Who's New

Jovay
m3n1ck
doni
antonius eka
vina
huller_bastian
pesonamml
Santoso
oLendo kwok
domingos neves
Erwin S.
Coco

Saat Melayani, Kini, dan Disini.

No replies
N_Haddie
does not have a status.
N_Haddie's picture
User offline. Last seen 2 weeks 1 day ago. Offline
SanMarNewbie
Joined: 2007-05-16
Posts: 9

Saat
Melayani, kini, dan disini

PENGANTAR

Sebuah kelompok, setiap organisasi,
dalam perjalanan dan kehidupannya, tentu memiliki dinamika sendiri. Demikian
juga halnya dengan prodiakon paroki St. Maria Tangerang. Dinamika itu bolehlah
kita sebut sebagai perkembangan. Berkembang dapat bergerak maju, kearah yang
lebih baik, atau kadangkala dapat bergerak mundur kearah yang kurang kita
harapkan.

Prodiakon sebagai sebuah kelompok yang
cukup besar dan diharapkan memiliki peran "yang lebih" dalam kehidupan
menggereja di dalam paroki St. Maria Tangerang perlu menata dirinya sendiri agar
gerak langkah pelayanannya terarah dan terukur seturut kebutuhan gereja yang
dilayaninya.

Daya usaha dan hasil guna pelayanan
prodiakon hendaknya dapat dirasakan oleh umat setempat yang telah mengutusnya
untuk pelayanan ini. Maka sudah sepatutnya, secara moral, para prodiakon
mengambil tanggungjawab yang diberikan kepadanya dengan merencanakan, mempersiapkan,
dan melaksanakan apa-apa yang perlu bagi pelayanannya itu sendiri, baik bagi
umat setempat yang dilayaninya maupun bagi dirinya sendiri.

Disisi lain, harus selalu disadari
bahwa seorang prodiakon, tidak pernah bekerja secara sendirian dalam pelayanannya,
ia selalu bekerja secara kolegial, atas nama seluruh prodiakon. Pertama-tama
Prodiakon harus bekerja sama dengan pastornya, karena dari Imam itulah tugas
pelayannya dimulai, seorang prodiakon meneruskan dan sekaligus melanjutkan
karya pastoral pastor parokinya seturut kemampuan dan bidang pelayan yang telah
diperuntukkan baginya.

Kemudian, kedua, ia juga perlu
bekerja sama dengan umat yang telah mengutus dan dilayani olehnya, karena
sesungguhnyalah pelayanan dari dan sebagai seorang prodiakon dapat menjadi
lebih bermakna kalau pelayanannya itu dapat langsung menyentuh dan dirasakan
oleh umatnya sendiri. Pelayanan prodiakon tidak pernah mencabut seseorang dari
tempatnya berasal untuk melakukan suatu pelayanan yang tidak diperuntukkan bagi
umat dilingkungannya sendiri.

Kerja sama dan pelayanan itu perlu
dirancang, direncanakan, diolah, dimatangkan untuk dilaksanakan agar seluruh
daya upaya yang telah dikerahkan dapat membantu seluruh umat paroki. Dalam
kerangka itulah tulisan ini dibuat, sebagai bahan pembantu bagi pertemuan awal
para prodiakon yang akan diselenggarakan per wilayah dalam usaha untuk
menetapkan langkah bersama yang akan dilalui sampai tahun 2010 nanti.

LATAR
BELAKANG

Ketika jumlah para imam dirasa makin
sedikit dan tidak lagi ideal bagi pelayanan umat, terlebih pada saat perayaan
ekaristi, pada waktu pembagian/penerimaan komuni, dan adanya semangat
pembaharuan (adanya harapan keterlibatan umat yang lebih) serta inkulturasi
yang dihembuskan oleh konsili Vatikan II, maka gereja khususnya yang berada di
regio Jawa, mulai mencari bentuk pelayanan yang sekiranya pas untuk itu. Salah
satu hasilnya adalah keberadaan prodiakon yang dapat kita lihat dan rasakan
sekarang ini.

Kehadiran prodiakon dalam pelayanan pembagian
komuni suci bukan tanpa sikap pro dan kontra. Sejumlah koreksi dilakukan,
pemahaman baru ditambahkan, intinya bagaimana Umat Allah yang sedang dalam
perziarahannya ini dapat terlayani dengan sebaiknya sesuai dengan kebutuhannya,
tanpa mengganggu atau bahkan keluar dari garis yang telah ditetapkan.
Kekatolikan yang apostolik dan universalitas tetap menjadi pegangan.

Dinamika selalu ada pada sesuatu
yang "hidup". Berkembang dan perkembangan menyertai yang hidup itu. Masalahnya
ada pada "waktu". Kita sering berujar, ada yang berkembang lambat, ada yang
berkembang cepat. Disadari atau tidak, dalam perkembangan yang kita kenal dan
sering diperbincangkan, selalu diperlukan sebuah "lompatan". Boleh jadi itu
hanya sebuah lompatan kecil, atau mungkin itu sebuah lompatan besar yang
memukau. Tetapi perkembangan, sekecil apapun, selalu dimulai dari sebuah
lompatan yang didalamnya terkandung ayunan langkah yang pertama.

