God bless us all
Tuhan akan selalu ada di hati kita umat manusia ..... ( berpikir dengan sabar, berkata dengan tutur kata, dan berbuat dengan kasih ).. Kenapa umat manusia selalu berubah - ubah dalam setiap pikiran perkataan dan perbuatan ... semoga di bulan dan natal yang penuh kasih ini Tuhan JESUS memberkati kita semua akan Pikiran perkataan dan perbuatan , Tuhan beserta kita ... sekarang dan selamanya ... Amin. Tuhan memberkati kita semua
Note :
"Mereka yang kuatir sudah menderita akan hal yang mereka kuatirkan."
(Montaigne, Essays, 1588)
"Saya banyak mengalami kekuatiran, tetapi kebanyakan tak pernah terjadi."
(Mark Twain )
"Tengoklah kehatimu dan hatinya ... mereka berbuat bukan berpikir, kasihani hatinya cintai wajahnya ... senyum dalam kerinduan " Terang menyapa dunia ....
(Erick jam 5.42 Rabu 31 december 2009)
huhu...thx a lot...JESUS bless U all...
mw bagi cerita nih...benar2 menggugah hati kita sebagai umat katolik
Cina
Ignatius Kardinal Kung Pin Mei
Kardinal Kung adalah Uskup Shanghai, dan Administrator Apostolik di Souchou dan Nanking sejak tahun 1950, yaitu jabatan yang dipegangnya sampai wafatnya. Dia ditahbiskan sebagai imam hampir 70 tahun yang llu pada tanggal 28 Mei 1930, dan dikonsekrasikan sebagai Uskup 50 tahun yang lalu - Uskup Shanghai pertama dari etnis lokal - pada hari perayaan Santa Maria dari Rosario tanggal 7 Oktober 1949, setelah pasukan komunis telah menguasai daratan Cina. Kardinal Kung diangkat sebagai Kardinal oleh Sri Paus Yohanes Paulus II secara "in pectore" (dalam hati Sri Paus, tanpa pengumuman kepada seorangpun termasuk Kardinal Kung sendiri) 20 tahun yang lalu pada tahun 1979 pada usia 78 tahun ketika sang Kardinal sedang menjalani hukuman seumur hidup dalam sel isolasi di Cina. Setelah selama 12 tahun berada dalam benak pikiran Sri Paus, Kardinal Kung akhirnya diproklamasikan sebagai seorang Kardinal kepada dunia pada tanggal 28 Juni 1991 oleh Sri Paus. Pada waktu ia meninggal, Kardinal Kung adalah yang tertua diantara para Kardinal.
Kisah tentang Kardinal Kung adalah kisah tentang seorang gembala iman yang setia dan seorang pahlawan. Kardinal Kung menolak untuk menyangkal Tuhan dan menyangkal Gereja Katolik meskipun sebagai konsekuensinya ia dihukum penjara seumur hidup oleh pemerintahan komunis Cina.
Berbulan-bulan sebelum penangkapannya pada tahun 1955, Uskup Kung bersikeras untuk tetap berada bersama-sama para imam dan ditengah-tengah umatnya meskipun berulang-kali beliau ditawarkan untuk keluar dari daratan Cina secara diam-diam. Dia adalah seorang pemimpin yang membawa inspirasi bagi berjuta-juta penduduk Cina untuk mengikuti teladan kesetiaannya terhadap iman dan Gereja Katolik.
Dia adalah orang yang memelihara eksistensi Gereja Katolik di negara komunis selama 50 tahun. Dia adalah orang yang menjadi simbol bagi para pemimpin rakyat di seluruh dunia yang berjuang bagi kebebasan beragama. Tiada kisah penindasan agama atau pelanggaran hak-hak azasi di Cina yang tidak menyinggung sedikitnya beberapa kata yang menyangkut Kardinal Kung.
