Who's New

Jovay
m3n1ck
doni
antonius eka
vina
huller_bastian
pesonamml
Santoso
oLendo kwok
domingos neves
Erwin S.
Coco

Namanya Birgita

kat's picture

Namanya Birgita

Pagi itu ia bangun pagi sekali dengan sejuta harapan. Tak seperti pagi
sebelumnya, hari ini perasaannya agak berbeda walau aktifitas yang
dilakukannya kurang lebih sama. Suaminya masih tertidur lelap, seolah
takut mengganggunya, ia berkata lirih pada suaminya,
”pak uang kita sudah habis!” katanya.
”Bukankah saya sudah memberikan uang padamu beberapa hari lalu.” ujar suaminya setengah sadar.

”Iya, uang yang delapan belas lembar seribuan baru itu kan? Kan sudah habis pak buat belanja beras dan sayur”.

Dalam diam sang suami tersadar, seolah diingatkan kembali oleh
pikirannya, ia lalu teringat kalau ia memang pernah memberikan uang itu
pada istrinya sepulang dari kerja serabutan beberapa hari lalu, “Ini
untukmu ya, uangnya masih baru. Kamu simpan saja dan kamu tabung”,
sambil memberikan delapan belas lembar uang seribuan baru kepada
istrinya.

Ia juga teringat kalau tak pernah memberikan uang cukup pada hari-hari
sebelumnya. Pernah ia memberikan uang 150 ribu dan masih dengan pesan
kepada istrinya kalau belanja diirit dan dihemat sehingga bisa bertahan
untuk hidup harian. Namun tak sampai dua hari uang yang diberikan pada
istrinya itu ia minta kembali 50 ribu, katanya untuk transport cari
kerja dan untuk makan serta jaga-jaga.

Birgita dan suaminya keluarga katolik sederhana.

Mereka tak mengenal apa itu krisis moneter dan krisis global, yang
mereka tahu dan rasakan adalah kehidupan yang terasa kian semakin sulit
dan berat. Anaknya tak pernah minum susu namun toh perasaannya sulit
untuk mengelak untuk tak membelikannya saat tukang susu keliling merek
’nasional’ lewat depan rumahnya walau harganya cuma 200 ribu rupiah
saja per cup.

”Harga sekilo singkong sudah hampir sama dengan harga seliter beras,”
katanya pada suaminya, ”Kita dapat apa dengan uang belanja 15 ribu
sehari?”, cuma seliter beras dan selebihnya untuk sepotong tempe,
seperempat minyak goreng dan sebungkus sayur asem,” lanjutnya. Ia
pernah ingat kalau suaminya pernah memintanya untuk hati-hati dalam
pengeluaran dan mencatat setiap pembelanjaan harian seperti cabe, tahu,
tempe, minyak goreng. Birgita memang melakukannya tapi sudah lama
pencatatan itu ditinggalkannya karena menurutnya pencatatan bukan
solusi penghematan kalau uang belanja ditangannya memang kurang, begitu
katanya kepada suaminya.

Hari ini ia akan ke sekolah. Ada sekolah Katolik yang tak terlalu jauh
lokasinya dari rumahnya. Niatnya mulia; Ia mau mendaftarkan anaknya
masuk sekolah TK. Dalam bayangannya kalau anaknya diterima masuk ia
akan rajin mengantarkannya dengan bersepeda setiap hari. Entahlah apa
yang membuatnya ia begitu bersemangat padahal suaminya sudah beberapa
kali mengatakan kalau keuangannya belum ada untuk saat ini.

”Ditunda saja dulu! Tahun depan semoga keuangan kita membaik”, hibur suaminya sambil memberikan harapan.
”Tapi tahun depan biaya sekolah akan semakin mahal”, sanggah istrinya.
”Darimana uang untuk biaya uang pangkal dan sekolah?” ujar suaminya.
”Tak apa pak, saya akan mencoba berjuang minta keringanan”, balas Birgita.
Suaminya diam tak bergeming.

