Who's New

karindo
paulus haryanto
cahya
dimas tofler
faizal pandev
kamsri
hndy
natasha irene
Veronica Lina
adykarya
gotry
puruaja

MBAH GONDHO MARUTHO SAKING O.S.A.K.A.

paijo's picture

MBAH GONDHO MARUTHO SAKING O.S.A.K.A.

 

Hingar bingar seputar Euro 2008 sudah mereda.
Gaungnya tidak seheboh yang diprediksikan para pakar si kulit bundar. Entahlah,
paling tidak, dibumi pertiwi nusantara ini tidak menyambut seseronok perhelatan
sepak bola sebelumnya. Dugaan sementara karena hari-hari dijelang Euro 2008
digelar terlebih dahulu diumumkan kenaikan harga BBM oleh pemerintah, wal
hasil, menohok urat kegembiraan rahayat kecil. Memang susah juga bersorak-sorai
menonton bola, bila perut keroncongan.

Uniknya, imbas kenaikan BBM tidak mengusik
Padepokan Sontoloyo, khususnya dalam mangayubagya
datangnya perhelatan Euro 2008 ini. Mungkin terkesan konyol, karena segala
aksesoris pernak-pernik sepak bola menghiasi pendopo padepokan. Mulai dari
bendera-bendera kecil team-team yang masuk putaran Euro 2008, logo-logo,
diagram pertandingan, jadwal-jadwal pertandingan hingga mascot Euro 2008
menghiasi padepokan. Mungkin kalau anda melihat sendiri pasti berkomentar : “norak” atau “ kampungan !”. Tapi begitulah kenyataannya.

Memang tidak bisa dipungkiri, Mbah Sonto adalah
penggemar sepakbola berat. Meski kearifan dan kewibawaan Padepokan harus
terpelihara dengan suara uro-uro yang
syahdu ditingkah denting siter dan gender yang mendayu-dayu mendominasi
hari-hari di Padepokan, namun pada peristiwa khusus, rutinitas padepokan bisa
bergeser. Peristiwa yang termasuk penting dan wigati di Padepokan ialah Hari
Besar Katolik, dan ….. pertandingan besar ……sepakbola!!!.

Bagi kalayak penghuni sekitar Padepokan dan para
kerabat, sobat dan handai taulan padepokan kiranya sudah maklum bin mahfum bila
musim pertandingan sepak bola tiba maka padepokanpun berganti rupa, berganti
suasana. Untungnya, semua penghuni padepokan menikmati perhelatan sepakbola
ini, tidak terkecuali si Tole dan Mbak Menik. Semua menykai pertandingan
sepakbola.

Sepakbola memang bukan sekedar hiburan, bukan hanya
tontonan. Banyak hal positif bisa dipetik dari sana. Ada nilai Sportifitas,
kompetisi yang sehat, kerjasama teamwork, respect terhadap lawan, solidaritas,
anti rasialis, professional, fairness dan masih banyak lagi nilai-nilai yang
dikandung didalamnya. Tentu pula nilai itu bermakna bila diterapkan dalam
pekerjaan ataupun dalam hidup bermasyarakat sehari-hari.

Padepokan Sontoloyo, semarak dengan hiasan Euro
2008 sengaja dimaksudkan untuk menyambut para Bangsawan yang berkenan
hadir menikmati laga bola di padepokan. Seperti biasanya, padepokan akan dipenuhi
para penonton. Tradisi Nonton Bareng sepakbola di Padepokan boleh dibilang
sudah ada sejak TVRI masih satu-satunya stasiun dan masih hitam putih,
menyiarkan pertandingan PSV Eindhoven melawan Ayax Amsterdam tahun 70’an.

Nonton Bareng di Padepokan Sontoloyo memang menyenangkan,
di sini bebas bersorak sorai, tertawa ataupun memukul-mukul lantai bila kecewa.
Bebas euhh!!. Ditambah lagi kopi dan teh gratis, terkadang plus pisang goreng, tahu,
tempe, kacang atau singkong rebus. Pendek kata, Padepokan Sontoloyo adalah surga
kecil bagi penggemar sepakbola. Sudah barang tentu, Padepokan akan dikunjungi
para Bangsawan penggila sepak bola.