Uskup Kung telah menjabat sebagai Uskup Shanghai dan Administrator Apostolik bagi dua keuskupan lainnya hanya selama lima tahun saja sebelum dia ditangkap oleh pemerintah Cina. Dalam waktu lima tahun saja Uskup Kung telah menjadi musuh yang paling ditakuti oleh komunis Cina. Dialah yang menjadi pusat perhatian dan devosi dari segenap umat Katolik di daratan Cina yang pada waktu itu jumlahnya sekitar 3 juta jiwa. Dia sangat dihormati oleh rekan-rekan sesama Uskup di Cina, dan dia telah memberi inspirasi bagi ribuan umat untuk memberikan nyawanya kepada Tuhan. Dalam menentang Asosiasi Katolik Patriotik Cina, sempalan gereja Katolik yang didirikan oleh pemerintahan komunis, Uskup Kung secara pribadi membimbing Legio Maria, suatu kerasulan awam Katolik yang didedikasikan bagi Santa Perawan Maria. Sebagai hasilnya, banyak anggota-anggota Legio Maria yang berani terancam resiko ditangkap demi nama Tuhan, demi Gereja Katolik dan demi Uskup Kung. Ratusan anggota-anggota Legio Maria, termasuk banyak mahasiswa-mahasiswi, yang ditangkap dan dihukum kerja paksa selama 10, 15, dan 20 tahun.
Ditengah-tengah penindasan tersebut, Uskup Kung mendeklarasikan tahun 1952 sebagai Tahun Maria di Shanghai. Selama tahun itu, diadakan pengucapan doa Rosario selama 24-jam secara terus-menerus di hadapan sebuah patung Santa Maria dari Fatima, yang mana patung tersebut dibawa berkeliling dari satu paroki ke paroki lainnya di Shanghai. Patung Maria yang kudus tersebut akhirnya tiba di Gereja Katolik Kristus Raja dimana penangkapan besar-besaran terhadap para imam baru saja terjadi sebulan yang lalu. Uskup Kung mengunjungi gereja tersebut dan memimpin doa Rosario secara pribadi sementara ratusan polisi bersenjata lengkap berdiri menyaksikan. Pada akhir doa Rosario, sambil memimpin umat, Uskup Kung berdoa: "Santa Maria, kami tidak meminta suatu mukjijat kepadamu. Kami tidak meminta engkau supaya menghentikan penindasan. Tetapi kami memohon engkau untuk mendukung kami yang sangat lemah ini."
Menyadari bahwa dia dan para imamnya akan segera ditangkap, Uskup Kung membina ratusan katekis (guru agama) untuk meneruskan iman Katolik di keuskupan bagi generasi di masa depan.
Usaha-usaha yang gagah berani dari para katekis ini, kemartiran mereka dan juga para umat dan kaum religius Katolik membawa andil yang besar bagi pertumbuhan yang kuat dari Gereja Katolik bawah tanah di Cina sekarang ini. Uskup Kung yang menempati tempat khusus dalam hati para umatnya, disarikan dengan tepat dalam ucapan yang dikeluarkan oleh sejumlah mudika di Shanghai pada tahun 1953 pada saat jambore mudika tahunan: "Uskup Kung, dalam kegelapan, engkau telah menerangi jalan kami. Engkau membimbing kami dalam perjalanan kami yang penuh marabahaya. Engkau menopang iman kami dan tradisi-tradisi Gereja. Engkau adalah pondasi batu karang atas Gereja di Shanghai."
Pada tanggal 8 September 1955, media berita di seluruh dunia melaporkan berita yang mengejutkan tentang penangkapan Uskup Kung bersama lebih dari 200 imam dan para pemimpin Gereja lainnya di Shanghai. Berbulan-bulan setelah penangkapannya, dia dibawa ke hadapan orang banyak dalam acara pertemuan yang disponsori oleh pemerintah yang diadakan di dalam stadium pacuan anjing di Shanghai. Beribu-ribu orang diperintahkan untuk menghadiri dan mendengar pengakuan Uskup Kung atas "kejahatan-kejahatannya". Dengan kedua tangannya terikat di belakang dan mengenakan piyama khas Cina, bapa Uskup yang tingginya hanya 150cm didorong kedepan ke hadapan corong mikrofon untuk mengaku "dosa-dosanya." Para polisi khusus yang menjaganya tercengang-cengang ketika mereka mendengar sang Uskup berteriak dengan keras: "Terpujilah Kristus Raja, Terpujilah Sri Paus". Untuk itu para hadirinpun segera membalas berteriak: "Terpujilah Kristus Raja, Terpujilah Uskup Kung." Uskup Kung segera diseret masuk ke sebuah mobil polisi dan menghilang dari pandangan dunia sampai ia diadili pada tahun 1960. Uskup Kung dihukum penjara seumur hidup.
