SROTO KIMPLAH-KIMPLAH & MENDOAN EPLEH-EPLEH
PASKAH PLUS HARPITNAS
Paskah sudah lewat sebulan lalu, tetapi imbas repotnya masih membekas hingga minggu kemarin. Maka cerita Paskah di Padepokan Sontoloyo baru dapat diturunkan sekarang , setelah semuanya kembali normal seperti sedia kala. Paskah 2008 kali ini terbilang istimewa. Khususnya kita yang di Indonesia tercinta ini, yang mendapat berkat plus-plus-plus ....... Harpitnas.
Harpitnas alias Hari Kejepit Nasional ini memang budaya tulen Republik ini. Meskipun dalam kalender tanggal sudah tercetak hitam, tapi kalau kejepit tanggal merah, dia dapat berubah merah atau dianggap merah. Persis seperti permainan Otello, bedanya kalau merahnya yang kejepit putih, dia tidak lalu berubah putih, dia tetap merah. Yach .... Ini kesepakatan para birokrat yang katanya demi kebahagiaan rakyat...... everybody happy...... Tapi rakyat yang mana?,....... kaum Borju tentu saja, mungkin termasuk anda!, hehehee..... Karena kesepakatan Harpitnas ini ga' ngaruh buat si Inur di dapur, Mbok Inah di sawah, Kang Madun di kebun, Bang Togar di pasar atau Mang U'ut di laut.
Bulan Maret lalu, hari sebelum Jum'at Agung yang tercetak merah di kalender, adalah libur Nasional Hari raya Islam, maka tinggalah hari Sabtu yang ...manyun... sendiri kejepit hari Minggu yang pastinya merah itu. Maka para Birokrat di republik penghasil Karet Alam no 2 di dunia ini menyulap si Sabtu ini menjadi merah atau seolah-olah merah. Mungkin itu sebabnya waktu yang dinegeri Obama is money, disini menjadi is rubber...., yach bisa mulur-mengkeret ..... suka-suka penguasa yang berkuasa. Tentu ini sangat berpengaruh pada Perayaan Paskah yang di gelar di Padepokan Sontoloyo. Lebih meriah memang, dibanding Paskah yang sudah-sudah......, tapi.... Ampuuuunnn...., capueknya ruar biasa..... . Sumprit !!!..., saya menulis cerita ini masih dalam bebatan koyo cabe dimana-mana....duhhhh!.
Harpitnas membuahkan libur panjang. Ini berarti berkat tersendiri buat Padepokan Sontoloyo yang merayakan Paskah. Paskah kali ini pasti istimewa dibandingkan dengan Paskah yang sudah-sudah. Jauh-jauh hari para kerabat Kasontoan yang tersebar di beberapa daerah berancang-ancang ingin datang ke Padepokan. Keluarga Pak De Darso 4 orang, masing-masing Pak De Darso, Bude Darso, Mbak Reny dan Mas Kelik. Lalu dari Bengkulu keluarga Bude Tarjo 3 orang, Bude Tarjo dan Mas Bambang serta istrinya Mbak Ria Hutahuruk. Lalu keluarga PakLek Camat Badarudin dari Mbanyumas bersama istri barunya yang artis dangdut orgen tunggal Mbak Enjel dan dua orang anak masing-masing Mas Ustad dan si mbeling....... Tuyul. Masih ada lagi yang datang perorangan, Adelinus dari Dilli, Timor Timur...., Mbak Lia dari Makassar, Mas Yanto dari Balikpapan dan Mbak Pipit yang datang dari Colorado. Total Jendral plus penghuni tetap Padepokan 19 orang. Memang tidak semuanya berlama-lama di padepokan, umumnya hari Minggu Paskah Sore sudah pulang ke tempat masing-masing, hanya Mbak Pipit saja yang mengambil cuti panjang, hingga Minggu kemarin baru pulang ke Colorado.