Bangsawan?, ya bangsawan…!, itu istilah kami untuk
para penggila bola yang suka bangun kesiangan alias Bangsane wong tangi awan !. Soalnya pertandingan digelar dini hari, hingga menjelang
pagi, kalau ketiduran dapat dipastikan bangun kesiangan. Nah, coba periksa diri….,
apakah anda termasuk golongan bangsawan semacam ini ?. Semoga anda tetap professional,
tetap bangun pagi seperti biasanya dan bekerja seperti biasanya.

Para bangsawan yang berkunjung di Padepokan memang
mahkluk-mahkluk unik. Di Padepokan ini status social seseorang diabaikan, semua
sederajad. Sebut saja si Lai sang komentator, lalu si Kalur sang pemamah biak,
lalu Mas Gondhes yang heboh, Koh Kode si Susu Kutri dan Mbah Gondho Marutho
yang antik. Tentu saja masih banyak para bangsawan lain yang tidak mungkin di
ceritakan disini satu-persatu.

Si Lai, kami menyebutnya demikian yang berarti
paman. Nama sebenarnya Sahat Manurung. Ia membuka bengkel tambal ban di sudut
gang seberang pasar. Ia dijuluki sang komentator, karena hampir setiap saat ia
mengulas peristiwa-peristiwa sepak bola. Suara baritonnya plus logatnya yang
belum lekang dari danau Toba menambah semarak suasana nonton bareng. Pasalnya,
komentarnya boleh dibilang jauh dari kenyataannya, terkadang tidak nyambung,
padahal caranya dia menjelaskan tidak jauh hebat dari Syamsul anwar
mengomentari tinju. Kata ajaib yang dipunyainya adalah : ”seperti yang saya katakan tadi…lalu bla-bla-bla……”, padahal tadi ga’
ngomong gitu loh…!.

Lalu si Kalur, anak muda jangkung pendiam ini
adalah sales olie pelumas. Ia sungguh unik, hampir sepanjang pertandingan
berlangsung ia diam dan tidak diam, aneh kan ?. Maksudnya, ia diam tanpa
kata-kata, tanpa ekspresi, tidak bersorak atau bersedih dan tidak jelas ia
mendukung team yang mana. Tetapi mulutnya tak pernah diam, mengunyah segala
jenis makanan yang terhidang didepan hidungnya. Maka kami menyebutnya si
pemamah biak. Slogannya : sedikit berbicara, banyak kerja !.

Si Gondhes nama sebenarnya Marwanto, kami
menyebutnya si Gondhes singkatan dari Gondrong Ndeso atau si gondrong
Kampungan. Gondronya yang kriwil-kriwil itu mirip Ronaldinho, tampangnya juga
tidak jauh dari Ronaldinho, hanya posturnya saja lebih menyerupai Maradonna
yang pendek dan gempal. Mahluk satu ini ketawa
dan sorak sorainya paling heboh. Ia selalu mengikuti setiap pertandingan dengan
gerakan tubuhnya yang tak pernah berhenti. Badan meliuk, kaki menendang bahkan
sesekali melompat, seolah-olah ia masuk dilapangan itu. Dan, bila team
jagoannya kalah, iapun menjatuhkan dirinya disudut ruangan seolah merasakan
kepedihan dan lelah yang teramat dalam. Oh mas Gondhes, sepertinya di Euro kali
ini lebih banyak sedihnya ketimbang senangnya.

Lain lagi dengan Koh Kode. Pemilik bengkel Las Jaya
Makmur ini juga nyleneh. TV di rumahnya 3 kali lebih besar daripada milik Mbah
Sonto, tetapi dia lebih senang nonton di Padepokan. Alasannya di Padepokan
lebih seru karena ramai, padahal kami semua tahu ia takut sama Cik Meymey yang
ga’ suka bola. Maka kami menyebutnya Koh Kode si Susu Kutri atau suami-suami
takut istri. Untungnya Koh Kode selalu membawa makanan banyak sekali, sayang kami
sulit menikmati, makannya sih ribet tapi ga’ kenyang-kenyang !. Koh Kode
membawa satu box besar Kwaci !.

