GEREJA MENANGGAPI MASALAH LINGKUNGAN HIDUP
Siapa
sih Gereja? Gereja adalah kita-kita juga, keseluruhan orang katolik yang
menjadi umat Allah dan pengikut Jesus, bukan hanya Paus apalagi pastor atau Dewan
Paroki. Dalam semangat Lumen Gentium (Terang Bangsa-Bangsa) yaitu konstitusi dogmatik
mengenai Gereja dari Vatikan II, Gereja dalam Kristus adalah umat Allah yang
menjadi tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat
manusia. Di dalamnya memang ada hirarki yang melayani dan para religius yang
memperkaya Gereja. Namun, pelayan dan para religius hanyalah sebagian dari
Gereja. Jadi kalau Gereja mau menanggapi masalah lingkungan hidup, maka semua
bagian Gereja itu perlu terlibat dan dilibatkan, baik umat awam, hirarki maupun
religiusnya. Apa masalah lingkungan hidup?
Rumusan Masalah
Sejak akhir tahun 2007, dunia dihebohkan dengan masalah
pemanasan global. Kampanye mengenai masalah ini dan pengatasannya secara gencar
dilaksanakan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa dan orang-perorangan seperti Al
Gore, mantan presiden Amerika Serikat yang memenangkan piala Oscar untuk film
dokumenternya berjudul "The inconvenient Truth." Tentu saja pemanasan
global merupakan masalah yang muncul tidak tiba-tiba. Ini merupakan puncak
masalah yang disebabkan aneka penyebab yang telah terjadi selama ratusan tahun,
teristimewa di abad-abad terakhir setelah munculnya industrialisasi yang
menyebabkan pemanasan dalam bumi meningkat tajam. Pemanasan bumi yang meningkat
terus-menerus akibat industrialisasi yang tidak didukung dengan penghijauan
kembali bumi kita menyebabkan lapisan ozon yang melindungi suhu bumi makin terkikis
dan menyebabkan es di kutub utara dan selatan serta es di pegunungan kita
mencair. Ini pada gilirannya semakin meningkatkan panas bumi, dan menimbulkan
ketidakseimbangan bumi. Ketidakseimbangan ini menyebabkan bencana yang
menggoncang seluruh dunia dengan banjir di banyak tempat, gempa, badai,
kekeringan panjang di tempat lain, tak beraturnya cuaca, dst. Diperkirakan,
pada tahun 2050 kota New York dan Jakarta bisa tenggelam.
Bagaimana di Indonesia masalahnya dirumuskan? Konferensi
Waligereja Indonesia (KWI) atau badan yang mempertemukan para uskup seluruh
Indonesia merumuskan masalah Lingkungan Hidup dalam Nota Pastoralnya tahun 2004
demikian. "Kerusakan lingkungan sudah sampai tahap membahayakan hidup manusia.
Salah satu faktor penting yang menyebabkan kerusakan lingkungan adalah
pembabatan hutan. Sejak tahun 1985, terjadi pembabatan hutan sebesar 1.6 juta
hektar per tahun dan pada tahun 1997 meningkat tajam menjadi 2.83 juta hektar
per tahun. Beberapa waktu yang lalu, Televisi Republik Indonesia setiap hari
menayangkan iklan yang menyatakan bahwa setiap hari lebih dari 83 milyar Rupiah dirampok dari hutan
Indonesia. Kerusakan itu sudah mengakibatkan kerusakan lingkungan baru. Bukan
hanya pohon-pohon yang hancur, tetapi iklim pun terpengaruh oleh kerusakan itu.
Selain pembabatan hutan, masih banyak faktor lain yang menyebabkan kehancuran
lingkungan, misalnya pembuangan limbah-limbah beracun, eksploitasi
sumber-sumber daya alam yang tanpa kendali."
Tanggapan Gereja
Begitu besarnya masalah yang menghancurkan lingkungan:
pembabatan hutan, pembuangan limbah beracun, eksploitasi sumber daya alam tanpa
kendali. Bagi akal sehat sudah jelas bahwa ini bukan sekedar masalah
orang-perorangan, tapi menyangkut kelembagaan, sehingga untuk mengatasinya
tidak cukup dilakukan dengan niat baik orang perorangan, tetapi harus
melibatkan kerjasama sebanyak mungkin orang dan lembaga.
