OALAAAHHHH…JEBULNYA……, RAMAH-TAMAH ADALAH BUAH-BUAH AHKLAKUL QARIMAH ….. jilid doewa.
MBAH SONTO DI PADANG GOLEB
Kisaran pukul 9.00, mbah Sonto sudah sampai di Asri Tailor.
Penjahit fanatic mbah Sonto ini memang unik. Asalnya dari Pontianak Kalimantan,
meskipun dia penjahit, tetapi tidak pernah pakai baju, paling pakai singlet,
kadang tidak berbaju sama sekali. Soal kualitas jahitan, nomor wahidlah!. Mbah
Sonto selalu teringat pepatah jawa yang sebaiknya dihapus dari khasanah
peribahasa yang berbunyi : “Sopo nggawe, nganggo” yang berarti siapa yang
membuat dialah yang memakai, …. Peribahasa ini sudah tidak tepat lagi buat para
tailor ini.
Sepulang dari Asri tailor, mbah Sonto kembali menyusuri
jalanan dalam perumahan Modernland. Kawasan para bangsawan borju Tangerang ini
memang Asri, setidaknya dibandingkan dengan Padepokan Mbah Sonto yang bernada Jadul dan sedikit ndeso. Dibalik
rapatnya pepohonan bamboo itu terhampar padang rumput hijau tempat orang-orang
berduit memukul-mukul si bola putih, golf !. Jangankan bermain golf, mengeja
kata golf dengan phonetics yang benar saja …sulit buatnya. Mungkin terdengar Golep atau pakai “b”… goleb ..begitu….. .
Lalu ada kuncung-kuncung putih dari tenda-tenda raksasa.
Katanya itu memayungi lapangan tenis. Kuncup-kuncup itu mirip tenda yang
digunakan di padang arafah menjelang melempar jumrah. Kokoh dan artistik. Bagi
Mbah Sonto, kawasan semacam ini mirip rembulan…., artinya terlihat olehnya
namun tidak terjangkau untuk dijejaki. Wah
elok tenan !.
Tiba-tiba seseorang meneriakkan namanya…, lalu lambaian
beberapa orang yang wajahnya sangat dikenal mengajaknya masuk. Mimpikah ini ,
pikirnya?. Ah benar…, itu bapak-bapak dan ibu-ibu yang sering dilihat di gereja
Santa Maria Tangerang. Lalu seorang lelaki diantara mereka berlari kearahnya.
Mbah Sonto menghentikan laju sepedanya didekat gardu satpam.
“Ayo mbah …. Ikut”,
ajak lelaki yang dikenalnya sebagai Mr. Gagimin…… setengah memaksa.
“Loh siapa yang kawin
di sini ?” Tanya mbah Sonto polos, dikira ada pesta perkawinan.
“Kawin opo toh?!....
ini peristiwa penting je…. , ayo ikut !”
desaknya dengan logat jawa yang kental sambil memegang stang sepeda.
“Loh peristiwa penting
opo toh?, koq sampeyan bolehnya heboh …luar biasa?!” Tanya mbah Sonto.
“Ini pertemuan
tokoh-tokoh penting wakil umat Katolik Tangerang dengan bapak Wali kota je… ayo!”
Wuiiihhh…, luar biasa hebat nih ..pikir mbah Sonto. Baru
saja pagi ini dia dikejutkan oleh pemandangan Sang Walikota dengan aneka
atributnya, kini ada tawaran bertemu beliau. Baru saja muncul beraneka
pertanyaan dibenaknya…., kini saat pencerahan itu datang tak disangka tak
dinyana. Tapi…….
“Walahhhh…., sampeyan
ini gimana to, ini memang peristiwa penting, tapi saya kan bukan tokoh penting,
apalagi mewakili umat Katolik…… rak yo aneh to “, Jawab mbah Sonto
keheranan.
