OALAAAHHHH…JEBULNYA……, RAMAH-TAMAH ADALAH BUAH-BUAH AHKLAQUL KARIMAH ….. jilid satoe.
GEGER MBAH SONTO KABUR....
Hari Kamis siang, ada kegemparan
besar di Padepokan Sontoloyo. Pasalnya memang berat : MBAH SONTO raib, tak
tentu rimbanya. Tentu seluruh isi padepokan kalang-kabut dibuatnya. Paijo
selaku cucu tertua sertamerta menggelar sidang darurat, semua cucu harus segera
berkumpul. Si Ole hanya sesenggukan sambil sesekali menarik ingusnya yang segan
jatuh dari hidungnya. Tangannya memeluk kentongan besar dan Ultraman erat digenggamannya
menyiratkan kesedihan yang dalam…., mbah Sonto kesayangannya hilang…… .. .
Paijo, sesekali memutar telepon,
napasnya tersengal-sengal…. Adrenalin terpompa deras, keringat dingin membasahi
wajah. Gelisah. Cemas. Takut dan segudang perasaan campur baur menghantui
disiang bolong ini. Setiap dering telpon menggetarkan kuduk, jantungnya
berdegup kencang dan memompa aliran darah kian deras…., jangan-jangan telpon
dari penculik yang menuntut tebusan!!. Memang akhir-akhir ini berita di
televisi marak dengan kisah-kisah penculikan. Tapi biasanya yang diculik
anak-anak kecil, bukan kakek-kakek yang sudah bau tanah seperti mbah Sonto ini.
Pikirannya melayang pada bayangan “Jack The Ripper” si pembunuh berantai yang kian ngetrend di persada ini..., lalu
mutilasi…. Oh nooooo……. . Mata Paijo nanar bila membayangkan hal itu.
“Kring…….nggg, ………kring……..ngng,……….Kringng….ngngnnnnn!!!”, tiba-tiba telpon rumah berdering nyaring
membuyarkan lamunan. Lamunan yang memang mengerikan, tetapi dering telpon itu
justru membuatnya ketakutan setengah mati….. ini sungguhan!. Rasa takut
membayangkan …jangan-jangan…. Ah….., Paijo seperti tertanam di kursi, tangannya
tak kuasa meraih gagang telpon. Dering berikutnya tidak sempat berbunyi, ketika
si Ole melompat dan menyambar gagang telpon, ia rindu suara kakeknya. Paijo
kelu, giginya gemeletuk (persis si Tom
menunggu ledakan granat yang dipasang Jerry), ingin rasanya ia melarang si
Ole mengangkat telpon itu…tapi….
“Hallooo…..” suara diujung sana sedikit melengking…., lalu dengan
gembira si Ole menyambut suara yang sudah dikenalnya itu : “ Hallo Mbak menik…..ini aku, …Ole mbak….!!”, Paijo menarik napas
panjang….. wessss…sss…lega….
“Iyo..iyo Le…, Mas Ijo ke mana Le…., kok ndak diangkat sih….?!”
Protes Mbak Menik , dengan Cekatan Paijo merampas genggaman telpon si Ole.
“Heh….Nik, dimana kamu ?, ini gawat Nik…koq lama banget sih !?”
sergah Paijo sewot.
“Loh dimana kepriye……, aku ini di depan gerbang dari tadi…, ini masih
digembok…, tak ketok-ketok ga ada yang dengar,…. Barusan saya telpon ga segera
diangkat…. Lha koq malah marah….. kepriye sih !” segera Paijo melompat ke
kotak kunci…, ia sadar …… tadi kesadarannya terganggu, sehingga dengan tidak
sadar ia mengunci gembok pagar. Tadi ketika ia menyuruh si Bagas menyusur jalan
mencari Mbah Sonto pakai motor, saat itu pikirannya di puncak harubiru..
“Terus…. Belum ada kabar dari Bagas ..mas?” , Tanya Mbak Menik pada
Paijo yang dijawab dengan gelengan lemah dan tatapan yang lesu. “ Terus piye mas……?” Tanya mbak Menik
mendesak. Dengan langkah gontai Paijo membisu menuju ruang pendopo, lalu
membenamkan badanya disofa sedalam-dalamnya. Baru kali ini dirasakan sofa yang
sering diduduki ini benar-benar besar dan nyaman…
“Njur piye to Mas……, koq malah ndekem begitu ?!!!”, kecemasan Mbak
Menik yang dalam menambah stress Paijo….. otaknya stuck, ….. seperti menemui jalan buntu .