Pada malam sebelum dia dibawa menghadap ke pengadilan, Jaksa Penuntut kembali membujuk agar Uskup Kung bersedia menerima tawaran pemerintah untuk memimpin gereja yang independen dan untuk mendirikan Asosiasi Patriotik Cina. Dia menjawab: "Saya adalah seorang Uskup Katolik Roma. Jika saya menyangkal Sri Paus, bukan hanya saya bukan lagi seorang Uskup, saya bahkan bukan lagi seorang Katolik. Kalian bisa memotong kepala saya, tetapi kalian tidak bisa memisahkan saya dari tugas kewajiban saya."
Uskup Kung menghilang di balik penjara selama tiga puluh tahun. Selama tiga puluh tahun tersebut dia menghabiskan banyak waktu-waktu panjang dalam sel isolasi. Permintaan yang bertubi-tubi dari kelompok hak azasi dan religius internasional dan pemimpin-pemimpin negara untuk mengunjungi Uskup Kung selalu ditolak oleh pemerintah komunis. Dia tidak pernah diperbolehkan untuk menerima pengunjung, bahkan termasuk para anggota keluarganya, surat-surat, maupun uang untuk membeli barang-barang kebutuhan mendasar, yang diperbolehkan bagi para tahanan lainnya.
Usaha-usaha bagi pelepasan dirinya oleh keluarganya yang dipimpin oleh keponakannya, Joseph Kung, juga oleh organisasi-organisasi pembela hak azasi seperti Amnesti Internasional, Palang Merah, dan Pemerintah Amerika Serikat, tidak pernah berhenti. Pada tahun 1985, dia dibebaskan dari penjara untuk menjalani 10 tahun tahanan rumah dibawah pengawasan uskup-uskup dari Asosiasi Patriotik yang menghianati dia, menghianati Sri Paus dan yang mengambil alih keuskupan yang dulu dipimpinnya. Dalam suatu artikel yang muncul segera setelah dia dilepaskan dari penjara, koran New York Times melaporkan bahwa pernyataan yang tidak jelas dari kantor berita Cina menyiratkan bahwa kalangan penguasa, dan bukannya sang Uskup, yang telah melunakkan posisinya. Setelah dua setengah tahun menjalani tahanan rumah, akhir dia secara resmi dibebaskan. Akan tetapi, tuduhan yang dijatuhkan kepadanya sebagai kontra-revolusioner, tidak pernah dihapuskan. Pada tahun 1988, keponakannya, Joseph Kung, berangkat ke Cina dua kali dan mendapatkan ijin untuk mengawal Uskup Kung ke Amerika untuk menjalani perawatan medis.
Menjelang pembebasannya dari penjara, Uskup Kung diperbolehkan untuk mengikuti jamuan makan yang diadakan oleh pemerintah Shanghai untuk menyambut Kardinal Jaime Sin, Uskup Agung Manila, Filipina, yang sedang mengadakan kunjungan persahabatan. Ini adalah untuk pertama kalinya Uskup Kung bertemu dengan seorang Uskup dari Gereja Katolik yang universal, sejak ia ditahan di penjara. Kardinal Sin dan Uskup Kung diberi tempat duduk yang jauh berseberangan dan dipisahkan oleh lebih dari 20 anggota partai komunis. Tidak ada kesempatan bagi sang Uskup untuk berbicara secara pribadi dengan Kardinal Sin. Selama makan malam, Kardinal Sin mengajak setiap orang untuk menyanyikan sebuah lagu untuk memeriahkan acara. Ketika tiba giliran Uskup Kung untuk bernyanyi di hadapan para pejabat pemerintah Cina dan para uskup Asosiasi Patriotik, dia menatap ke arah Kardinal Sin dan menyanyikan: "Tu es Petrus et super hanc petram aedificabo Ecclesiam" (Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku), suatu nyanyian iman yang memproklamasikan otoritas tertinggi Sri Paus. Uskup Kung menyampaikan kepada Kardinal Sin bahwa selama sepanjang masa penahanannya, dia tetap setia kepada Tuhan, kepada Gereja-Nya, dan kepada Sri Paus.