Pesta perayaan Paskah di Padepokan dilangsungkan hari Minggu mulai jam 8.00 pagi. Puncak acaranya jam 14.00 siang. Pagi hari sebagian penghuni Padepokan ke Gereja, Si Tole, ikut misa Paskah anak-anak, Mbak Menik dan Bagas membantu mudika bagi-bagi souvenir di Gereja. Beberapa tetamu juga ikut misa pagi hari. Tapi sejak pukul 8.00 pagi Padepokan sudah membuka pintu untuk siapa saja yang ingin berpaskah ria bersama Mbah Sonto. Mungkin agak sulit bagi anda pembaca untuk membayangkan situasi di Padepokan saat itu ya...., sayapun agak kesulitan untuk menceritakannya..... . Baik, saya akan mulai dari tetamu saja ya, soal acara biar saja nanti dituturkan si Bagas, karena dia yang bertanggung jawab soal acara Perayaan Paskah tahun ini. Boleh juga nanti Mbak Menik selaku Pimpronya menceritakan secara global aktifitas di Padepokan selama Paskah ini.
Saya Paijo, kali ini ditugaskan untuk bertanggung jawab atas akomodasi tetamu. Jadi saya berkonsentrasi penuh pada tugas untuk memberi kenyamanan bagi para tetamu itu. Sebenarnya ini tugas yang paling berat, karena menuntut kekuatan phisik dan mental yang prima.... Dan untuk hal ini Paijo sudah cukup teruji...hehehe...bangga boleh kan ?. Melayani banyak orang dengan perangai beraneka macam sungguh diperlukan bakat istimewa untuk menangkap sinyal-sinyal ketidakpuasan untuk diredam sebelum berkembang meledak menjadi kemarahan....
Contohnya Pak de Darso yang pagi-pagi minta disajikan teh tubruk cap gopek. Sambil menyeruput tehnya beliau berujar ; "Jo..., di sini jauh ya dengan pabrik gula Jo? .....", maka dengan sigap saya tanggap ing sasmitha, mangsudnya Pakde Darso itu...., tehnya kurang manis dan harus ditambah gulanya.... . Begitulah, priyayi Jawa selalu membalut pernyataan dalam ungkapan-ungkapan yang terselubung. Maka jangan pula heran bila para birokrat jawa yang menguasai republik ini senang menyatakan istilah "penyesuaian", "mengetatkan ikat pinggang", "tut wuri handayani", "mikul ke(duwur)en, mendem ke(jero)n" ...en so'on en so'on.... Ironisnya ketika tulisan ini saya tulis dari ruangan Mbah Sonto terdengar suara Nyi Condrolukito melantunkan ........ojo sok gampang...dadi wong lamis.... (jangan mudah jadi orang yang sekedar basa-basi.......weh-weh-weh......hemmm).
Lain lagi dengan Mbak Ria Hutahuruk, istri mas Bambang itu. Dia dengan tanpa basa-basi dan tanpa tedeng aling-aling mengomentari masakan Mbak Menik : "Kau masak apa pula ini......kolak daging ha?" maklum BTL (Batak Tembak Langsung), memang tongseng mbak Menik yang kenthel nglendi itu lekat dengan manis, padahal kalau dagingnya sudah dikunyah "mak nyus!" lalu di telan....klenyer-klenyer... gurih dan pedas mericanya masih nempel ditenggorokan lembut, ibarat lukisa, sapuannya tipis dengan opacity kisaran 35%, tentu itu karena dilidahku yang taste jawa juga. Mungkin bagi lidah Mbak Ria Hutahuruk rasanya nggak jauh-jauh dari kolak pisang dan kolang-kaling. Aku membayangkan seekor sapi yang sedang memamahbiak, sambil tiduran santai matanya merem melek mengunyah ulang rumput yang dikeluarkan dari perutnya,...... nyam-nyam-nyam...... lezat ya di lidah si sapi.
