Who's New

Jovay
m3n1ck
doni
antonius eka
vina
huller_bastian
pesonamml
Santoso
oLendo kwok
domingos neves
Erwin S.
Coco

DOEA DJAM TJAK NAWIR

ole's picture

DOEA DJAM BARENG TJAK NAWIR HAMZAH

Pembaca yang budiman, nama saya Bagas, mohon ma’af selama ini saya
memakai nick Ole adik saya, kalau anda menemukan tulisan Ole di situs ini, pasti itu tulisan saya. Ma’af ya
bila hal ini membuat bingung.

Weekend di rumah dipenghujung
bulan, kala stock logistic semakin tipis, berhaha-hihi di depan televisi
menyaksikan Extravagansa menjadi obat yang cukup mujarab untuk melupakan isi
dompet. Begitulah Tora Sudiro (actor
seribu wajah)
dengan konco-konconya menggelitik sensor geli penonton,
memaksa tertawa. Tampilan kreatif dengan pola-pola yang berubah dari setiap
tampilannya dengan bobot yang lebih intelek (dibandingkan
kelas Srimulat)
membuatnya tetap eksis di tahun ke 4 ini. Tayanganpun
menempati rating yang cukup tinggi untuk tampilan genre hiburan komedi lokal,
terbukti dengan jeda iklan yang cukup lama dijejali aneka scene sponsorship.

Jamaknya orang menilai dari hasil
tayangan didepan matanya saja, sehingga tokoh-tokoh panggung sangat akrab di
memori penonton. Tentu tidak banyak yang tahu siapa orang-orang yang berada
dibelakang panggung, yang memikir, mengatur, menata, mempersiapkan banyak hal
untuk suatu pementasan panggung. Padahal, peranan mereka sangat besar
menentukan keberhasilan suatu pementasan. Aktor dan aktris yang bagus tidak
menjamin suksesnya suatu pementasan bila tidak didukung oleh orang-orang yang
bekerja penuh dedikasi dibelakang panggung.

Minggu lalu seorang lelaki dengan
perkiraan usia separuh abad menapaki tangga-tangga menuju lantai tiga aula
Santa Maria. Rona kelabu rambut panjangnya melebihi bahu, sepintas mirip rocker
enam puluhan semisal personil Black Sabath, Nazareth, Deep Purple ataupun Three
Dogs Night. Tubuhnya yang ceking terbungkus kostum army style dengan gaya yang
bebas menyiratkan sosok seniman kawakan. Benar, dialah A. Nawir Hamzah. Seorang
pendekar seni yang telah malang melintang di dunia persilatan dunia panggung
drama hingga televisi di Indonesia. Dialah seorang pekerja seni yang kini
menggeluti dunia belakang panggung. Buah karyanya adalah seniman sekaliber Tora
Sudiro serta pementasan yang menghibur anda sekalian di layar kaca.

Lelaki tua bersahaja ini adalah
tamu agung Teater Teduh. Beliau adalah pembicara tunggal yang berkenan berbagi
ilmu pada kaum muda gereja Santa Maria dalam pertemuan ini. Nah, ketika beliau
mulai berbicara tentang dunianya maka seketika itu juga lenyap pandangan
tentang kerentaannya. Matanya berbinar tajam, tatapannya jernih. Suaranya
lantang dan tertangkap jelas artikulasinya, meski keluar dari mulut yang sudah
peot. Seperti seorang orator yang menguasai masa setiap katanya dapat diikuti
dengan cermat oleh pendengarnya. Pilihan katanya yang efektif menyihir
pendengarnya diruang sempit itu untuk terpaku mengikuti setiap pengajarannya.
Kemudian gesture tubuhnya yang lentur, begitu lincah menambah penekanan setiap
inti kalimat , ditambah lagi dengan
ekspresi atau mimik wajahnya yang turut bermain dalam pembicaraannya.
Sungguh, hari minggu itu, lelaki tua ini membawa berkat untuk anak-anak teater
teduh.

Meskipun hanya kisaran 2 jam,
banyak pembelajaran yang dapat diserap dalam pertemuan ini. Dari cara
memberikan pengajaran Cak Nawir ini sudah dapat dipetik banyak contoh praktis
diatas panggung. Kemudian dapat diperoleh wawasan tentang hidup berkesenian
yang luas, dimensi teater yang kompleks dan utamanya adalah motivasi seseorang
bergabung dalam dunia teater serta arah tujuan kelompok teater dalam kegiatan
pencapaiannya. Cara cak Nur menguraikannya dengan sistematis pengajarannya
mengisyaratkan tentang kepiawaiannya dalam dunia panggung, beliau sungguh berkelas jempolan.
Sayang memang, waktu 2 jam terlalu sempit untuk kami menelan seujung kuku
ilmunya.