Setelah jamuan makan malam, Aloysius Jin, Uskup Shanghai dari Asosiasi Patriotik Katolik Cina, menegus Kardinal Kung, "Apa yang engkau lakukan? Menunjukkan posisimu?" Kardinal Kung dengan tenang menjawab, "Tidak perlu untuk menunjukkan posisiku. Posisiku tidak pernah berubah."
Kardinal Sin dengan segera membawa pesan Kardinal Kung kepada Bapa Suci Sri Paus dan mengumumkan kepada dunia bahwa kecintaan Uskup Kung bagi Gereja dan bagi umat tidak pernah berkurang meskipun mengalami penderitaan, kesengsaraan dan isolasi yang tidak terperikan.
Mendiang Uskup Walter Curtis, Uskup dari Bridgeport, negara bagian Connecticut pada waktu itu, mengundang Uskup Kung untuk tinggal bersama dengan imam-imam yang sudah pensiun dari keuskupan Bridgeport setibanya di Amerika Serikat. Uskup Kung tetap menjadi tamu di keuskupan tersebut - yang nantinya dipimpin oleh Uskup Edward Egan - selama sembilan tahun sampai bulan Desember 1997.
Ketika Sri Paus Yohanes Paulus II mempersembahkan topi merah tanda jabatan Kardinal bagi Kardinal Kung di konsistori pada tanggal 29 Juni 1991 di Vatikan, Uskup Kung yang berusia 90 tahun pada waktu itu, berdiri dari kursi rodanya, meletakkan tongkatnya ke samping, dan berjalan menaiki anak tangga untuk berlutut di depan kaki Sri Paus. Sri Paus yang jelas tersentuh oleh peristiwa ini, mengangkat Uskup Kung untuk bangkit berdiri, memberikan topi Kardinal kepada Uskup Kung, dan berdiri dengan sabar menanti sampai Kardinal Kung kembali ke kursi rodanya, di tengah-tengah gemuruh suara 9000 undangan yang berdiri dan bertepuk tangan selama tujuh menit di dalam Balai Audiensi di Vatikan.
Selama dua belas tahun terakhir, Kardinal Kung merayakan Misa Kudus kepada umum di banyak paroki, dalam konferensi-konferensi Katolik dan di televisi. Dia memberikan wawancara dan homili di seluruh penjuru Amerika Serikat untuk menarik perhatian dunia yang bebas terhadap penindasan yang masih berlangsung terus terhadap Gereja Katolik di Cina. Dia tetap merupakan sumber inspirasi bagi 9-10 juta umat Katolik bawah tanah di Cina dan musuh yang ditakuti oleh pemerintah komunis Cina. Dalam suatu wawancara dengan Chinese Press di New York pada tanggal 12 Februari 1998, Mr. Ye Xiaowen, Direktur Biro Agama dari Cina, menyatakan: "Kung Pin Mei telah melakukan tindakan kejahatan yang serius dengan memecah belah negara dan membawa bahaya bagi warga negara." Sebulan sesudahnya pada bulan Maret 1998, pemerintah komunis menyita paspor sang Kardinal yang pada waktu itu sudah berumur 97 tahun, dan secara resmi mengucilkannya.
