Who's New

Jovay
m3n1ck
doni
antonius eka
vina
huller_bastian
pesonamml
Santoso
oLendo kwok
domingos neves
Erwin S.
Coco

“Dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa”

ribew's picture

 

“Dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa
(Kis 3:11-26; Luk 24:35-48)
“Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!" Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?" Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini.” (Luk 24:35-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
 
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
<!--[if !supportLists]-->·   <!--[endif]-->Kepada para murid, kita semua yang beriman kepada Yesus, ditugaskan untuk “mewartakan pertobatan dan pengampunan dosa” melalui cara hidup dan bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Pertobatan dan pengampunan dosa hemat saya bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan. Pertama-tama marilah kita hayati kasih pengampunan dosa yang telah kita terima dari Tuhan secara melimpah ruah melalui saudara-saudari kita. Jika kita sungguh mawas diri kiranya kita semua telah menerima kasih pengampunan dosa tersebut sejak kita dilahirkan, maka sikap kita tidak lain adalah bersyukur dan berterima kasih. Tentu saja syukur dan terima kasih tersebut harus menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak kita, yaitu dengan bertobat alias memperbaharui diri terus menerus, terbuka terhadap aneka macam kemungkinan dan kesempatan untuk tumbuh berkembang sampai mati, dipanggil Tuhan. Dalam kecerdasan spiritual hal ini disebut “kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif)”, yang dalam bahasa Kristiani adalah terbuka pada dan siap sedia melaksanakan kehendak/bisikan Roh Kudus. Jika kita senantiasa memperbaharui diri diharapkan mereka yang kena dampak cara hidup dan bertindak kita juga terpanggil untuk memperbaharui diri. Kita semua dipanggil untuk berubah sesuai dengan kehendak Roh atau tuntutan perkembangan zaman; yang abadi di dunia ini adalah perubahan, maka tidak berubah berarti akan tertinggal.
<!--[if !supportLists]-->·   <!--[endif]-->“Bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu.” (Kis 3:26), demikian kutipan kotbah Petrus. “Kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu” inilah yang harus kita renungkan dan hayati. “Para malaikat dan manusia, ciptaan yang berakal budi dan bebas, harus menyongsong tujuannya terakhir dengan kehendak bebas dan mengutamakan tujuan itu karena cinta. Karena itu mereka juga dapat menyimpang dari jalan dan dalam kenyataannya sudah berdosa. Demikianlah kejahatan moral, yang jauh lebih buruk daripada kejahatan fisik” (Kamus Gereja Katolik no 311). Kita dipanggil untuk meninggalkan kejahatan moral, yang berarti senantiasa hidup dan bertindak karena cintakasih. Saling mengasihi satu sama lain sebagaimana Tuhan telah mengasihi kita itulah panggilan dan tugas pengutusan kita semua. Dengan ini kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam hidup dan kerja bersama untuk memberi teladan dalam meninggalkan kejahatan, antara lain yang masih marak di Indonesia ini adalah korupsi, entah korupsi uang/harta benda, waktu, tenaga atau perhatian dst.. Bentuk-bentuk kejahatan seperti mark-up anggaran proyek atau kegiatan hendaknya diberantas atau tidak dilakukan. Kepada para koruptor kami berharap untuk bertobat dan mengembalikan apa yang diambil tidak halal/tidak benar kepada mereka yang berhak. Dalam hal uang atau harta benda hendaknya dihayati motto ‘intentio dantis’ atau maksud pemberi. Kami percaya jika dalam hal uang atau harta benda dapat jujur, rasanya orang yang bersangkutan boleh dikatakan telah kembali dari segala kejahatan.
 
“Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan” (Mzm 8:5-9)
    
Jakarta, 16 April 2009