Dalam kehidupan menggereja,
keberadaan, fungsi dan peran prodiakon juga berkembang seiring waktu dan tempatnya.
Kesadaran dan pemahaman baru yang dihadirkan dalam setiap kesempatan dan
peristiwa, sekecil apapun, seyogyanya dapat dijadikan sebagai rangsum untuk
melakukan ayunan langkah pertama. Harapannya, kita dapat berkembang maju ke
arah yang lebih baik lagi.

APA
YANG KINI ADA
DAN TELAH TERJADI ?

Tahun ini, usia paroki kita genap
berusia 60 tahun, keberadaan prodiakon telah hampir 10 tahun, dari yang awalnya
hanya berjumlah belasan kini telah mencapai ratusan. Secara kuantitas, jelas
terlihat perkembangannya, secara kualitas, umat paroki secara umum tetapi
terlebih lagi umat setempat yang pantas memberikan penilaiannya. Bukan untuk
menghakimi, tetapi sebagai oto kritik dari dan pada diri sendiri atas apa yang
telah berhasil dilakukan.

Prodiakon yang kita kenal dan pahami
saat ini sebagai petugas pembagi komuni adalah tugas/jabatan yang bersifat "extraordinari",
tidak lazim bukan bersifat luar biasa. Redemptionis Sacramentum menegaskan: [156.]
Officìum hoc stricte iuxta eius nomen intendàtur, id est minìstri
extraordinarìi sacrae Communiònis
, non autem «minìstri speciàlis sacrae
Communiònis» neque «minìstri extraordinarìi Eucharìstiae» neque «minìstri
speciàlis Eucharìstiae», quibus nominìbus eiusdem significàtio indebìte et
improprìe ampliàtur.
(=Fungsi pelayan ini harus dapat dipahami secara tepat
dari nama yang terkandung didalamnya, maka ia disebut sebagai pelayan yang
tidak lazim bagi komuni kudus
, bukan pelayan khusus bagi komuni suci, bukan
pelayan yang tidak lazim bagi sakramen ekaristi, bukan pula pelayan khusus
ekaristi, karena nama-nama itu dapat menimbulkan keraguan, makna yang tidak
jelas, dan tidak tepat guna).

Dalam reksa pastoral pastor paroki
kita, prodiakon diharapkan dapat ikut ambil bagian dalam pelayan pastoral hidup
rohani umat setempat. Secara sederhana, hal itu didefinisikan dalam tugas yang
diamanatkan oleh pastor paroki saat ini, yaitu:

  1. Membagi komuni pada perayaan ekaristi hari minggu dan hari raya.
  2. Melayani upacara sakramentali di lingkungan.
  3. Memimpin ibadat sabda di lingkungan.

Kiranya kini Prodiakon tidak lagi
hanya sebagai sebuah kelompok kategorial yang membasiskan pelayanannya pada dan
dalam gereja paroki saja, tetapi juga bekerja secara teritorial didalam
lingkungan umat setempat. Membagikan komuni adalah tugas pertama, tetapi bukan
yang utama dan satu-satunya.

Menghadapi keadaan ini, mau tidak
mau, suka tidak suka, para prodiakon yang dengan kesadaran akan tugas
perutusannya dan dengan rendah hati telah mau menerima panggilan pelayanan ini,
perlu meningkatkan ketrampilan dan pengetahuannya agar menjadi lebih siap dan
mampu melayani sesuai dengan kebutuhan nyata yang diperlukan oleh umat.

Dua hal yang kiranya cukup mendesak
untuk dapat segera dimiliki oleh para prodiakon dalam pelayanannya adalah
pengetahuan dasar tentang liturgi dan ketrampilan berkatakese. Para prodiakon kiranya perlu memberi waktu dan ruang yang
cukup bagi usaha peningkatan dan pengayaan kedua hal tersebut. Kiranya ini
dapat menjadi tonggak bagi prodiakon untuk mulai menginventarisasi kesulitan,
hambatan, kemampuan dan keberhasilan pelayanannya selama ini.

MENCARI
SOLUSI

Hasil pemikiran beberapa orang
biasanya lebih baik dari pemikiran yang dihasilkan oleh satu orang saja. Tentu
akan indah dan menyenangkan bila prodiakon dapat bersama-sama berkumpul
merumuskan masalah dan kemudian bersama-sama mendiskusikan pemecahannya.
Kebersamaan adalah ciri persaudaraan, makin banyak yang terlibat, sejauh dapat
saling mendukung, tentu lebih baik.

Setiap tempat atau kelompok tentu
memiliki pola sendiri-sendiri, kebutuhan yang mungkin berbeda, cara pandang
yang tidak sama, tinggi rendah tingkat kesulitan, dan berbagai hal lainnya.
Kita tidak hendak membentuk suatu keseragaman, tetapi baik kalau kita bisa
memulai dari hal-hal yang sifatnya mendasar, dialami oleh hampir sebagian besar
yang terlibat, dan berguna bagi semua.

Tindakan atau aktivitas kecil,
selalu lebih praktis dan mudah untuk diaplikasikan dibanding yang besar dan
melibatkan banyak pihak. Solusi dan sasaran sepatutnya terbuka untuk dapat
disesuaikan dengan situasi terkini. Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan
semua penyakit tanpa kecuali, tidak ada hasil yang seketika tanpa proses.

PENUTUP

Mencari jawab bisa jadi merupakan
sebuah usaha yang melelahkan, tapi kita menyadari bahwa hal itu sungguh perlu.
Semoga tulisan ini bisa menjadi sebuah pijakan bagi ayunan langkah pertama kita
untuk melompat.