Who's New

karindo
paulus haryanto
cahya
dimas tofler
faizal pandev
kamsri
hndy
natasha irene
Veronica Lina
adykarya
gotry
puruaja

"Sesungguhnya barangsiapa percaya ia mempunyai hidup yang kekal"

ribew's picture

 

“Sesungguhnya barangsiapa percaya ia mempunyai hidup yang kekal.”

(Kis 8:26-40; Yoh 6:44-51)

 

“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku. Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” (Yoh 6:44-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

<!--[if !supportLists]-->·   <!--[endif]-->Jika masing-masing dari kita berani mawas diri dengan jujur kiranya kita semua telah memiliki pengalaman ‘percaya atau mempercayakan diri kepada yang lain’ begitu kuat dan mendalam, sehingga kita masih hidup sampai saat ini. Pengalaman tersebut adalah pengalaman masa balita, masa bayi dan kanak-kanak kita, dimana kita sangat percaya pada orang lain, dan tentu saja terutama dan pertama-tama pada orangtua kita masing-masing. Kita disuruh atau diperlakukan apapun atau bagaimanapun tidak melawan dan memberontak, melainkan menyerahkan atau mempersembahkan diri seutuhnya. Maka jika kita berani mengakui atau mengimani pengalaman tersebut berarti kita memiliki kemampuan dan kekuatan untuk mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan, yang menciptakan dan mengutus kita serta percaya kepada Sabda Yesus dan melaksanakannya di dalam hidup sehari-hari. Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal”., demikian sabda Yesus. Percaya kepada Tuhan berarti juga percaya kepada sesama, maka marilah kita saling mempercayai satu sama lain. Tentu saja agar kita dapat dipercaya oleh orang lain kita harus hidup baik dan berbudi pekerti luhur, hidup dalam dan oleh kasih.”Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:4-7), demikian ajaran Paulus perihal kasih, yang kiranya harus kita hayati dalam hidup sehari-hari sebagai orang yang beriman atau percaya..

<!--[if !supportLists]-->·   <!--[endif]-->“Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”(Kis 8:37), demikian dialog antara Filipus dan sida-sida yang minta dibaptis. Dialog ini kiranya mengingatkan dan menyegarkan kita akan peristiwa pembaptisan kita masing-masing, dimana kita juga ditanyai apakah percaya “bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah”, dan kita pun dengan mantap menjawab ‘Ya, kami percaya’. Dengan dan melalui pembaptisan kita menjadi ‘anak-anak Allah’, orang yang taat dan setia kepada Allah, yang mempercayakan diri seutuhnya kepada Allah. Karena kita sama-sama ‘anak-anak Allah’ berarti kita semua adalah saudara atau sahabat, maka marilah kita mawas diri perihal hidup persaudaraan atau persahabatan kita. Sebagai sahabat atau saudara satu sama lain berarti kita saling mengenal secara mendalam, saling terbuka dan menyerahkan diri. Rasanya ketika telah menjadi dewasa pengalaman persaudaraan atau persahabatan ini merupakan pengalaman mendalam bagi laki-laki dan perrempuan, yang berbeda satu sama lain dan terpanggil untuk hidup bersama sebagai suami-isteri, yang saling mempersembahkan diri seutuhnya. Maka kemesraaan hidup saling mengasihi antar suami-isteri atau bapak ibu kiranya sangat diharapkan, sehingga dapat menjadi teladan bagi anak-anak yang dianugerahkan kepada mereka. Pengalaman persaudaraan atau persahabatan sejati di dalam keluarga merupakan modal dan kekuatan untuk membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan di dalam masyarakat, tempat kerja, dalam hidup bersama atau beriman. Marilah kita saling percaya dengan segenap hati, yang jujur dan jernih, tanpa cacat atau cela sedikitpun.

 

“Pujilah Allah kami, hai bangsa-bangsa, dan perdengarkanlah puji-pujian kepada-Nya! Ia mempertahankan jiwa kami di dalam hidup dan tidak membiarkan kaki kami goyah  Marilah, dengarlah, hai kamu sekalian yang takut akan Allah, aku hendak menceritakan apa yang dilakukan-Nya terhadap diriku. Kepada-Nya aku telah berseru dengan mulutku, kini dengan lidahku aku menyanyikan pujian” (Mzm 66:8-9.16-17)

 

Jakarta, 30 April 2009