Bertemu Pastor Peduli Petani (Pastor Tan Soei Ie, SJ)
Untuk
suatu keperluan di sekitar Jogjakarta, Solo dan Klaten, saya bersama
beberapa rekan berada di tiga kota itu sejak 11 hingga 16 Juli 2008.
Sabtu, 12 Juli sore hari kami sempatkan datang ke dusun Ponggol, Pakem
Jogjakarta. Dusun yang sekitar 20 km jauhnya dari pusat kota Jogjakarta
(Malioboro) kami tempuh sekitar 30 menit. Apa yang menarik kami
sehingga datang ke dusun itu? Dari seorang teman saya pernah mendapat
informasi, bahwa disana tinggal seorang pastor yang berkarya bersama
para petani. Melakukan budidaya "ternak" cacing.
Sesampainya di dusun itu, tepatnya di halaman rumah yang juga terdapat
kapel Santo Ignatius, kami mengetuk pintu pagar besi. Wah yang keluar
seekor anjing besar. Menggongong kami. Tak lama kemudian keluar seorang
bapak yang tak lain Romo FX Tan Soei Ie, SJ. Sebelum mempersilahkan
kami masuk, romo Tan, panggilan akrabnya, membawa anjing tadi untuk
dimasukkan ke dalam kandangnya. Rupanya ia tahu kami takut dengan
anjing besar peliharaanya itu.
Setelahnya kami dipersilahkan masuk. Di halaman yang asri dan udara yang dingin, kami duduk di rumah bambu. Tanpa
basi-basi, romo mulai membuka pembicaraan. "Dari mana anda ini. Apa
maksud kedatangan kalian?". Kamipun menjelaskan tentang ketertarikan
kami atas karya romo di dusun ini. Mulailah romo bercerita. Dari soal
cacing, pertanian, keadaan negara, perkembangan Gereja dan yang lainnya.
Jam 17.30 romo akan memimpin Misa, maka kamipun pamitan. Sebelum pulang
romo memanggil pembantunya untuk mengantar kami ke lokasi peternakan
cacing. Jarak dari tempat tinggal romo sekitar 1 km. Sesampainya di
lokasi, kami memperoleh keterangan dari pembantunya. Bahwa di atas
tanah yang sedang kami lihat ada sekitar 3000 m2, dibuat 8 rumah dari
bambu dengan luas masing-masing rumah sekitar 30-40m2. Di situlah romo
bersama para pembantunya berkarya. Berternak cacing untuk kepentingan
petani dan pertanian.
Karena belum puas untuk mendengar cerita lain dari romo Tan, kami
mengusulkan untuk dapat bertemu kembali dengannya. Waktunya besok, 13
Juli dan sambil makan malam. Romo setuju.
Esok harinya, 13 Juli jam 18.00 tepat kami menjemput romo. Acaranya
makan bersama di Rumah Makan Pakem Sari, Pakem Jogjakarta. Dengan
pakaian sangat sederhana dibungkus jaket warna krem romo dan kami
berangkat ke restoran Pakem Sari. Perlu waktu 10 menit untuk sampai ke
rumah makan itu. Cerita "babak kedua" dimulai lagi. Diselingi
guyononnya yang segar. Dari makan malam ini saya lebih mengenal romo
Tan.
Lahir di Gowongan, Jogjakarta pada 16 Desember 1928 dengan nama Tan
Soei Ie. Di usianya yang ke tigapuluhlima, tepatnya tahun 1963,
ditahbiskan menjadi imam Yesuit, setelah mengikuti pendidikan imam di
Filipina.
Tujuh tahun memimpin Paroki Baciro Jogjakarta. Sembilan tahun Paroki Tangerang.
Tahun 1985 sampai 2002, bertugas di Timor Timur. Mendampingi kaum petani disana.
Bersemangat ketika bicara kerusuhan Mei 1998, kepedulian Gereja akan nasib bangsa. Akan nasib petani. Dan tentu soal cacing
Menguasai 5 bahasa. Bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Latin, Tetum
(Timor Timur), Yunani. Dan tentu saja Jowo. Senang dengan bahasa.
