Who's New

Jovay
m3n1ck
doni
antonius eka
vina
huller_bastian
pesonamml
Santoso
oLendo kwok
domingos neves
Erwin S.
Coco

DIALOG WAWASAN KEBANGSAAN

Annamaria Diah Sutrisnaningsih's picture

 Cita-cita para pendiri dan pahlawan bangsa ("Founding Fathers") adalah mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdaulat,adil dengan masyarakat yang makmur dan sejahtera. Demikianlah ibu Prof. Dr. Meutia Hatta Swasono, menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI mengawali pembicaraan dalam Dialog Wawasan Kebangsaan yang diadakan Wanita Katolik DPD Jakarta pada tanggal 13 juni di Aula Gereja Bonaventura Jakarta. Dalam dialoog itu Ibu Meutia menjelaskan tentang Peran Perempuan Dalam Peningkatan Pemahaman Pancasila dan Aktualisasi Wawasan Kebangsaan. Apa yang terjadi setelah hampir 64 tahun Indonesia merdeka? Kesejahteraan masyarakat yang belum optimal,kesehatan,pendidikan dan perekonomian yang masih rendah juga krisis multidimensi yang dialami bangsa Indonesia berupa lunturnya rasa kebangsaan dan cinta bangsa,berkurangnya persatuan bangsa,lunturnya nilai-nilai Pancasila dan aset negara yang menjadi hajat orang banyak sudah dikuasai ASING. Karena itu ibu Meutia mengajak kaum perempuan untuk selalu memberdayakan diri dalam memperkuat wawasan NKRI dan semangat persatuan bangsa melalui kesadaran akan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, meningkatkan rasa cinta bangsa dan tanah air dengan selalu memajukan produk bangsa sendiri, meningkatkan pengetahuan tentang keanekaragaman budaya, adat istiadat, serta menjaga dan mengembangkan kekayaan alam agar dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan oleh generasi mendatang.

Peran perempuan sangat penting dalam pendidikan kebangsaan penerapan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, karena perempuan sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarganya dan generasi penerus, sangat penting dalam memberikan landasan moral bangsa yang merupakan fondasi dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Dalam dialog ini juga menghadirkan Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace, Prof. DR. Siti Musdah Mulia menegaskan bahwa setiap orang yang mengaku warga negara Indinesia seharusnya sadar bahwa negara tempat dia berpijak adalah negara-bangsa berbentuk kesatuan, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan negara federal, bukan negara kerajaan, dan juga bukan negara agama. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja, SJ

sebagai moderator WKRI DPD Jakarta juga ikut sebagai pembicara dalam dialog ini, menambahkan rasa kebangsaan akan berkembang kalau diciptakan program pembangunan yang tepat dan dilaksanakan secara konsekuen. Hanya dengan cara itulah nasionalitas kita bisa dirasakan, dipertanggungjawabkan dan dilaksanakan oleh seluruh warga.demikianlah Romo Mardi mengakhiri dialog pada siang itu.