Dengan mengayuh sepeda dan memboncengkan si kecil, Birgita pergi ke sekolah untuk mendaftarkan anaknya...

Siang menjelang sore hari dengan wajah masih berpeluh ia pulang dengan perasaan sedih.

Saat hadir pada sembahyangan prapaskah kedua, Ia berkisah dalam shering....

Kalau ia sudah menghadap kepala sekolah TK dan terkejut dengan
pemberitahuan mengenai biaya uang pangkal dan uang bulanan sekolah yang
tidak mungkin bisa ia penuhi. Dengan memelas ia mohon kepada kepala
sekolah supaya bisa mendapatkan keringanan. Kepala sekolah yang ’baik’
itu rupanya memberi kemudahan keringanan kalau ditangannya ada surat
keterangan tidak mampu dari RT/RW setempat dan dari pastor paroki
karena ia beragama Katolik.

Dengan semangat yang masih menggebu ia berhasil mendapatkan surat
keterangan miskin dari RT/RW setempat. Lalu bergegas ke paroki untuk
minta surat keterangan dari romo paroki. Romo paroki menerimanya dengan
tangan terbuka dengan catatan asalkan ada surat keterangan dari ketua
lingkungan setempat.

Bergegas dan dengan penuh semangat Birgita pergi ke ketua lingkungan dan minta surat keterangan untuk ditandatangani romo.

Setibanya di rumah ketua lingkungan.. .

”Ibu, saya kok jarang ya lihat ibu aktif sembahyangan di lingkungan. Suami ibu juga”, katanya ketua lingkungan singkat.

”Saya mesti berkata apa saat saya merasa ’terpukul’, seolah kehadiran
saya dalam sembahyangan menjadi syarat untuk mendapatkan secarik surat
keterangan?” tuturnya.
”Pagi-pagi sekali setiap hari saya sudah harus bangun, bersepeda
mengajak si kecil mengunjungi warung-warung dan toko-toko untuk minta
kertas atau kardus bekas. Sepanjang jalan saya menatap jalan
kalau-kalau- kalau ada plastik bekas aqua cup atau botol bekas aqua
untuk saya kumpulkan dan saya jual ke penampung bersama kertas dan
kardus pemberian orang.”

”Sore sampai malam saya berkeliling lagi meminta dan memohon budi baik
orang untuk memberikan kertas dan kardus bekas untuk saya jual keesokan
harinya. Sementara suami saya jarang membawa uang saat pulang. Sungguh
saya terbentur waktu untuk sembahyangan karena saya mesti
memperjuangkan hidup keluarga”. Katanya.

”Tiga ribu rupiah setiap hari saya sisihkan untuk saya masukkan ke
dalam kotak APP. Selebihnya saya perjuangkan untuk saya hemat dan
simpan untuk sekolah anak saya kelak. Saya hanya membawa uang 100 ribu
saat menghadap kepala sekolah walau kemudian saya kembali dengan
membawa surat keterangan.. ...sejujurnya saya tak mampu untuk
memasukkan anak saya ke sekolah katolik karena keringanan yang saya
dapat hanya 25 ribu rupiah untuk SPP bulanan dan saya mengundurkan diri
untuk tidak jadi mendaftarkan anak saya.”

........dalam hening shering..... ......... .......
Seseorang dipojok sana terisak...
Tak tahu kalau selama ini istrinya adalah pemulung....
Dia adalah suaminya Birgita....

....Betapa Birgita adalah sosok Istri yang bertanggunggungjawa b....
Namun sayang ia tak dapat tempat untuk menyekolahkan anakknya di sekolah Katolik...
Apa daya...

.....Keesokan harinya..... Birgita setia memasukkan tiga lembar uang
kertas ribuan yang ia lipat....dan ia masukkan ke dalam kotak APP yang
bertuliskan ’Mari Bertanggungjawab’ .

Pesan:
Ia adalah (bukan) janda yang memberikan dari kekurangannya sebagaimana yang dikisahkan Yesus dalam Injil