Kini ia tinggal di dusun Ponggol Pakem, Jogjakarta. Memimpin lebih dari 500 umat di stasi
St Ignatius, Pakem. Juga memimpin 7 orang pegawai pada usaha ternak
cacingnya. Dalam berbagai kesempatan, ia mengajak orang termasuk para
petani untuk menghargai karya para petani. "Kepada anak-anakmu,
ajaklah mereka juga untuk ikut menjadi petani di desa," demikian sering
ia memberi wejangan kepada para petani di dusun Ponggol.
Sebelum
pulang kami ajak kembali romo untuk makan bersama kami. Waktunya besok
malam, 14 Juli 2008. Ya.. sambil perpisahan dengannya. Romo setuju
bahkan mengusulkan untuk masak di rumahnya. Tapi karena beberapa
pertimbangan, akhirnya kami putuskan untuk membawa masakan matang ke
rumah romo.
Senin, 14 Juli jam 17.30 kami telah tiba kembali di rumah romo. Membawa
masakan matang untuk makan bersama romo. Sebelum acara makan malam
bersama, saya dan beberapa teman keliling rumah romo. Mengambil
foto-foto mulai dari halaman rumah yang asri, ruang kerja, ruang tamu,
perpustakaan kecilnya.
Makan malam itu sungguh berkesan. Makan bersama romo dan stafnya.
Dengan nyala lilin yang biasanya dipakai untuk Misa, kami ngobrol
sana-sini. Mulai dari keperihatinan romo atas kepedulian Gereja dengan
kondisi saat ini, tradisi Gereja yang mulai luntur dan masih banyak
lagi. Makan malam ditutup dengan doa.
Saat romo bertanya kapan kami pulang ke Jakarta. Kamipun mengatakan
Rabu 16 Juli 2008. "Nanti saya iringi perjalanan anda semua dengan
nyala lilin sebagai tanda doa bagi perjalanan anda pulang kembali ke
Jakarta," demikian romo menjelaskan. Sungguh pengalaman yang berkesan
buat kami. Bertemu dengan pastor yang sederhana, apa adanya, kritis dan
tegas dalam berpendirian.
Dua hari kemudian, tentu dengan seijinnya, saya bangun weblog www.pastorpedulipetani.blogspot.com
Siapa tahu ada gunanya. Paling tidak untuk anda yang mau lebih mengenalnya.
Yohannes Sugiyono Setiadi




Comments
Bertemu Romo Tan
Wah seru ceritanya dan ada foto ladang cacingnya lagi, saya sempat penasaran bagaimana sih berternak cacing, terima kasih atas posting anda.
Kebetulan saya sempat bertemu Romo Tan saat berkunjung ke Tangerang 1-2 tahun lalu, kami sempat ngobrol dan makan malam bersama, orangnya santai penuh humor tetapi tegas, satu hal yang selalu saya ingat adalah beliau senang babi panggang.
Terus berkarya Romo Tan.
God works in ways we'd never comprehend until we enjoy the fruits, so let Him guide us in everything we do.
God works in ways we'd never comprehend until we enjoy the fruits, so let Him guide us in everything we do.
Romo Tan
Wahh thanks a lot ya atas kabar terbaru soal Romo Tan :D
Hehehe jadi refresh lagi memory waktu kunjungan bersama teman2 Komsos ke sana. Hmm kalo ga salah pas natal 2006.
Kapan neh ke Jogja lagi...... (sekalian "jarah" salak di kebun Pa Warsidi hehehe)
Kolibri "What don't kill make tougher"
Kolibri
"What don't kill make tougher"
Memorable...
Terimakasih juga telah mengingatkan saya akan Romo Tan...Banyak kenangan memang bersama Romo Tan, Romo yang membaptis saya saat berusia 3 bulan... Keluarga saya juga cukup dekat dengan beliau saat beliau masih berkarya di Santa Maria. Lebaran tahun 2003, saat saya bersama keluarga dan sahabat orang tua menghabiskan liburan ke Semarang dan Jogja, kami pun menyempatkan menengok Rm. Tan di Pakem. Yang berkesan, saya dan keluarga pun sempat menginap di tempat tinggal beliau, yang sangat alami dengan suara berbagai jenis hewan dan super duper dingin saat malam hari... Dari sanapun kami "dilepas" pergi dengan mengadakan doa bersama di gereja St. Ignatius Ponggol.