“Lho…. La piye ?? gimana lagi…, kita tunggu hasil investigasinya si
Bagas saja ya..”, jawab Paijo sekenanya. Hanya lenguhan panjang
terdengar dari mulut Menik ketika denjatuhkan diri di sofa. Sejenak kemudian,….Krrrrrrinngggggg…..!!!..., Mbak Menik
sontak meloncat demi didengarnya dering telepon.
“Hallo…….” Sapa Mbak Menik, lalu
diujung sana :” Ya Hallo…, tolong kirim
lima zak semen, satu kubik pasir… bata 300 saja ya..!”. …..??? Serta-merta
dipotong sewot oleh Mbak Menik :” Wo
semprul nih…., salah sambung ini pak ….!!!”
“Yok opo rek….., jare salah koq diangkat see…..!”, terdengar gerutu
berdialek Jowo Timuran diujung telpon,
membuat Mbak menik keqi setengah mati. Telpon lalu ditutup dengan geram. Rrrrrghhh!!!.
Penilpon nyasar tadi menambah
suasana hati Mbak Menik bertambah kacau. Ia berusaha menenangkan diri. Sesaat
kemudian… Kringgggg………..!!!, dengan
sigap Mbak menik mengangkat telpon seperti tidak ingin memberikan kesempatan
pada sang telpon untuk berdering kedua kalinya.
“Hallo….” Suara nya diusahakan semanis mungkin….. Lalu dari ujung
sana : “ Oh Hallo, ini yang tadi ya?, wo
koq keliru lagi ya?, ini bukan Toko Tetap Jaya ….!”, lalu…GUBRAAG…!!!,
telponpun menjadi korban kekesalan Mbak Menik. Ia dibanting dengan sadisnya.
Dadanya terlihat naik turun menahan kesal.
Belum hilang gema suara Gubrag di
kendang telinga, …telpon melengking lagi. Kali ini dengan kecepatan mendekati
Lucky Luck (lebih cepat dari bayangannya),
Mbak Menik dengan cekatan menyiapkan semua pelor sumpah serapah untuk
ditembakkan ke penelpon iseng dengan tanpa basa-basi…
“ Heh semprul..!!!, ini bukan Toko
Bangunan…^%%$&**&%^???....%^^*&*&%$##^^^* ( bahasa dari Suku Kudisan, tak layak
diterjemahkan…red)……..!!” terpotong dari ujung sana yang juga melengking.
“Mbakkk…. Ini Bagas Mbak…., Ba-gas!!!...., koq marah-marah…. Sabar mbak”,
demi mendengar suara Bagas, hati MbaK Menik seperti tersiram air es ….sejuk.
Paijo menangkap gelagat melegakan terus berusaha mendekat ingin mendengar
pembicaraan selanjutnya.
“Gimana Gas…, Mbah Sonto ada baik-baik toh….???” Tanya Mbak Menik
penuh harap bercampur kecemasan.
“Waduh….., gimana ya ?” Bagas seperti kebingungan menjawab.
“Gimana ya gimana… koq pake waduh segala…. Kenapa?” desak Mbak
Menik sedikit terisak.
“ma’af Mbak, …. Aku sudah menyusuri jalan sampai ke gereja segala…… gak
ketemu…” jawab Bagas ..disusul ledakan raungan Mbak Menik. Si Tole ikut melolong.
Suasana kalut menyelimuti
penghuni Padepokan. Sungguh misterius, bila Mbah Sonto Raib. Beberapa saat pilu
terhanyut oleh suasana hati
masing-masing. Ada beberapa jangan-jangan yang menyebabkan beliau raib.
Jangan-jangan beliau diculik. Jangan-jangan beliau nyasar. Jangan-jangan beliau
sengaja pergi. Jangan-jangan….
“Yuk kita pecahkan misteri ini dengan tenang dan pikiran jernih..!”,
Paijo bangkit berdiri mengajak
adik-adiknya berpikir. Suaranya parau namun cukup berwibawa dan teduh……, Mbak
Menik menyusutkan isaknya, si Tole berusaha keras menghentikan tangisnya.
Sayang ingusnya susah diajak kompromi , tetap saja sentrap-sentrup.
“Mari kita mulai dengan mengumpulkan fakta”, Paijo mengawali
kata-katanya mirip Tuan Hercule Poirot
dalam kisah misteri Agatha Christie, sambil mondar-madir ditengah ruangan.
“Pertama, Mbah Sonto pergi dengan sepeda kesayangannya pukul 8.30 untuk
keperluan mengambil jahitan baju ke Penjahit Asri di Jalan Hasyim Asyari”
“Kedua, Handphonenya masih ada dikamar, ….entah tertinggal …atau
sengaja ditinggalkan…”
“Ketiga, menurut informasi penjahit, memang benar Mbah Sonto mengambil
jahitan dan kondisinya biasa saja…..”