“Woo ndak apa-apa,
kita Cuma duduk manis sambil dengerin…setelah itu makan…. Beres toh !”
ajaknya lagi, sementara dari kejauhan ibu-ibu kenes setengah tuwo
melambai-lambai mengajaknya juga.
“Waduh ini sepedanya
terus ditaruh mana?” Tanya mbah Sonto mencari alasan penolakan. Sejenak
lelaki itu berbincang dengan Satpam , lalu satpam ini menunjukkan arah sebrang
jalan.
“Mbah sepedanya
dititipkan saja di warung sebelah situ…”, tanpa persetujuan mbah Sonto
sepeda itu dibawa menuju warung yang agak tersembunyi dari jalan besar. Mbah
Sonto serba salah tingkah dibuatnya. Dia sebenarnya ingin sekali mendengar
tokoh yang terpampang disudut-sudut gang yang dilewati, tetapi sebenarnya dia
bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Apalagi untuk sebutan tokoh Katolik,…wrakadah…… jauh panggang dari api !. Wakil umat Katolik Tangerang ??,
waduh….., bukan lah youw!.
……………………………………………………………..
Ruang pertemuan di Padang Golf Modern itu telah dipenuhi
orang, eh… bukan sembarang orang…, tokoh
perwakilan umat Katolik Tangerang. Ada tiga belas meja bulat besar bertaplak putih
dikelilingi kursi-kursi peserta, mirip setingan acara Tembang Kenangan asuhan Bob Tutupoli di TV. Memang tidak salah,
orang-orang yang terlihat adalah orang-orang penting di gereja. Setidaknya itu di
mata Mbah Sonto untuk kawan-kawan yang berasal dari perwakilan Paroki Santa Maria yang dikenalnya. Selain itu
perwakilan dari Paroki diaspora Bernadeth dan Paroki St Monica Karawaci. Hmmmm…
orang-orang TOP lah, Mbah Sonto
berasa sangat minder. Begitulah adanya,
menyadari hal itu, mbah Sonto hanya berani duduk di deretan waiter alias
pramusaji makanan di ujung paling belakang. Beruntung juga, karena supervisor
pramusajinya cantik lho, ckckck……!.
Seorang lelaki yang menjadi MC sekaligus moderator,
memaparkan tatacara pertemuan ini, terutama adalah susunan acara. Mbah Sonto
tidak terlalu memperhatikan apa yang disampaikan sang MC, tetapi lebih tertarik melihat komposisi
peserta yang hadir. Para pastor hadir, dari Paroki St. Maria Romo Sri, Romo Edi
dan Romo Kokoh yang hadir, meskipun Romo
Kokoh karena ada tugas kunjungan harus meninggalkan pertemuan terlebih dahulu.
Romo Sri, satu-satunya pastor yang mengenakan jubah. Romo Edi, seperti biasanya
berpenampilan biasa-biasa saja berkostum hitam-hitam. Orang yang belum kenal beliau
bisa mengira preman Cikokol,…. Padahal……… . Umumnya berpakaian batik, beruntung
mbah Sonto membawa baju baru dari penjahit. Bajunya gres ….. masih bau cina!.
Dari mencuri dengar bincang-bincang para peserta, ada yang
berpandangan negative tentang itikad pertemuan ini. Ada yang berpendapat bahwa
ini dilakukan Pak wali kota demi pemilihan untuk periode berikutnya, sebut saja
…kampanye terselubung. Mungkin tidak
salah. Ada juga yang sudah bersiap dengan segudang permasalahan yang berisi keluhkesah
untuk diberikan jalan keluar yang tuntas oleh beliau. Ada juga yang beranggapan
ini hanya sekedar basa-basi politik. Namun banyak juga yang berpikiran positif,
bahwa pertemuan ini bertujuan baik untuk gereja dan kota Tangerang.
