Pemberdayaan Kaum Muda
Masa muda adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, yang dialami sekali saja selama hidup dan tak pernah terulang lagi. Masa pengembangan diri dalam segala segi, sehingga perlu diupayakan pembangunan katolisitas yang memadai karena mereka sering menghadapi aneka tantangan dalam kehidupannya sehari-hari. Tantangan yangyang tidak mudah diatasi.
Tidak hanya soal tantangan hidup, kaum muda juga sering mengalami ketegangan dengan generasi tua. Di satu pihak, kaum muda memiliki gejolak, idealisme, dan cara hidup yang khas, misalnya: kreatif, mencari yang baru dan mengadakan perubahan, selalu berpikir ke depan. Di lain pihak, orangtua yang cenderung merasa mapan tidak mau berubah dan berkreasi, dengan ucapan
”tidak usah neka-neka”, sehingga menutup diri terhadap idealisme kaum muda.
Hal-hal seperti itulah yang senantiasa dihadapi oleh kaum muda sekarang ini. Apa yang dapat kita upayakan agar mereka mampu tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang dewasa iman dan pribadinya? Apa yang dapat kita upayakan untuk memberdayakan mereka sehingga mereka mampu terlibat dalam mengembangkan iman umat?
Pertanyaan awal
Bagaimana situasi konkrit kaum muda di lingkungan Anda? Silahkan mengisi tabel di bawah ini.
No Keadaan Situasi Konkrit Kaum Muda Jumlah
01. Berapa jumlah kaum muda di lingkungan Anda?
02. Berapa jumlah kaum muda laki-laki di lingkungan Anda?
03. Berapa jumlah kaum muda perempuan di lingkungan Anda?
04. Berapa jumlah kaum muda yang berpendidikan:
a. SMP
b. SMA / SMK / Sederajat
c. Perguruan Tinggi
05. Berapa jumlah kaum muda yang sudah bekerja?
06. Berapa jumlah kaum muda yang belum bekerja?
07. Berapa jumlah kaum muda yang tinggal di tempat lain?
08. Berapa jumlah kaum muda yang aktif di lingkungan?
09. Berapa jumlah kaum muda yang terlibat di kepengurusan
lingkungan, wilayah dan paroki?
Materi
Situasi nyata keadaan kaum muda di lingkungan kita dapat menimbulkan kegembiraan dan
kebanggaan tersendiri bagi orangtua, tetapi juga keprihatinan yang mengajak kita untuk memikirkan upaya pemberdayaan bagi mereka. Pemberdayaan yang berguna, baik bagi diri mereka sendiri maupun keterlibatannya untuk mengembangkan iman umat.
Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2005 menempatkan kaum muda sebagai kelompok yang berperan strategis dalam upaya Gereja membentuk keadaban publik baru bangsa:
“Komunitas Basis dengan kaum muda sebagai gerakan utama perlu berperan aktif di dalam pembentukan keadaban publik baru tersebut. Inilah kontribusi sekaligus peran utama yang dapat dilaksanakan oleh Gereja Katolik Indonesia dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa di tengah-tengah kecemasan dan harapan masa kini dan dalam menyongsong masa depan yang lebih baik”.
Kaum muda yang diharapkan mampu berperan dalam membentuk keadaban publik baru bangsa harus didukung dengan aneka keutamaan hidup, sebagaimana dirumuskan oleh Drs. Philips Tangdilintin, MM: “OMK (Orang Muda Katolik) yang mengenal diri dan percaya diri sebagai Citra Allah, berwatak jujur, adil, bertanggungjawab, terbuka, disiplin, solider, beriman kokoh-kritis dengan spiritualitas martyria, mau dan mampu berperan aktif dalam hidup menggereja, serta mengemban misi sosial membangun keadaban publik” (Drs. Philips Tangdilintin, MM., Pembinaan Generasi Muda: dengan proses majerial VOSRAM, Kanisius, 2008).
Berdasarkan rumusan tersebut, kita dapat melakukan pembinaan, sebagai upaya pemberdayaan kaum muda, dengan memperhatikan 4 aspek yang tidak dapat dipisahkan, yaitu:
a. Kepribadian
b. Iman dan spiritualitas
c. Menggereja
d. Memasyarakat dan Bernegara
Upaya pemberdayaan ini diharapkan menghasilkan buah yang berkelimpahan, yaitu mereka mampu menjadi rasul bagi kaum muda itu sendiri “Bertambah pentingnya peran mereka dalam masyarakat itu menuntut dari mereka kegiatan merasul yang sepadan. Sifat-sifat alamiah mereka pun memang sesuai untuk menjalankan kegiatan itu. Sementara kesadaran akan kepribadian mereka bertambah masak, terdorong oleh gairah hidup dan semangat kerja yang meluap, mereka sanggup memikul tanggungjawab sendiri, dan ingin memainkan peran mereka dalam kehidupan sosial dan budaya. Bila gairah itu diresapi oleh semangat Kristus dan dijiwai sikap patuh dan cinta kasih terhadap para gembala Gereja, maka boleh diharapkan akan memperbuahkan hasil yang melimpah.
Mereka sendiri harus menjadi rasul-rasul pertama dan langsung bagi kaum muda, dengan menjalankan sendiri kerasulan di kalangan mereka, sambil mengindahkan lingkungan sosial kediaman mereka.” (AA 12).
Pertanyaan Pendalaman
Berdasarkan situasi dan kondisi kaum muda diatas, upaya pemberdayaan apa yang mungkin dilakukan?
Sumber: Buku Panduan ADVEN
Tim Katekese Keuskupan Agung Semarang