Mbak Pipit lain lagi, ia yang sudah menetap di Colorado hampir 16 tahun ini sering lupa mengucapkan kalimat dalam bahasa Inggris. Tetapi bukan seperti Pak anu yang kalau berbincang sok englen cas-cis-cus, suka nyelip-yelipkan istilah inggris dalam kalimatnya seperti, yes, oke, olrait, tengkyu, sori, bae-bae, bai nde we...gud..gud . Pak anu yang aktifis gereja ini kadang ga malu-malu memasukkan potongan lagu dalam kalimatnya : " I still loving you", "don't forget to remember me", "don't let me down" , meskipun kata-katanya kadang nggak nyambung dalam kalimatnya. Contohnya, ketika saya jumpa di parkiran Hypermart, saya mengundang untuk merayakan Paskah bersama di Padepokan jawabnya dengan lantang dan sumringan : "Oke, tengkyu yach...ail bi nder......wi wil rok yu!"....... Oedan tenan !. Akan halnya Mbak Pipit berbeda, ia lidahnya memang sudah menyatu dengan mBritish, meskipun dia di Colorado yang ngamerika itu, ia adalah pengajar bahasa inggris British spesialis phonetics di sana. Jadi setiap katanya jelas, sangat beda dengan bahasa si John yang dari nDarwin, OZ man !. Tapi anehnya lidah Mbak Pipit tidak berubah....terhadap urusan makanan......, maka Sate Pak Wahab dan Siomay Rawakucing selalu menjadi pilihan penting bagi pelayanan kepuasan lidahnya. Meskipun saya sedikit heran, ia tidak risih makan sambil bermain silat.....menepok-nepok lalat....... Weleh...weleh.....!!.
Tetapi tamu yang paling istimewa adalah PakLek Camat Badaruddin dari Mbanyumas itu. Pak Lek Badar begitulah aku menyapanya, beliau adalah saudara cucu misan dari Eyang Putri Kromo Gempol. Memang agak sulit juga membayangkan system kekerabatan di Padepokan ini, tetapi kami semua menganggapnya saudara begitupula sebaliknya. Beliau adalah seorang Camat di daerahnya. Memang sudah lama sekali kami tidak berjumpa, dulu ketika masih kuliah di APDN (perguruan yang mapramnya sadis itu) sering datang di Padepokan......, biasalah..kalau mahasiswa sedang bokek..., ha di padepokan ini Pak Lek Badar dapat menemukan solusi yang jitu, mengatasi masalah tanpa masalah ....perduitannya. Konon !.
PakLek Badar yang Camat itu kini mentereng, beliau datang dengan APV barunya berwarna coklat. Isterinya juga baru. Istri ke dua. Seumur Menik yach lebih tua sedikit...., ia penyanyi dangdut orkes tunggal di daerahnya sana. Janda beranak satu, anaknya si Tuyul itu.... Busyet... nakalnya pol!. Namanya Amsir, tapi aku menyebutnya Tuyul, tampangnya mirip Mas Tukul di empat mata, bedanya hanya dalam ukuran: Tukul mini. Mungkin Mas Tukul waktu kecil ya semacam si Tuyul Amsir ini. Logatnya ngapak-ngapak mbanyumasan, terasa lucu di telinga Tole yang kadang ga bisa menyembunyikan rasa gelinya. Tampang si Tuyul sih ga masalah....., tapi kelakuannya itu loh.....ampuuun...., si Tole kelabakan di buatnya. Entah sudah berapa robot Ultraman si Tole yang hancur dibuatnya. Saya kawatir, burung perkutut titipan Pak Lek Wanto mati lemas dioprak-oprak si Tuyul mbeling ini. Ma'ap ya Pak Lek, kalo si Kliwon ga mau ngoceh lagi......, kemarin dijepretin si Tuyul pake karet gelang........
Beda sama Mas Ustad anak PakLek Badar dari Bulek Tutik istri pertamanya. Ia kalem, alim, senyumnya manis dan sopan.... Tutur katanya lembut. Nama sebenarnya Husin, tetapi aku menyebutnya Mas Ustad, sebab ia pintar mengaji. Kepiawaiannya sudah diakui hingga tingkat kabupaten meski hanya menduduki juara Harapan ke II MTQ di sana. Nah, kedatangan keluarga Pak Lek Badar yang terpenting adalah untuk keperluan si Ustad Husin ini, karena cita-citanya ingin melanjutkan pendidikannya di Madrasah Ulujami. Untuk keperluan ini, tugas saya tertolong oleh Pak Pilot Arujito (tetangga se RT) yang ke dua anak lelakinya sekolah di sana. Yang merepotkan adalah memenuhi keinginan si Tuyul dan Emaknya yang ndangdut itu untuk pergi ke Taman Minilah, Monas, Dufan, Mekarsari, Ocean Park, mall ini-mall itu, pasar pagi, mangga dua dan seabreg keinginannya yang sudah di list dan ditempel di dashboard APVnya. Gendheng...!