Pada akhir-akhir ini,
Gereja universal yang diwakili oleh Sri Paus memberikan tanggapannya atas
masalah lingkungan hidup ini. Pada akhir liburannya tanggal 26 Juli 2007, Paus
Benediktus XVI mengatakan bahwa umat manusia harus mendengarkan "Suara Bumi"
kalau tidak ingin menghancurkan keberadaan bumi itu. "Kita semua melihat sekarang
manusia dapat menghancurkan dasar keberadaannya, buminya," kata dia dalam
pertemuan tertutup dengan 400 imam. "Kita tidak begitu saja melakukan apa yang
kita inginkan dengan bumi kita, bumi yang telah dipercayakan kepada kita."
Katanya. " Kita harus menghormati hukum batin penciptaan, hukum batin bumi ini,
untuk mempelajari hukum-hukum ini dan menaatinya jika kita ingin tetap hidup."
Selanjutnya dia mengatakan, "Ketaatan pada suara bumi ini lebih penting bagi kebahagiaan
kita di masa depan....daripada keinginan-keinginan sesaat. Bumi kita sedang
berbicara kepada kita dan kita harus mendengarkannya dan menguraikan pesannya
jika kita ingin tetap hidup." Sebelumnya di bulan April, Vatikan mensponsori
suatu konferensi ilmiah mengenai perubahan iklim untuk menekankan peran yang
dapat dimainkan oleh para pemimpin agama di seluruh dunia dengan mengingatkan
umat beragama bahwa secara sadar merusak lingkungan hidup adalah berdosa.
Untuk menegaskan perlunya
keterlibatan Gereja dalam mengatasi masalah lingkungan hidup, maka pada tanggal
2 September 2007, Paus berbicara di depan 300,000 anak muda katolik: "Sebelum
terlalu terlambat, perlu kita membuat keputusan-keputusan yang berani yang mencerminkan
pemahaman kita bagaimana menciptakan kembali suatu persekutuan yang kuat antara
manusia dan bumi." Pada tanggal 7 September 2007, dia mengatakan bahwa ada
suatu "kebutuhan mendesak bagi ilmu pengetahuan dan agama untuk bekerja bersama
menyelamatkan anugerah alam dan mendukung tugas mengurus alam secara bertanggungjawab." Kota Vatican City telah menjadi Negara pertama di dunia yang bebas yang
sepenuhnya menetralkan karbon setelah mengumumkan mengimbangi jejak karbonnya
dengan menanam hutan di Hongaria dan memasang panel tenaga matahari di atas
atap Basilika St Petrus di Roma. Dengan demikian, Vatikan sekarang mengandalkan
tenaga matahari untuk energi yang diperlukan.
Bagaimana dengan Gereja lokal kita? Kita
sudah mulai mengambil sikap sejak tahun 2004 terhadap masalah lingkungan hidup.
Ada banyak langkah yang dapat diambil, termasuk
untuk mengatasi korupsi dan kekerasan di Indonesia, sebagaimana disampaikan
dalam Nota Pastoral KWI tahun 2004. Karena begitu banyaknya korban di
Indonesia, maka langkah yang diambil menyangkut korban, sikap diri, alam,
sesama, jaringan. Berikut langkah yang disebutkan oleh Nota Pastoral itu:
1. Gereja ingin menjadi sahabat bagi semua kalangan;
mendengar dengan hati dan jiwa para penderita, korban, kaum tergusur dan
mendoakan mereka; mengupayakan rasa kesenasiban dan keberpihakan kepada para
penderita; mengadakan pertemuan-pertemuan untuk membagi keprihatinan dan
membangun nilai; menyediakan sarana atau kesempatan untuk temu persaudaraan
yang mengatasi berbagai macam sekat sosial.
2. Dalam
kehadiran dan pelayanannya Gereja ingin mengembangkan modal-modal sosial yang
amat bernilai seperti : kekayaan budaya nasional sebagaimana tercantum dalam
pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, terutama mengenai keadilan sosial bagi
seluruh bangsa, solidaritas, kesejahteraan umum, cinta damai - hal yang juga
dapat digali dari kekayaan budaya setempat; kerelaan membantu saudara-saudari
yang berkesusahan karena tertimpa bencana.
3. Gereja
mau ikut serta dalam prakarsa-prakarsa pemberdayaan masyarakat akar rumput
seperti gerakan pelestarian lingkungan, pertanian organik, pengembangan ekonomi
kerakyatan misalnya melalui credit union.
4. Gereja
ingin mendorong umat yang mampu dalam bidangnya untuk masuk ke dalam jejaring
yang sudah terbangun misalnya penggerak swadaya masyarakat, gerakan-gerakan
masyarakat yang mencermati kinerja pemerintahan dan lembaga-lembaga negara
lainnya.