“Keempat, usianya yang sudah uzur dan kesehetannya belum pulih benar……”
“Kelima, sekarang sudah pukul 14.30 berarti sudah seperempat hari
lenyap dari ………..” suara Paijo terputus, karena semua pendengarnya
berhamburan keluar dengan sukacita.
Mbah Sonto menstandarkan sepedanya
didepan gerbang, lalu mengusir kambing-kambing si Jepri yang masuk ke halaman. “ Hwei…, pada bento semua,….. gerbang ini
harus ditutup bentoooooo, ini semua tanaman habis dimakan….. JOOO….., suplirmu
habis Joooo…..” mbah Sonto mengayun-ayunkan
potongan bamboo mengusir kambing-kambil jail. Sontak Paijo terhenyak mendengar
tanaman suplirnya menjadi korban…
Menik dan Tole tidak kuasa
membendung rasa sukacitanya, maka dipeluknya Mbah Sonto erat-erat. Mbah Sonto
jadi heran alang kepalang, ada apa gerangan?, pikirnya. Entah apa yang mereka
perbincangkan…., lalu terdengar derai tawa dari Mbah Sonto dan kejengkelan nan
kenes dari Menik. Si Tole meninju-ninju pantat Mbah Sonto…. Kali ini dibiarkan
saja. Paijo tersenyum kecut sembari menuntun sepeda masuk halaman, ia berbisik
pada Bagas.
“Rule number one…?!”, kata Paijo sambil mengacungkan jari
telunjuknya, giginya tetap mengatup…geram..!. “Parents can do no wrong…..!”,
sahut si Bagas nyinyir.
“Rule number two…?!”, lanjut Paijo…. “If Mbah Onto wrong……..”, Bagas menyahut..
“HUEEESSSS…… woooo bocah Bento…., nyindir ya !?!!!” mbah Sonto
rupanya mendengar percakapan mereka…..
Pagi itu begitu cerah. Kamis 19
Juli 2008. Mbah Sonto merasa sehat dan kuat. Ingin hatinya bernostalgia dengan
sepeda kumbang kesayangannya menyusuri jalanan Tangerang. Kebetulan jahitan
baju batik di Asri tailor sudah kelar dua hari lalu. Kain Batik hadiah Natal
dari Pak Lek Wanto bercorak bunga krokot dengan sunggingan pesisir pekalongan
ini niatnya akan dipakai untuk acara kawinan rekan Sanmarista nanti. Konon Bung
Smile dalam waktu dekat ini akan melangsungkan pernikahan, ah tapi cuma
….konon.
Bersepeda ria di Tangerang (hari gene) memang tidak aman di jalan
raya, maka Mbah Sonto memilih menyusuri jalan kampong saja. Dari Padepokan
menuju jalan Hasyim Asyari dapat ditempuh memotong kampong Sembung, lalu
perumahan Bona, memotong Kampung kelapa, terus
masuk kompleks Modernland, kira-kira diperlukan waktu sekitar 20 menit.
Pukul 8.30 Mbah Sonto pamitan Paijo. Diperkirakan kisaran pukul 9.30 sudah
sampai di Padepokan lagi. Tapi ternyata, Mbah Sonto yang gigih dalam
kedisiplinan, hingga tengah hari belum kelihatan batang hidungnya. Itulah yang
membuat Paijo kalang kabut dan seisi padepokan lintang pukang.
Ketika menyusuri perkampungan
itu, Mbah Sonto terkagum-kagum disuguhi pemandangan yang baru. Beberapa gambar
dalam ukuran besar terpampang disudut-sudut gang. Lelaki dengan senyum lebar,
memakai topi putih, ada yang bertopi laken koboi, ada juga yang berkopiah.
Pakaian yang dikenakanpun bervariasi, ada pakaian pegawai negeri sipil, ada
yang berbaju koko, ada yang berpakaian santai. Latar belakangnyapun
bermacam-macam. Kata-kata yang menyertai gambar itu pun beraneka ragam. Beliau
ini adalah Walikota Tangerang…. Bapak Wahidin Halim. Dan ada dua suku kata lagi
yang membuat mbah Sonto berpikir keras untuk menafsirkannya. Kata itu berbunyi
: Ahklakul
Qarimah. Mbah Sonto mencoba menggali di lipatan-lipatan ingatannya,
tetapi rupanya memang belum pernah tertanam di otaknya. Apa ya?
……………………….ceritanya dilanjutkan kelak dalam jilid doewa………………..
"AMBA PRATIGNYO MRING GUSTI YESUS"