Urusan makan Pak Lek Badar tidak masalah, yang penting ada Sroto Mbanyumas favoritnya en tempe mendoan. Saya ga tahu persis alasan Pak Lek Badar kawin lagi, kalau dari podem porem (tampilan luar), wajah Bulik Tutik lebih aristokratik dibanding dengan Mbak Enjel yang ndangdut itu. Paling-paling karena produk baru saja ya, atau demi prestis seorang camat ya ?, ah a'u ah.... . Nah untuk perkara Sroto-menyroto itu Mbak Enjel ini memang ahlinya..... wajar...wong asli mbanyumas kiyek....kepriben seh...
Sroto itu sejenis Soto, kuahnya kimplah-kimplah dengan potongan daging jerohan yang dibacem seperti usus limpa dan kerabatnya, lalu ditambah gorengan kedelai yang renyah kemlethik, kemudian ditaburi sporadis toge mentah dan diatasnya krupuk yang khas mbanyumas itu. Krupuknya berwarna merah, kuning dan hijau mirip warna-warna kontestan pemilu yang suka ngobral janji dan tidak dapat dipercaya, krupuk inipun begitu...... aku tidak menemukan rasa yang istimewa dalam warna-warni yang ndesit itu. Rasa Sroto itu sendiri...., yah lumayan...., cukup segar dimakan saat panas-panas..... . Nah, ternyata rasa istimewanya ketika Sroto itu dipadukan dengan tempe mendoan.... Yach , ini baru nyosss!. Tempe mendoan adalah tempe goreng biasa yang disaput tepung. Bedanya, tempe ini ukurannya lebar kira-kira selebar cover CD 12X12 cm, tetapi tipisnya.... hajubillah tuipissss..... mungkin kisaran 3 mm, edannya lagi tempe ini digoreng setengah mateng......, jadi ngepleh-epleh....., tidak menarik untuk ditampilkan. Tapi ketika itu disantap bersama kroninya si Sroto itu, maka terciptalah sensasi rasa yang sulit untuk diterjemahlkan dengan kata-kata......., maka Mas Bondan punya kata sakti......."mak nyosss!"
Tidak kalah sensasinya adalah cara Mbak Enjel dalam memotong tempe ini. Bukan Mbak Enjelnya loh, kalau dia pakai daster di dapur yah ... mirip mbok Iyah mudalah, yang membedakan hanya gemrincing gelang kroncong emas, setiap kali ia mengibaskan tangannya. Nah, aksinya memotong tempe tebal 3 cm menjadi 10 sayatan ini yang membuat decak kagum. Bandingkan saja dengan Sep Resto yang punya sertifikat Fillet, seharusnya Mbak Enjel layak mendapatkan sertifikat semacam itu.
Oh iya, Pak Lek Badar ini keluarga Muslim yang saleh. Taat sembayang lima waktu. Tetapi itu bukan hal baru bagi dunia Padepokan Sontoloyo, maka perkara satu ini sudah selalu dipersiapkan dengan baik di padepokan. Sudah sejak lama di lemari tersimpan seperangkat sholat, ada beberapa sarung dan sajadah, juga mukena, ini konon berasal dari ajaran yang diterima Mbah Sonto dari Romo Mangun. Mbah Sonto yang pengikut setia Romo JB Mangunwijaya SJ itu sangat berkesan ketika masih sekolah (di SMA IIIB Padmanaba Yogya) turut sesekali mengikuti kegiatan di Perkampungan Code. Perkampungan di pinggir kali Code dekat pembuangan sampah berbatas jalan dengan PUSKAT (pusat kateketik Kotabaru) ini adalah bukti konkrit peran gereja yang nyata dengan dunianya, dari perkampungan kumuh disulap menjadi perkampungan yang ciamik...!. Nah, Romo mangun selalu menyediakan sajadah dan sarung bagi koleganya yang berkunjung ke sana.
Di ujung kiri pendopo, bila anda lihat diplafonnya, apa sebuah symbol anak panah yang agak serong ke kiri......., anda tahu maksudnya?, itu tanda kiblat atau arah bersembahyang bagi saudara yang Muslim menghadap ke Ka'bah. Memang sering di padepokan ini kedatangan tamu dari kerabat, sahabat dan teman sejawat dari berbagai golongan dan agama. Maka jangan heran bila Kegembiraan Paskah di Padepokan Sontoloyo ini dinikmati berbagai kalangan. Para tetangga kanan-kiri, RT, RW, karang Taruna, Lingkungan, yang mereka tidak semuanya Katolik. Memang seharusnya demikianlah, kegembiraan Paskah untuk seluruh umat manusia....