Dalam kalkulasi Mbah Sonto, Pak Walikota WH ini tidak
terlalu berharap dari suara umat Katolik untuk memilihnya. Suara umat Katolik
terlalu kecil dibanding posisinya yang sangat kuat di Tangerang. Boleh dikata
Beliau tidak ada pesaingnya, maka dapat dipastikan bila untuk pemenangan
walikota berikutnya tidak ada kesulitan buat beliau. Maka pertemuan ini bukan
untuk kepentingan itu. Pertemuan yang sama juga dilakukan untuk kelompok agama
yang lain. Tapi kalau dibilang proyek ‘tebar pesona’ sangatlah
mungkin. Setelah meraih banyak prestasi
nasional dalam kepemimpinannya di Tangerang, boleh jadi beliau mulai
mempersiapkan diri menjadi tokoh Nasional yang dapat berkiprah ke jenjang yang
lebih tinggi lagi dimasa yang akan datang. Salah satu kriteria seorang pemimpin
nasional ialah bila ia mampu berdiri ditengah dan mengayomi semua golongan
dengan adil. Untuk itu, beliau perlu membuktikan diri sebagai pemimpin yang berkualitas
tinggi.
……………………………………………………………………………………………
Waktu telah bergulir lama dari saat yang dirancang
sebelumnya, rombongan Bapak Walikota akhirnya datang juga. Maka pertemuan yang sarat protokoler ini mulai di
gelar. Di awali dengan lagu Indonesia Raya yang membuktikan bahwa umat Katolik
di sini adalah warga Indonesia tulen yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama
dihadapan Negara seperti warga Negara Indonesia yang lain. Lagu Kebangsaan yang
dipimpin oleh suster ini terdengar lantang dan gagah. Mungkin karena umat
Katolik sudah terbiasa dengan lagu-lagu pujian dan fasih solmisasi sehingga
tidak terdengar sumbang sedikitpun. Mbah Sonto sendiri menyanyikan dengan
tergetar hatinya, ini kali kedua ia menyanyikan dengan penuh perasaan dan
menggetarkan. Kesempatan yang lain yaitu dikala ikut mensuporteri team
Sepakbola Nasional di Senayan ketika melawan Arab Saudi, ….. yang akhirnya
kalah juga….
Selanjutnya doa , dipimpin oleh Romo Sriyanto. Suasana
begitu hening, hanya suara Romo Sri yang jelas artikulasinya, runut bahasanya,
membahana ruangan itu. Hadirlah Roh Kudus ditengah pertemuan ini, dan sungguh di
rasakan ada kuasa Roh Kudus dalam pertemuan ini. Tentu saja bukan karena Mbah
Sonto mempunyai karunia Berbahasa Roh atau mendapat karunia istimewa melihat
sepak terjang Roh Kudus beraksi, tetapi dari buah-buah roh yang nyata. Ada
kedamaian, ada sukacita, ada rasa persaudaraan yah … begitulah Roh Kudus yang
mbah Sonto pahami……, hehehe…. Cetek banget yah…!
Lalu sambutan Ketua Panitia acara ini, oleh Pak Anton. Sosok
satu ini adalah seorang yang mempunyai hubungan personal dengan bapak walikota,
seseorang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan yang sama-sama pernah
digeluti Pak walikota. Dunia pendidikan
adalah salah satu pilar yang dibangun Pak Halim dalam membangun Tangerang.
Dalam sambutannya Pak Anton menyampaikan keinginannya dalam balutan canda
katanya : “ saya bermimpi…., bapak
memberikan ijin pendirian gereja kami dan turut meresmikannya….” , lalu
disambut dengan riuh tepuk tangan…oplokoplokoplokkk…………….
Kemudian disusul dengan perwakilan masing-masing paroki
memaparkan kondisinya. Tentu saja dengan singkat, plus problematikanya. Paroki
Santa Maria menyampaikan fakta bahwa gerejanya sudah kesempitan untuk menampung
umat. Paroki Santa Monica yang belum mendapat ijin, bahkan sering direcoki
kelompok ekstrem dari daerah lain yang menghalangi perijinan mereka. Lalu Paparan
dari Paroki Bernadeth Ciledug yang tidak lagi memiliki tempat beribadat,
terlunta-lunta, untuk berdoa pada Tuhan.