Mbah Sonto di masa mudanya adalah seorang pemain
sayap kiri yang cukup disegani, kemampuannya menggocek si kulit bundar menyusur
garis lapangan sulit ditandingi lawan-lawannya. Ia satu klub dengan Mbah Gondho
Marutho. Mbah Marutho adalah seorang gelandang piawai di klubnya . Konon,
tinggal Mbah Gondho Marutho dan Mbah Sonto yang masih diperpanjang masa
kontraknya tinggal di Bumi ini, sementara kawan-kawan yang lain sudah dicabut
masa kontraknya, sepihak oleh Penguasa Kehidupan.

Maka, saat pertandingan istimewa semacam Euro 2008
ini, mbah Sonto pasti mengundang Mbah Gondho Marutho nonton bareng. Mungkin
juga bermakna mengais nostalgia ketika muda dulu. Konon lagi, klubnya didirikan
semasa pendudukan Jepang di Indonesia. Tetapi didalam klubnya tergabung juga
beberapa tentara Jepang seperti Tuan Sato dan Tuan Momoyo. Mereka sepakat menamai klubnya “OSAKA”
sebagaimana kota kelahiran tuan Sato dan berbau Jepang. Padahal di otak Mbah
Sonto dan kawan-kawan itu, OSAKA kependekakan dari kata : Obahing Sikil Agawe Kuating Awak” yang berarti, gerakan kaki
membuat sehat badan sesuai dengan aktifitas sepak bola itu sendiri.

Guratan phisik yang atletis masih Nampak dibalik
keriput kulit yang menua di tubuh Mbah Gondho Marutho. Untuk mahluk setua Mbah
Gondho, kiranya patut diacungi jempol ikhwal kesehatannya yang tetap Oke..!.
Berbeda dengan Mbah Sonto yang temparemental, Mbah Gondho Marutho lebih kalem. Sebagai
sahabat sejati mereka saling berbagi suka-duka sambil menyongsong hari senja
serta keniscayaan diputus kontrak oleh Sang Khalik…kelak.

Dari penuturan Mbah Sonto, kami tahu bahwa Mbah
Gondho Marutho adalah sahabat seiman sejak kecil. Mereka sama-sama menjadi
misdinar. Pernah berjalan kaki dari Yogya ke Sendang Sono melewati route Boro
dan Kowang yang terjal. Pernah jatuh cinta pada gadis yang sama, yang sekarang
menjadi Suster Kepala di suatu Yayasan Pendidikan Sekretaris ternama. Pernah
sama-sama merintis lingkungan baru di pedalaman Kalimantan. Persahabatan mereka
sudah mendekati persaudaraan sejati. Itu sebabnya Mbah Sonto selalu menekankan
rasa hormat kepada anak cucunya terhadap Mbah Gondho Marutho.

Sejujurnya, kami kadang merasa heran terhadap kedua
kakek-kakek ini. Ada sesuatu yang terasa aneh. Misalnya, Mbah Sonto selalu
membawa inhaler atau obat gosok yang selalu dioleskan dihidungnya ketika
menonton pertandingan di samping Mbah Gondho Marutho. Padahal sehari-harinya
Mbah Sonto jarang sekali bersinggungan dengan obat gosok. Memang, kalau kita
duduk didekat Mbah gondho sesekali muncul bau aneh. Ma’af sebenarnya saya tidak
tega menceritakannya di sini.

Dari ekor mata Mbah Sonto, kami menangkap isyarat
beliau agar kami tidak perlu mempermasalahkan ikhwal bau aneh itu. Tentu kami
bisa memakluminya. Tetapi tidak untuk si Bedhes Tole. Dasar bocah kecil, yang
muncul adalah spontanitas yang dilandasi kejujuran apa adanya.