Mohon ma'af bila tulisan saya bila kurang berkenan bagi para pembaca yang imannya beraliran berbeda, ekstrim atau yang mengklaim demikian...... . Paijo cuma mengatakan apa adanya, kami sekeluarga di padepokan Sontoloyo menaruh hormat kepada siapa saja yang menyembah Allah, memuji Allah dan meluhurkan Allah,..... perkara cara yang mereka lakukan berbeda itu hal yang lain. Kami di Padepokan Sontoloyo untuk mengekspresikan imannya kepada Allah menggunakan cara Katholik. Justru dengan cara demikianlah kami menyatakan doa yang diajarkan Yesus : "damai di bumi seperti di dalam surga". Bila dirasa tidak layak muat di situs ini, bung admin punya kuasa untuk menolak.
Tetamu perseorangan yang lain adalah Mas Yanto, ia jadi guru Bahasa Indonesia di SD Milik Yayasan Katolik di Balikpapan. Ia menjadi Katolik ketika kelas III SMP, Ia mengikuti katekumen pada Mbah Sonto. Setelah itu adik-adiknya menyusul, Sri Handayani, Sugiarto dan Asri yang minta di baptis menjadi Katolik juga. Sekarang Mbak Asri menjadi aktifis di Gereja Trinitas Cengkareng. Mas Yanto itu teman akrabku sejak SD, kami bermain dan melakukan hal-hal yang lucu, nakal dan tumbuh bersama hingga SMP, sejak itu hanya bertemu lewat surat atau SMS saja. Mas Yanto ini dulu anak Dukuh (Kepala Desa), anaknya baik tapi cengeng, korengnya di kaki banyak, tetapi sekarang sudah jadi pemuda yang keren dan cukup berisi. Aku heran, jenggot dan kumisnya tumbuh lebat, padahal dari keluarganya tidak ada yang berbulu demikian. Aku rasa ia ketularan Orangutan di hutan Kalimantan sana, tapi katanya ia rajin mengolesi telur udang yang dijemur 2 jam dibawah matahari......., ah bohong nkali ya...... nanti coba saya tanyakan bung Ribew!.
Adellinus dari Dilli Timor-Timur. Dulu dia adalah pelajar yang dikirim untuk belajar di Jakarta semasa Timtim masih menjadi propinsi Republik Indonesia. Dia, anak angkat Mbah Sonto. Adallinus anak yang cerdas tapi obsesinya terhadap dunia politik sungguh berlebihan. Ambisius. Hampir setiap percakapannya menyangkut soal politik Timor-timor. Fretelinlah, Ramos Hortalah, Pasukan Australia dan untuk perkara ini aku kadang nggak bisa tune......, jaka sembung makan dondong.....ga' nyambung bodong !..... . Orang Tim-tim tuh kan Katolik, tapi menurutku agak aneh, satu sisi mereka enteng saja ngomong soal keributan, pembantaian, serangan dan hal yang semacam itulah pada sesamanya yang Katolik juga ......., tapi disisi lain dia begitu hormat pada patung Bunda Maria. Si Tole kena semprot gara-gara membersihkan patung pakai Kanebo......, Adellinus memilih menggunakan kaos Dagadu barunya untuk melap patung itu.......opo tumon rek....!.
Ah, ceritaku cukup di sini dulu saja ya, tentang acara Paskahan di Padepokan nanti saja si Bagas yang nulis, cape nich mau istirahat......
........mas Paijo , ada satu yang belum jelas mas...... itu Mbak Lia yang dari Makasar itu siapa mas ?.....
Husss!..., itu no comment ya....., itu tunangan ane...., udah ah.., kita mau ke Pastoran nich, mau ketemu Pak Yani. Tahu kan ente......... ndaftar kursus dulu lah !.
"WONTEN ING NDONYA, KADOS ING SWARGA"




Comments
Sayang.....................................................!!!!!