3 tahun kemudian, di liburan Natal tahun 2006, bersama rekan-rekan Komsos (termasuk Bung Kolibri tentunya, hehehehe...), saya kembali mengunjungi beliau, juga ditemani keluarga dari Rien.rien (masih ingat ndak rien?), dan kami sangat menikmati obrolan santai dengan beliau, terutama saat kami mengangkat topik mengenai Majalah Terang, karena beliaulah salah satu Romo yang saat berkarya di Sanmar, ikut andil dalam "kehidupan" Majalah Terang.
Beberapa bulan lalu, hari Minggu siang, tiba-tiba saya pun kembali bertemu beliau di tangga depan Aula St. Maria. Tak banyak obrolan, tapi yang jelas setiap bertemu saya, pasti beliau memeluk saya dengan eratnya, bahkan sambil memukul-mukul saya... lalu beliau terlihat buru-buru pergi...
Membaca posting Anda, Bung YS Setiadi, saya buru-buru langsung membuka blog yang Anda buat... sekaligus penasaran... hehehe...
Buat Bung Kolibri, masih inget kan foto ini??? It's very memorable yaa?? hehehe...gak bermaksud mengingatkan yang sudah berlalu loh... Cuma berkesan aja, terutama memang saat "menjarah salak"...hehehhee
ga mungkin lupa donk...
tentu masih inget donk ci squeezy... tp, aq br tau kl ternyata kalian toh yang menjarah salak milik pak Warsidi?? kog ga bilang2 sm aq c?? hehehehe
ga mungkin lupa d atas kunjungan kalian yang tiba2 dateng ke rumahqu.. pake acara dijemput segala lg... hehehehe..
Udah lama juga ga main ket4 romo Tan, sampe2 ga tau kl skrng ada peternakan cacing.. tp, memang t4nya Romo Tan itu emg enak adem banget (walaupun ga kalah adem c sm rumahqu .. hehehhe)
kapan nih kalian main lg ke jogja n kerumah qu n 'jarah' salak lg ?? :-p
tp.. dateng sendiri ya, jangan minta jemput di gereja pakem... hahahahaha...
huaaaaaaa!!!! jadi pengen pulang kampung nih.... hiks..hiks..
Contact Romo Tan
Temen-temen.
Ada yang bisa advise nomor contact nya Romo Tan, kami berencana untuk mampir ke tempat beliau liburan minggu mendatang.
Thanks & GBU
Romo Tan dan Mesin "KasCing" -nya
Ini ada sedikit informasi bagi yg ingin mengetahui lebih dekat mengenai Rm Tan. semoga bermanfaat. Dikutip dari koran kompas (tgl sm bln nya lupa, tp yg jls thn 2006). selamat membaca.
Cacing di mata Fransiskus Xaverius Tan Soe Ie, SJ adalah lambang kesuburan. Binatang melata berlendir, liat, tanpa telinga & mata & tdk bertulang itu dia ubah jadi “mesin” pembuat pupuk organik.
“KasCing” atau bekas cacing tidak lebih dari kotoran cacing. “Kotoran cacing tidak bau,” katanya sambil menyorongkan segenggam pupuk kotoran cacing.
Di tempat tinggalnya, Desa Ponggol, Hargobinangun, Pakem – 12km utara kota Yogyakarta – biarawan Jesuit itu sehari-hari bergelut dengan cacing. Dibantu 7 (tujuh) pegawai, dalam 1minggu dia produksi 15-20ton pupuk KasCing.
Dikemas dalam karung besar berisi 20kg dengan harga Rp. 13,000,- per karung atau kemasan kecil berisi 3kg, pupuk KasCing Romo Tan mulai dikenal luas. “Saya belum umumkan keluar,” katanya. “Cuma sering geram ketika diarena pameran pertanian – bertani jadigaya hidup orang kota Yogya – pupuk sy dibeli Rp. 12,000,- per 20kg dan dijual Rp. 20,000,-."
Menurut Romo Tan kepada Kompas, usaha KasCing dimulai secara kebetulan. Awalnya KasCing jadi pintu masuk mewujudkan obsesi meningkatkan kesejahteraan petani kecil. “Perhatian pemerintah ke petani kecil hampir tidak ada. Produk yang mereka hasilkan dibabat oleh produk luar yang didatangkan pemerintah.”