………………………………..
Ironis memang, di Republik yang menempatkan urusan Tuhan itu
pada sila yang pertama, namun dalam kenyataannya sulit diwujudkan. Tidak ada
yang salah dengan falsafah dasar Republik ini, hanya saja implementasinya dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara masih jauuuhhhh dari harapan para pendiri
Republik ini. Kalau saja dihubungkan dengan urusan politik, apalagi kelakuan para
politikus yang ada …….. duh cepek deh
!..... . Yuk kaum muda Sanmarista kita belajar bernegara yang sehat, jangan
tabukan politik…, politik tidak selalu kotor, tergantung diotak siapa politik
itu melekat. Kita punya tokoh seperti Pak Oscar T. yang cukup asam garam dalam
dunia ini, mari menimba ilmu dari beliau.
Tentu saja dunia politik yang putih (jangan
terkecoh dengan Pak Oscar yang …….hitam ! red.). Civitas Dei dalam
kehidupan menggereja fine-fine saja…, nah Civitas terena ? kumaha? ……
Gereja memang tidak berpolitik. Gereja juga tidak boleh
dijadikan tunggangan politik. Tetapi umatnya sebagai pribadi adalah bagian dari
Negara, warga Negara. Ia mempunyai kewajiban dan hak yang sama dengan warga Negara
yang lain dalam menentukan arah hidup berbangsa dan bernegara. Berilah kepada raja….. apa yang menjadi hak
raja….., itu kata Yesus.
………………………………………….
Sesi berikutnya adalah kavling Bapak Walikota. Suaranya
teduh dan santai ……… eh dijilid tiga saja
yach….
"INGKANG MBIRAT DOSANING JAGAD.....NYUWUN KAWELASAN DALEM"




Comments
saluuut mbah Sonto....................
Walaupun saya tidak mengikuti acara tersebut diatas, tetapi dari laporan pandangan mata mbah Sonto memperjelas maksud dan tujuan daripada pertemuan tersebut. Saya sangat setuju bahwa untuk menuju kepada Bapak Bangsa perlu sekali untuk bertemu dengan masyarakatnya. Walikota bukan sasaran utama dari Pa' WH, akan tetapi bagimana jabatan walikota akan menjadi batu loncatan untuk menjadi Gubernur dan lain sebagainya adalah sesuatu yang sangat ideal bagi Pa' WH. Jadi sebagai umat katolik, kita perlu lebih banyak belajar agar bagaimana seseorang yang akan maju menjadi pemimpin dapat dilihat dar banyak sudut pandang. Sehingga kita juga dapat menentukan apa pilihan kita. Terima kasih kepada mbah Sonto atas pandangan matanya.
Oscar.
Ada yang lebih berkompeten .............
PLIS ... JANGAN PERCAYA BUALAN MBAH SONTO
Makasih Pak Oscar, tapi dimuhunken maap beribu maap, kerna omongan mbah Sonto tidak bisa dipercaya100 prosen. Maklum sudah uzur, memorinya agak terganggu dan lemot...
Sebenernya ada orang yang lebih berkompeten menuturkennya, terlebih soal perkembangam dari hasil pertemuan itu. Miturut selentingan yang berdenging di telinga sebelah kiri, pertemuan itu telah dipersiapkan sebulan sebelumnya, dengan anggaran yang tidak sedikit (paling tidak bila diukur dengan ketebalan kantong Mas Paijo).
Pertemuan itu pasti berbuah baik, hanya informasinya saja kita tidak..... eh belum ..... dapatken! . Mari kita tunggu informasinya sambil berdoa.
loh kok pake doa segala....trus doanya apa dong? . Maksud saya daripada manyun atau minum-minum miras, kan lebih baik berdoa. Doanya yang gampang saja : Bapa Kami.
Salam sejahtera buat Pak Oscar sekeluarga.