Mas Paijo,
Lain kali jangan bikin penasaran, kalo cerita sampai selesai dong. Bagus kok ceritanya mas Paijo. Aku penasaran dengan mbak Lianya, tolong dijelaskan sedikit saja ya, salut mas.
Oscar.
terbawa suasana
Salut untuk paijo, ceritanya yang detail benar2 membuat saya terbawa suasana seakan2 saya berada disana. Ditambah lagi dengan tokoh karakter yang sangat unik dan lucu. Saya sampai baca 2 kali lho.
- Dimas Hermawan -
e-blog : http://www.gadgetindo.com
YM! : adh2000s
- Dimas Hermawan -
life-blog : http://www.duniakecilku.com
YM! : adh2000s
Pak Besut
Saya jadi ingat dulu di Jogja ada siaran dr radio Retjo Buntung yang menyiarkan acara mono dialog dengan tokoh Pak Besut, dengan gaya bahasa dan gaya penyampaian yang merakyat dengan ciri khasnya "Pak Besut ngudhar gagasan". Uf..I miss you Jogja..!!
salut
Salut Mas "Paijo".......
Suka bener sama gaya nulisnya yang deskriptif banget.
Imajinasi jadi ngalir kalo baca tulisan, Mas.
Biar selalu panjang tulisannya, tapi selalu berasa kurang panjang kalo lagi dibaca :)
Kolibri "What don't kill make tougher"
Kolibri
"What don't kill make tougher"
Ampun Pak Boss..... !
AMPUN BOSS........
Terima kasih Pak Bos MOT atas komentarnya. Sebenarnya bukan hanya
tulisannya saja yang terpotong, tetapi niat saya sowan ke Tlatah SekNeg jadi
tertunda. Niat Paijo sih menghadap Pak Bos MOT untuk silaturahmi sambil
memperkenalkan Si Lia……Boss!. Mengapa cerita soal Lia ini tidak dilanjutkan,
karena tidak semua pembaca perlu tahu, tetapi untus Boss MOT… ya harus tahu !.
Begini…., Lia nama lengkapnya Nathalia Watimena, dia bekerja di
Makasar. Dia aktifis GKI di sana.Kami sudah sepakat mengencangkan ikatan perkawanan kami dalam tali perkawinan (sebenarnya Cuma beda
tipis antara ‘a’ dan ‘I’…tapi duh ribetnya!!). Kami
memang ada sedikit perbedaan, maka setelah konsultasi dengan Pastor disepakati perkawinan
di Gereja Katolik, jadi kami saling
dapat menerimakan Sakramen Perkawinan. Untungnya ternyata baptisan Lia itu
sudah diakui sah menurut gereja kita, jadi tidak perlu lagi di baptis ulang…. .
Hebatnya, setelah beberapa kali ikut misa di Gereja Santa Maria Tangerang, Lia
kelihatan enjoy dan happy…… seperti ada
sesuatu yang ia temukan di sini. Hampir setiap saat ia menyenandungkan Ave Maria ………. . Mbak Menik yang
giat koor di lingkunganpun tidak semerdu itu (bukan karena ia calonku loh…..,
itu diakui sendiri oleh Mbak Menik). Mungkin Pak Boss sudah pernah
mendengar suara Celine Dion atau Mariah Carey menyanyikan lagu itu, tapi coba
bayangkan kalau lagu itu dinyanyikan oleh Nanna Muskoury atau Sherly Bassey.
Nah, ……nyanyian Lia adalah perpaduan keduanya.
Setiap kali “Ave Maria” disenandungkan Lia, seluruh penghuni Padepokan
seperti tersihir. Mbah Sontopun akan segera menghentikan suara HIFI neng-nong-neng-gung….
Gamelan jawa, demi “Ave Maria” oleh Lia
ini. Begitupula si Stingky anjing kampungku, akan absen menggonggong meski
digoda anak-anak. Mungkin ini sebabnya, akhir-akhir ini si Bagas enggan
bersenandung di Kamar mandi (malu ngkali…. Suaranya pas-pasan heheheee…).