Dirunut lewat perjalanan hidupnya, obsesi pada orang kecil menyatu sebagai jati diri Romo Tan. Jati diri itu pelan-pelan terbentuk sejak memimpin lembaga pendidikan calon-calon pastor di Magelang, berkarya di Paroki Baciro,Yogyakarta , kemudian di Tangerang, hingga saat berkarya di Dare, Timor Timur, 1985-2002.
Di dare, 60km tenggarakota Dili, lebih dari 20thn Romo Tan merintis kaderisasi petani lewat Pusat Latihan Wiraswasta Pertanian. Romo Tan pernah ingin meninggal dan dikuburkan disana.
Ketika diingatkan nazar itu, matanya berkaca-kaca, menerawang jauh. “Tidak mungkin saya tinggal di sebuah negara yg kemudian memusuhi negara saya. Setelah TimTim lepas, saya ingin pulang saja keIndonesia , ke Jawa, Tahun 2002.”
Sejak tinggal di kawasan sejuk Kaliurang, tahun 2003, Romo Tan terus mencari cara merealisasikan obsesinya. Secara kebetulan pada tahun 2004 seorang bekas muridnya menawarkan usaha pupuk KasCing. Bekas murid yang tinggal diSemarang itu mau menghentikan usahanya setelah kehilangan kontak dengan mitra kerja nya di Jepang.”Dia tidak bisa lagi Export pupuk KasCing kesana,” kata Romo Tan. “Saya diminta ambil oper &saya mau, barangkali bisa jadi cara mewujudkan obsesi saya,” kata Romo Tan.Sebagai tanda terima kasih, merek perusahaan pangkal sejahtera diambil dari nama aslinya Pangkalrejo.
Masyarakat Indonesia Baru
Sbg Pastor (gembala) umat, pupuk KasCing hanyalah langkah konkret & sarana merealisasikan gagasan besarnya. Gagasan bsr itu, selain pencerahan u/ petani kcl, terutama bgm mengajak kelompok masyarakat Tionghoa mau turun ke desa.
Rm Tan bercita-cita, nyaris jd obsesi spt kecintaannya pd petani kcl, bangsa Indonesia maju kl kelompok Tionghoa menyatu dgn masyarakat pedesaan Indonesia.
"Setelah negara & masyarakat warga, mrk hrs diberi panggung," kata Rm Tan menerawang, bertemu dgn arus bsr pemikiran membangun bangsa Indonesia.
Katanya lagi, "Kl umat katolik Keuskupan Agung Jakarta yg sebagian diantaranya org2 Tionghoa kaya live in di desa, mrk akan terbuka mata."
"Jgn tuntut rakyat desa & petani itu kreatif. Mrk hrs diberi contoh. Contoh lbh mdh diterima, sementara umumnya org desa sulit menerima contoh, sebaliknya jg sulit melepaskan apa yg sdh jd kebiasaan turun temurun."
Menurut Rm Tan, kl org2 Tionghoa bersatu & merasa 1 napas dgn persoalan pedesaan, pandangan & penilaian mrk tentu lain. Di satu pihak, bagi masyarakat desa tdk ada perasaan curiga, di lain pihak org2 Tionghoa merasa diterima sbg bagian utuh rakyat & bangsa Indonesia.
Rm Tan yg lahir di Gowongan, Yogyakarta, 16 Desember 1928, ditahbiskan pastor thn 1963, hampir menghabiskan separuh hdpnya tinggal di desa & pertanian.
Diselingi tugas sbg pendidik & pastor paroki, sebagian bsr karya kegembalaannya ada di lingk. pertanian. Habitat pertanian dan bau sawah, lumpur & comberan adl bagian dr kesehariannya. diruang kerjanya, suara kicau burung & tumpukan pupuk KasCing nyaris menghilangkan sosok Rm Tan sbg seorang Pastor, kecuali di atas mejanya tergeletak lusuh buku doa Brevir - doa wajib biarawan yg dia daraskan setiap hari.
Tan Soe Ie, SJ yg punya obsesi petani mandiri & menyatunya kelompok Tionghoa dgn bangsa Indonesia adl jg pendidik yg dimata bekas murid2nya berhasil menanamkan cita2 manusia berkarakter.
Oleh ST Sularta - Kompas