5. Gereja
merasa wajib untuk memberi perhatian khusus pada pelayanan pendidikan, misalnya
dengan mempelajari kemungkinan model pendidikan alternatif, pendidikan media
dan budaya baca-tulis yang mengembangkan daya kritis.
6. Gereja
menyadari bahwa usaha pembaharuan mesti mulai dari diri sendiri. Untuk
mendukung gerakan pemberantasan korupsi, Gereja ingin memberi perhatian pada
pembinaan administrasi dan disiplin yang bersih di dalam lembaga-lembaga gerejawi sendiri terlebih dulu.
7. Sementara
itu prakarsa-prakarsa lain harus ditemukan dalam pencarian bersama, sesuai
dengan konteks masyarakat tempat Gereja hadir dan melayani. Usaha pencarian
bersama itu bisa dilakukan dalam berbagai komunitas basis, yang terus-menerus
perlu mengembangkan diri dan merupakan tempat yang subur bagi terjadinya
penegasan bersama.
Semangat yang
mendasari Gereja-Hidup dalam Harapan
Gereja hidup dalam harapan, bagaimanapun rusaknya
lingkungan hidup kita. Berikut ini yang disampaikan oleh Nota Pastoral KWI
2004. Harapan bukanlah sekedar optimisme yang dilandaskan pada ideologi yang
seringkali mengklaim mampu memecahkan atau memberi jalan keluar untuk segala
masalah. Harapan dilandaskan pada keyakinan iman yang teguh bahwa "Ia yang
memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai
pada akhirnya pada hari Kristus Yesus" (Flp 1:6). Dengan kata lain, berharap
berarti hidup berdasarkan janji Allah. Gereja hidup dalam pegangan antara janji dan
pemenuhan janji. Itulah yang terungkap dalam seluruh Kitab Suci. Kitab Suci
dibuka dengan kisah penciptaan yang menyatakan bahwa segala sesuatu adalah baik
(Bdk. Kej 1:4.10.12.17.21.25), bahkan amat baik adanya (Bdk. Kej 1:31). Memang
benar, kisah penciptaan ini langsung disusul dengan kejatuhan manusia yang
pertama (Bdk. Kej 3) dan kejatuhan-kejatuhan yang lain : persaingan budaya dan
iri hati yang berkembang menjadi kebencian dan bermuara pada pembunuhan sesama
saudara (Bdk. Kej 4:1-14), kejahatan manusia yang mengakibatkan hancurnya alam
ciptaan (Bdk. Kej 6-7), dan kesombongan yang mencerai-beraikan umat manusia
(Bdk. Kej 11). Tetapi kejatuhan itu setiap kali disusul dengan janji baru (
Bdk. Kej 4:15;9; 12:1-3). Dan akhirnya seluruh sejarah penyelamatan
ditutup dengan kepastian harapan akan masa depan yang baru, "langit baru bumi
baru", ciptaan yang dipulihkan kembali pada kepenuhan sejarah (Bdk Why 21:1-4).
Harapan dilandaskan pada keyakinan iman bahwa Tuhan mengarahkan umat manusia
dan seluruh ciptaan menjadi "kerajaan yang berpedoman kebenaran dan kehidupan,
kerajaan yang memancarkan kesucian dan rahmat, kerajaan yang berlimpahkan keadilan,
cinta kasih dan damai". Berlandaskan harapan kristiani seperti ini, Gereja
Indonesia perlu terus-menerus membaca tanda-tanda zaman, menganalisa
kekuatan-kekuatan merusak yang mengasingkan dunia dan umat manusia dari
kekuatan kasih Allah sambil menawarkan pemikiran dan tindakan kreatif serta
cara hidup alternatif sebagai wujud hidup berpengharapan.
Ahirnya Sadar
lingkungan bersama St Maria
Nota Pastoral bukan segalanya. Adanya seksi lingkungan
hidup bukan segalanya. Adanya seminar lingkungan hidup bukan segalanya. Tidak
langsung mengubah keadaan dalam sekejap. Tetapi kalau tidak dimulai sekarang,
kapan lagi? Kalau bukan kita semua umat santa Maria, siapa lagi? Semoga aneka
latihan pengolahan pupuk organik, membiasakan menaruh sampah yang benar,
penghematan penggunaan listrik, tidak membuang sampah di sungai, adanya seksi
lingkungan hidup yang memfasilitasi umat, dan aneka kebiasaan yang beradab
lainnya mendorong kita mencintai bumi kita, Bunda Pertiwi.
Edi Mulyono SJ