Pas Boss MOT yang budiman, suara yang keluar dari mulut LIa itu sungguh luar
biasa, meskipun lembut…lalu kadang-kadang keras da lepas…...mengayun, seperti
merasuk dalam pembuluh darah…dan menggetarkan, mungkin ini muncul dari
penjiwaan yang dalam. Memang akhir-akhir ini dia begitu getol belajar tentang
Maria dan berdevosi pada Bunda Yesus itu. Terima kasih Tuhan, kau kirimkan aku,
kekasih yang luar biasa……., tapi aku takut juga Ya Bunda, jangan-jangan
cintanya padaMu jauh lebih besar
daripada cintanya padaku………. Sorry I’m jealous Mam ….
Apakah aku berlebihan Pak Boss?, tidakkan ?!......, coba bayangkan…,
kadang di dapur sambil memasak ia bersenandung begitu….. . Oh iya….,
ngomong-omong soal dapur… sepeninggal Mbak Enjel yang ndangdut itu, kini
dapurnya dikuasai Lia. Maka menu Padepokanpun menjadi lebih bersemarak, ada
ikan kedondong, kohu-kohu, bunga papaya yang ditumis pakai lemak babi, ikan
asar (anak cakalang), colo-colo, patatas rebus dan papanyo…..wehweh…..
pokoknya top..top..top en margotop !. Pak Boss sebaiknya sesekali mampir di
Padepokan ya. …….. . Mbah Sonto komentarnya begini : “cuma ada satu jenis
makanan yang beta deng Tole seng bisa makan yaitu RW heheheee....”
Uh …ma’af, selayaknya kami yang datang pada Pak Bos MOT. Memang kami
ada perlu penting, menyangkut kehidupan sosial nih. Maksud Paijo, mau Tanya-tanya
sedikit kepada Pak Bos yang buntutnya pakai Titahelu, maklum si Lia ini kan
buntutnya Watimena….eh siapa tahu masih ada koneksinya…… . Memang sekarang ini
nama yang mirip sering tidak berhubungan samasekali kekerabatannya, seperti Ken
Arok dengan Ken Norton….., tapi konon……. Mel Goa itu masih kerabat dekat Mel
Gibson …lho…… . Konon man, konon….!. (Si Smile langsung mo mangap aja…!).
Baik Pak Boss,
sampai jumpa di Tlatah Sekneg, nanti saya bawakan kohu-kohu dan tumis bunga papaya, OK........
"SEMBAH BEKTI KAWULO....DEWI MARIYAH..... KEKASIHING ALLAH"
kenalan yuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuk
Mas Paijo yang baik,
saya tau apa yang Mas Paijo lakukan adalah hal yang terbaik untuk Mas Paijo dan keluarga, yang penting bahwa Gereja Katolik mengajarkan satu untuk seribu tahun
That means u have no choice to................your live.
oscar.
kalo produser
bos MOT ganjen ye pake kenalan segala,apa coba???
jgn mas paijo,nanti bos MOT minta didongengin trus tiap mlm wkakakak
guyon loh BOS MOT smile......peace
Wah kalo sy produser ta angkat n kontrak mas paijo buat siaran telenovela sanmarista loh.
BAGUS2 ceritanya bnr kt bung kolibri bs merasuki ceritana.
mau lg donk mas paijo...........
heheheheheh
kalo perlu buat berseri kayak sinetron di TV
caiyo mas PAIJO
OH YOGYA.....
OH DJOGDJA…..
Waduh… Ati
kecut rasa kemrungsung , mas Petruk guyonane. Pak Besut lan Retjo Buntung, Gathuk
ngayojane…..
Wah ini mungkin hanya kebetulan
saja ya, mas Sigit nyenggol Pak Besut dan Radio Retjo Buntung, trus buntutnya
kangen Yogya weh…weh…wehhh… melu kangen jadinya mas…. Memang tidak salah,
cerita mbah Sonto ada nuansa Pak Besut di dalamnya. Mungkin banyak pembaca
kurang paham siapa Pak Besut itu, baik lain kali kalau ada waktu akan saya
tulis secara khusus tentang Pak Besut.
Gambaran sepintas tentang obrolan
Pak Besut, yaitu suatu acara di Radio Republik Indonesia stasiun Yogyakarta
yang sungguh merakyat. Lewat tokoh-tokoh Man Djamino, Mbakyu Santinet, dik
Asmonah dan Pak Besut menghibur rakyat
sekitar Yogya dengan guyonan parikenonya.