“Bau kentut…, duh baunya gila….., ini makannya bangke ya ?”
jeritnya sambil menggerutu keluar.

Ketika Euro 2008 kelar, usai. Kami sempat reriungan
bersama seluruh kerabat padepokan di Malam Jum’at kemarin. Setelah berbincang
sebagaimana biasanya si Tole nyeletuk :

Mbah, itu
tuh…mbah Gondho tuh baunya ga’ enak ya mbah….”

“husss, sembrono kamu, ga’ boleh begitu Le!”
potong Mbak Menik.

Sudah…..sudah..!!”,
kata Mbah Sonto..” asal kalian tahu saja,
beliau adalah sahabat baik mbah, beliau adalah teman diwaktu senang atau susah…hormatilah
beliau apa adanya.”
Mbah Sonto menghela napas sejenak, lalu : “Dulu mbah pernah sakit parah dan butuh donator
darah, dan golongan darah beliaulah satu-satunya yang cocok . dan beliau begitu
tulus ikhlas menyumbang darahnya untuk keselamatan mbah…”

Sejenak bayangan kami terbawa pada suasana rumah
sakit di mana Mbah Sonto tergolek tak berdaya. Meskipun hanya dalam bayangan,
kami dapat merasakan begitu hopeless beliau dalam cengkeraman sakit. Lalu
seorang Gondho Marutho datang memberikan darahnya untuk keselamatan Mbah Sonto.

“Persoalannya bukan hanya sekedar darah yang disumbangkan, tetapi lebih
dari itu, ia telah berkorban dengan membunuh cita-cita dan masa depannya
sendiri demi nyawaku…..”
suara Mbah Sonto tergetar dan sedikit galau.., kamu
hanya terpaku, terdiam. Adakah misteri lain dibalik semua ini ?.

“Mengambil keputusan menyumbang darah adalah perbuatan yang luar biasa
bagi Mbah Gondho, karena pada hari yang sama sebenarnya beliau punya kesempatan
ikut kualifikasi menjadi anggota team Nasional untuk berlaga di Bangkok, tetapi
ia memilih yang lain……, aku berhutang padanya…”

lanjut Mbah Sonto. Kami menjadi kelu.

“Memang benar Tole, mbah Gondho Marutho sering kentut dan bau. Asal
kalian tahu saja, nama beliau sebenarnya adalah Kuncung. Kami menyebutnya
Gondho Marutho, Gondho itu berarti bau, dan Marutho berarti angin……., nah,
kalian tahu artinya angin yang bau bukan ?..., yah…itu kentut !”

kata Mbah Sonto mencoba menjelaskannya, kami tidak ada yang tertawa atau
menganggap hal itu lucu, angan kami terbawa pada sosok pahlawan yang gagah
berani.

“Nah, apakah dari kalian ada yang merasa tidak senang dengan mbah Gondho
?..., dengan baunya?”
, kami hanya mampu menggeleng.

“Ma’apin Ole ya mbah” pinta si Tole, yang dijawab dengan anggukan dan
senyum khas Mbah Sonto.

Tiba-tiba aku berharap musim Sepak Bola cepat
datang, agar aku dapat nonton bareng lagi dengan mbah Gondho. Aku berdoa,
semoga Tuhan berkenan memperpanjang kontrak hidup kami, untuk menikmati
pertandingan sepak bola lagi. Amin.

Yoh. 15:13 : Tidak ada kasih yang lebih besar
dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk
sahabat-sahabatnya.

Comments

kolibri's picture

mbah Gondho

Wahhh Mbah Gondho sebaiknya jangan pernah diajak camping... Kasihan yang tidur setenda :)

Thanks Mas Paijo, akhirnya datang jua tulisan barunya :D

 

Kolibri

"What don't kill make tougher"

 

Kolibri

"What don't kill make tougher"

tantotato's picture

MBAH GONDHO MARUTHO SAKING O.S.A.K.A.

anggap saja yang dirasakan panca indra adalah anugrah yg terindah hehehe...

kan bakalan ketemu lg to 

mimpi yang tertunda....

mimpi yang tertunda....