Cak Nawir disebutnya, nama
lengkapnya A. Nawir Hamzah. Ia seorang Muslim. Uniknya beliau adalah pendiri
Teater Cor Jesu semasa SMA di Malang. Dimatanya Kisah Sengsara Yesus adalah
kisah drama tragedy yang paling hebat, paling agung dan abadi. Maka di hati nya
masih terselip keinginan yang belum pernah terlaksana yakni……. Berperan menjadi Yesus !. Masa
sekolahnya di Yayasan Katolik menyisakan banyak kisah dan romantika yang
bersinggungan erat dengan Katolik. Oleh karenanya tidak mengherankan ia cukup paham
tentang kehidupan menggerejanya Katolik. Dari cara menyampaikan buah pikirannya,
beliau meski seorang Muslim, tetap nyaman dan berbicara lantang tanpa
ragu-ragu, seperti berbicara di rumah sendiri. Itulah seniman tulen, tidak ada
benteng yang cukup kokoh mengungkung alam pikirannya……., insan-insan pembawa
damai.

Sebagian stasiun televisi di
Indonesia pernah dirambah karyanya seperti Indosiar, ANTV dan SCTV. Tahun 1977
pernah menyabet gelar “The Best Children Programme” pada ASIA TELEVISION AWARD
di Hongkong. Kecuali drama dan sinetron beliau juga menggarap beberapa video
klip, iklan komersial, Filler layanan masyarakat serta melukis dan berpameran
diberbagai tempat. Kini beliau juga bergiat membuat buku-buku panduan di dunia
seni drama panggung dari pengetahuan yang diperoleh selama berkiprah di dunia
seni panggung. Salah satu judulnya adalah : Sutradara Drama Panggung dan
Televisi.

Kehadiran Cak Nawir konon berakar
dari keprihatinan umat Santa Maria terhadap Teater Teduh kita ini. Tentu saja
keprihatinan yang tidak hanya terhenti pada “grundelan”,
“songgo wang”
atau “ngelus dodo”,
tetapi mengambil langkah-langkah konkrit yang konstruktif dan riil. Ada Mas Yo,
yang sangat prihatin namun dengan pembawaan yang riang menggamit kawan-kawan di
Teater Teduh untuk bangkit. Begitu pula peran Pak Bambang yang berjuang
menggamit Cak Nur, sahabat sekolahnya sewaktu di Jawa Timur, agar beliau
berkenan berbagi ilmu dengan anak-anak gereja ini. Tentu, tidak bisa diabaikan
peran Romo Toto yang berkenan membina anak-anak Teater Teduh. Terima Kasih
Romo.

Mungkin andapun turut prihatin
dengan Teater Teduh….., ayo dukung mereka….., saudara kita yang Muslim seperti
Cak Nawir ini saja tidak segan menyingsingkan lengan, bagaimana dengan anda ?. Penolakan
klise yang sering terdengar adalah : “ma’af
saya ga ngerti dunia seni babar blaszt!”
. Tapi jawaban seperti itupun masih
lebih baik daripada : “sorry ye gw ga mo ngerti!”.

Pertama saya ucapkan Bravo untuk
kawan-kawan di Teater Teduh, Ke dua saya ucapkan Bravo untuk kawan-kawan di
Teater Teduh, dan ke tiga saya ucapkan Bravo untuk kawan-kawan di Teater Teduh.
Setelah Cak Nur……, ada donor darah….., heheheee….. maju terus kawan !.

 

“Sabab anggonmu padha kapitulungan rahayu iku saka sih
rahmat marga pracaya lan iku dudu wohing pambudidayamu, nanging peparinge Gusti
Allah, iku dudu wohing panggawemu: Aja ana wong kang gumunggung” (Efesus
2:8-9).

Comments

rose_pinky's picture

seorang guru yang ilmunya patut dicontoh

Wah seorang guru yang banyak makan asam garam di dunia panggung hiburan yach Laughing, salut dech akan ilmu2nya, dan patut dicontoh untuk generasi muda di masa yang akan datang.Ternyata masih ada orang seperti Cak Nawir yang mau berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang yang lain yang berbeda keyakinan dengannya.

Nicken's picture

Terima kasih......

waduh... gak sangka masih ada yang peduli dengan teduh dsampe segitunya....

makasih bwat kepercayaannya... n mohon dukungannya apapun bentuknya (ceileh.............) masih ada PR yang belum selese.......

m1m1nk's picture

Bisa Nggak Ya?

Kira-kira bisa nggak yah Cak Nawir kesampaian cita-citanya berperan sebagai Yesus dalam sebuah pentas? 

God works in ways we'd never comprehend until we enjoy the fruits, so let Him guide us in everything we do.

God works in ways we'd never comprehend until we enjoy the fruits, so let Him guide us in everything we do.