Meskipun sepintas terasa seperti candaan biasa sehari-hari, tetapi ada
nilai-nilai yang selalu terselip dalam scenario obrolannya. Ada keberpihakkan pada rakyat kecil,
nilai-nilai keadilan dan kasih yang selalu dikemas rapih dalam banyolannya.
Tidak banyak yang tahu bahwa Pak Besut itu bernama asli Pancratius Suradi
Wardoyo, seorang Katolik yang taat.
Ma’af mungkin kedengaran sok tahu, tapi benar bahwa mbah Sonto ketika sekolah
di Yogya pernah indekost selama 3 tahun di Gondomanan, satu lingkungan sama Pak
Besut. Gerejanya di Kidul Lodji (Kala itu
Pastornya Rm. Moerabi), salah satu gereja yang diarsiteki Romo Mangun itu,
dahulu percetakan Kanisius ada di sini. Jadi capet-capet (dikit-dikit) tahu tentang Pak Besut ini.
Bung Sigit tidak keliru bila
melihat ada nuansa Pak Besut dalam script keluarga Mbah Sonto, karena mbah
Sonto juga penggemar berat Pak Besut. Ada beberapa bidang kesenian rakyat Jawa
yang diminati Mbah Sonto dan mempengaruhi pola penuturannya seperti Ketoprak
Cokrodjijo, Pangkur Djenggleng ala Basiyo, Wayang kulitnya Ki Hadi Sugito dan
Mas Parman. Begitu pula warna Pak Ageng dan Mr.Rigen dalam kolom Harian
Kedaulatan Rakyat Yogya yang ditulis oleh Umar Khayam. Tentu penuturan mbah Sonto
tidak dapat disejajarkan dengan maestro seni rakyat jawa ini, yach..masih dalam taraf
belajar, maklum Mbah Sonto bukan orang Jawa tulen (lahir di Ruteng Flores NTT, moyangnya berasal dari kampong Nunukae di
bawah kaki gunung Abulobo), idep-idep melu nguri-uri kabudayan jawa kang
endah lan edi peni… nggih mas Sigit.
Radio Retjo Buntung yang berada
di kampung Jagalan adalah salah satu radio yang mempunyai kenangan khusus juga
buat Mbah Sonto. Kecuali radio itu dulu marak stasiun radio di gelombang MW (Gelombang FM belum ada) di
Yogya, ada Radio Bikima, EMC dan Geronimo di zaman Mbak Djatu Parmawati ngetop.
Nah Radio Retjo Buntung ini menjadi favorit mbah Sonto, karena setiap jam 14.00 mata
acaranya adalah Pilihan Pendengar (request), lagu pembukanya selalu “Lea”….. hitsnya
The Cats ( “…..how do you feel…, loosing
the rose …..nananaaaa………dst”), disaat itu mbah Sonto sedang menyantap SGPC
(segopecel) dan tempe goreng….. rodo kesereten sithik….
Kapan kondur ngetan mas……, ampun kesupen njawil mbah Sonto nggih……….
"RAHAYU KANG TINIMBALAN NDEREK BOJANA DALEM"
Woo...!!
Woo...!! Pak Besut itu di RRI to..tiwas seingatku di Retjo Boentoeng je! Doeloe tuh klo dengerin 'gagasannya' P Besut sampe serumah ikut nimbrung semua! Uhm..klo di Retjo Boentoeng tuh yang cerita monolog dalam bahasa jawa itu ya Mas..judul acaranya apa itu..aku lupa!! GBU.
Waosan Basa Djawi
Aku ngerti maksudnya Pak Sigit, karena aku dulu suka sekali mendengarkan: Waosan Basa Djawi sesarengan Abas CH. Nggih to? Mas Sigit gak suka Romantika dan Kehidupan? Hehehe... Atau Tutur Tinular dan Brama Kumbara?
Selamat bernostalgila dengan "suasana jogja" yang ngangeni.
Hayoo..! Ternyata Romo ini
Hayoo..! Ternyata Romo ini ngefans sama Raden Bentar juga yaa..! Ato malah salah satu pengisi suaranya? Ketahuan deh..!! He..he.., aduh maaf,.. jadi nglantur nih speak speak bout Jogja-nya!