Kardinal Kung tidak pernah berhenti untuk mendoakan mereka yang telah memisahkan diri dan bergabung dengan Asosiasi Patriotik yang didirikan oleh pemerintah Cina. Sebelum melakukan perjalanan ke Roma untuk menghadiri Konsistori pada tahun 1991, Uskup Kung menyiarkan ucapannya melalui media radio Voice of America, mengundang para uskup Asosiasi Patriotik Cina untuk kembali ke Kota Abadi bersamanya.
Dalam majalah Mission pada tahun 1957, mendiang Uskup Fulton Sheen - seorang Uskup yang terkenal di Amerika Serikat - menulis demikian, "Di Barat ada Mindszenty, tetapi Timur punya Uskup Kung. Tuhan dimuliakan lewat para kudus-Nya."
Yang Mulia, Ignatius Kardinal Kung Pin Mei wafat pada jam 3.05 dini hari pada tanggal 12 Maret 2000 di Stamford, Connecticut, Amerika Serikat. Beliau berumur 98 tahun.
(http://www.gerejakatolik.org/artikel/kardinalkung.htm)
bayangkan, pilihan berat, memilih 500 orang tak berdosa dibunuh atau tetap meneguhkan iman mereka pada katolik?
susah banget kan??




Shallom Sdr. DMDM (Dominus Meus et Deus Meus) yg dikasihi Kristus.
Saya bukanlah Romo, hanya sekedar ingin sharing opini sambil menunggu balasan dari Romo. Saya coba menjawab beberapa point yg dituduhkan oleh mereka. Namun sebaiknya jangan terpancing utk membalas cemoohan mereka. Kita memang wajib mempertanggungjawabkan iman kita namun harus dengan lemah lembut dan hormat. (1 Petrus 3:15).
Tentang Trinitas, sudah tertulis di dalam Katekismus Gereja Katolik:
253 Tritunggal adalah satu. Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi: "Tritunggal yang sehakikat" (Konsili Konstantinopel 1155: DS 421). Pribadi-pribadi ilahi tidak membagi-bagi ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing dari mereka adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya: "Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa. Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah menurut kodrat" (Sinode Toledo XI 675: DS 530). "Tiap-tiap dari ketiga Pribadi itu merupakan kenyataan itu, yakni substansi, hakikat, atau kodrat ilahi" (K. Lateran IV 1215: DS 804).
254 Ketiga Pribadi ilahi berbeda secara real satu dengan yang lain. Allah yang satu bukanlah "seakan-akan sendirian" (Fides Damasi: DS 71). "Bapa", "Putera", "Roh Kudus", bukanlah hanya nama-nama yang menyatakan cara-cara berada berbeda dari hakikat ilahi, karena mereka secara real berbeda satu dengan yang lain: "Bapa tidak sama dengan Putera, Putera tidak sama dengan Bapa, Roh Kudus tidak sama dengan Bapa dan Putera" (Sin. Toledo XI 675: DS 530). Masing-masing berbeda satu dengan yang lain oleh hubungan asalnya: Adalah "Bapa yang melahirkan, dan Putera yang dilahirkan dan Roh Kudus yang dihembuskan" (K. Lateran IV 1215: DS 804). Kesatuan ilahi bersifat tritunggal.
255 Ketiga Pribadi ilahi berhubungan satu dengan yang lain. Karena perbedaan real antar Pribadi itu tidak membagi kesatuan ilahi, maka perbedaan itu hanya terdapat dalam hubungan timbal balik: "Dengan nama-nama pribadi, yang menyatakan satu hubungan, maka Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dihubungkan dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya: Walaupun mereka dinamakan tiga Pribadi seturut hubungan mereka, namun mereka adalah satu hakikat atau substansi, demikian iman kita" (Sin.Toledo XI 675: DS 528). Dalam mereka "segala-galanya... satu, sejauh tidak ada perlawanan seturut hubungan" (K. Firenze 1442: DS 1330). "Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Putera" (ibid., DS 1331).
Jadi memang benar ada Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus. Tetapi ketiga pribadi ini tidaklah menjadikan bahwa ada 3 Allah, karena Trinitas adalah 1 Allah, dengan 3 Pribadi yg berbeda.
