“Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”
“Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”
(Kis 11:1-18; Yoh 10:1-10)
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal."Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka. Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”(Yoh 10:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Ketika Paus Yohanes Paulus II mengadakan kunjungan pastoral di Indonesia, khususnya di Yogyakarta bagi umat dan masyarakat wilayah Keuskupan Agung Semarang, waktunya berdekatan dengan kunjungan kerja presiden RI di Semarang, Jawa Tengah. Ada sekelumit pengalaman menarik sekitar kunjungan tersebut: ketika presiden berkunjung di Semarang, khususnya pada hari ‘H’ cukup banyak pengemudi becak atau pedagang kaki lima pada hari itu harus ‘berpuasa’ karena tidak boleh kerja, jalanan harus ‘bersih’, sebaliknya dampak dari kunjungan pastoral Paus antara lain umat merasa puas, para pedagang kaki lima di daerah Yogya panen keuntungan/ pendapatannya berlipat ganda, para pejabat terkait menerima kenaikan pangkat jabatan, dst.. Apa yang terjadi dalam kunjungan pastoral Paus rasanya sejalan dengan sabda dan yang dilakukan oleh Yesus, yaitu: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”. Sebagai umat beriman, khususnya yang berpartisipasi dalam karya penggembalaan umat: para pastor, dewan paroki dst.., juga dipanggil untuk meneladan Yesus. Kemana kita pergi atau dimana kita berada diharapkan menggairahkan dan membahagiakan mereka yang kita datangi atau kena dampak keberadaan kita. Agar dapat demikian hendaknya kita datang melalui ‘pintu’ bukan ‘memanjat pagar’, artinya kenali dan sapalah apa yang menjadi hobby atau minat serta kebutuhan dari mereka yang akan kita datangi, sehingga kedatangan kita sungguh menjawab dan menanggapi hobby, miat atau kebutuhan mereka. Marilah kita saling mengenal dan mendatangi dengan rendah hati dan lemah lembut, agar kebersamaan hidup kita berkelimpahan rahmat Tuhan.
· "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.” (Kis 11:18b). Pertobatan atau Kabar Baik dikaruniakan oleh Allah kepada semua bangsa, tanpa batas SARA., demikian kesaksian iman umat Perdana/Purba, yang hendaknya juga menjadi kesaksian iman kita. Semua orang menghendaki dan mendambakan hidup damai, selamat dan sejahtera lahir dan batin, jasmani dan rohani. Salah satu tanda bahwa ‘kehendak Allah mengaruniakan pertobatan kepada semua bangsa’, secara khusus bagi orang Indonesia adalah terwujudnya sila kelima dari Pancasila, yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia”. Maka sebagai penghayatan iman kita atas kasih karunia Allah marilah kita bersama-sama mengusahakan kesejahteraan sosial bagi seluruh bangsa. Kesejahteraan akan terwujud jika terjadi keadilan, keadilan sejati akan terjadi jika harkat martabat pribadi manusia dijunjung tinggi dan dihargai sebagaimana mestinya, sebagai ciptaan terluhur di dunia ini, yang diciptakan sebagai ‘gambar atau citra Allah’. Jika kita cermati berbagai bentuk kekerasan dan pelanggaran hak azasi manusia rasanya masih marak di Indonesia, juga di dalam keluarga sebagai basis hidup bersama. Maka marilah kita berantas dan perangi berbagai bentuk kekerasan dan pelanggaran hak azasi manusia: “bila terjadi kebencian kita bawa cintakasih, bila terjadi penghinaan kita bawa pengampunan, bila terjadi perselisihan kita bawa kerukunan, bila terjadi kebimbangan kita bawa kepastian, bila terjadi kesesatan kita bawa kebenaran, bila terjadi kecemasan kita bawa harapan, bila terjadi kesedihan kita bawa kegembiraan, bila terjadi kegelapan kita bawa terang” (lih PS no 221).
“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah”(Mzm 42:2-3)
Jakarta, 4 Mei 2009