Trinitas tidak akan pernah dapat dimengerti oleh logika manusia. Jadi teringat kisah St. Agustinus ketika beliau pun sulit menerima dogma trinitas ini.
"St. Agustinus tidak dapat segera menerima ajaran tentang Trinitas.
Setiap hari ia menganalisanya dengan tekun, tetapi tetap gagal menemukan kesimpulan. Ia tidak habis pikir bagaimana Tuhan bisa dikatakan satu padahal terdiri dari tiga oknum.
Suatu sore, Agustinus berjalan-jalan di pantai. Ia bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang membuat lubang di pasir.
"Untuk apa lubang ini, nak?, tanya Agustinus.
"Lubang ini untuk tempat penampungan air. Aku akan memindahkan semua air laut itu ke dalam lubang ini!", jawab si anak kecil.
"Ha.. ha.., bagaimana mungkin lubang kecil ini dapat menampung air laut di samudera yang luas itu?!"
Tiba-tiba si anak kecil itu menghilang dari pandangan Agustinus, dan muncullah seorang Malaikat, katanya pada Agustinus:
"Demikian juga otakmu, bagaimana mungkin otakmu yang kecil itu dapat menganalisa dan membuktikan kebenaran kepribadian Allah?"
Tentang patung:
Tidak ada satu dogma atau pun ajaran Gereja Katolik yg menyatakan bahwa umat Katolik menyembah patung Yesus atau Bunda Maria ataupun patung para kudus lainnya. Ini tuduhan tanpa bukti. Jika mereka punya bukti tertulis bahwa memang ada ajaran RESMI Gereja Katolik yg mengharuskan umat Katolik menyembah patung, silahkan di-print out saja.
Tentang Kapolres Ngawi: Yovianus
Yudas Iskariot pun berkhianat terhadap Yesus, namun apakah hal ini menjadikan para rasul lainnya menjadi sesat? Jelas tidak. Kelakuan segelintir oknum Katolik, tidak bisa dijadikan alasan utk mengatakan bahwa Katolik / Kristen itu agama ngaco dan sesat! Gereja Katolik tidak akan pernah sesat, ini janji Yesus. (Mat 16:18)
Tentang Sinterklas:
Memang adalah dosa apabila ada orang tua yg membelikan kado utk anaknya lalu mengatakan bahwa kado itu dari Sinterklas. Sebaiknya orang tua mengatakan bahwa mereka membelikan kado sebagai hadiah karena telah menjadi anak yg baik sepanjang tahun.
Tentang 3G (Gold, Gospel and Glory):
Ini bukanlah ajaran Gereja Katolik. Lagi-lagi tuduhan yg salah alamat. Ini adalah semangat kolonialisme Eropa Barat. Salah satu unsur dari 3G yaitu Gospel, adalah semangat menyebarkan agama Kristen kepada dunia baru yg ditemui. Kita pun diutus Kristus utk mengabarkan Injil kepada seluruh dunia (Mat 28:19). Namun sangat naif sekali jika mengatakan begitu banyaknya orang yg meninggal karena kolonialisme Eropa Barat saja. Jangan lupa, kolonialisme Islam pun ada dan banyak menelan korban jiwa juga.
Tentang perang dunia 1 dan 2:
Tuduhan yg salah alamat jika menuduh Gereja Katolik sbg penyebab perang dunia.
Perang dunia 1 dan 2 adalah skenario Albert Pike, seorang tokoh freemasonry Amerika Serikat yg telah mengagendakan terjadinya perang dunia tersebut dalam salah satu suratnya kepada Giuiseppe Mazzini pada tanggal 15 Agustus 1871.
(Sumber: http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Telaah-Qaball-Illuminati-Freemasonry)
Tidak perlu menelaah kitab suci mereka. Tidak perlu mencemooh balik. Hal itu hanya akan berbuntut pada debat kusir yg tidak ada artinya. Yg penting kita perdalam dahulu iman dan pengetahuan kita akan Gereja Katolik yg dibangun oleh Yesus sendiri.
God bless you & peace always...