Nikmatnya Berwisata-Ziarah Bersama Keluarga
Mungkin tidak semua orang bisa mempunyai kesempatan yang indah berlibur bersama keluarga. Di awal bulan desember 2006 yang lalu, kami sekeluarga melakukan libur bersama sambil berziarah, mengunjungi 7 Goa Maria yang ada disekitar Jogjakarta dan Jawa tengah. Oo.. betapa nikmat dan indahnya liburan kami kali ini. Simaklah cerita kami berikut ini…
Ziarah dan Maria dalam kasanah agama Katolik saat ini memang sepertinya tidak dapat dipisahkan. Sebagai Bunda Allah yang suci maka pantaslah dihormati oleh Gereja dengan kebaktian yang istimewa. Dengan kesadaran itulah yang mendorong umat beriman untuk menberikan devosi khusus kepada Bunda Maria. Devosi umat terhadap Bunda Maria ditandai dengan banyaknya Gua Maria diberbagai tempat.
Tetapi meskipun Gua Maria banyak berdiri dimana-mana, sayangnya hanya gua-gua tertentu sajalah yang ramai dikunjungi umat.
Salah satu penyebabnya adalah sederhana, yaitu minimnya informasi atau bahkan umat tidak mengetahui informasi mengenai keberadaan tempat-tempat Ziarah tersebut.
Didorong oleh devosi kepada Bunda Maria dan permohonan kami sekeluarga kepada Hati Kudus Yesus itulah maka kami sekeluarga berniat untuk mengunjungi 7 Gua Maria yang kami sebut Wisata Ziarah.
Perjalanan kami dimulai pada hari kedua natal tahun 2006 lalu, tepatnya tanggal 26 Desember 2006 pada hari Selasa, tepat pukul 05.00 wib kami berangkat bersama Suami , saya dan Putri tunggal kami. Kami mengendarai mobil pribadi.
Dari pintu Tol Jakarta-Merak menuju pintu keluar Tol Jakarta-Cikampek laju kendaraan kami lancar tanpa ada suatu halangan. Begitupun suasana perjalanan menuju Pantura – Jawa Tengah aman dan terkendali. Dengan berisitirahat sebanyak 4x dimana kami harus berhenti untuk mengisi bahan bakar, meregangkan otot-otot dan mencari makan.
GUA MARIA KEREP-AMBARAWA
Tak terasa waktupun menunjukan pukul 10.30 wib. Berarti perjalannan yang kami tempuh dari Jakarta sampai Ambarawa sekitar 8 jam. Kamipun telah tiba dikawasan Goa Maria Kerep Ambarawa, yang bisa dicapai dalam waktu 1-2 jam dengan mobil dari Kota Semarang.
Goa Maria Kerep (GMK) ini diresmikan pada tanggal 15 Agustus 1954, tepatnya pada Perayaan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, oleh Mgr. A. Soegijapranata SJ. Dengan menghadirkan patung Bunda Maria seperti yang ada di Lourdes, Perancis. Dikomplek gua ini terdapat makam pendiri Wanita Katolik Republik Indonesia ( WKRI), Ibu Maria Soelastri Soejadi Darmoseputro.
Sudah menjadi tradisi di komplek GMK ini diadakannya Novena Bunda Maria setiap tahun, mulai bulan September sampai bulan Mei tahun berikutnya pada setiap Minggu ke 2 setiap bulannya. Kegiatan Novena ini dimulai dengan pujian pukul 8 pagi, lalu pukul 08.30 disediakan waktu bagi peziarah yang ingin melakukan pengakuan dosa pribadi.
Peziarah dapat mengadakan ibadat jalan salib. Ada dua rute jalan salib.Pertama, rute panjang dimulai dari sebuah gereja tua St.Yusup Ambarawa diteruskan ke stasi-stasi berikutnya melalui jalan desa, dan berakhir didekat Gua Maria.
Dijalur panjang ini kita bisa melihat sawah, gunung dan kehidupan masyarakat setempat. Namun, bagi yang membawa anak kecil dan orang tua sepuh, disarankan tidak melewati jalan ini, karena jalannya menanjak dan akan melelahkan. Di anjurkan melalui rute kedua yang lebih singkat, yang mana keempat belas stasi nya berada didalam komplek Gua Maria Kerep.
Didalam komplek ini GMK juga ada gedung transit berlantai dua yang bisa digunakan untuk pertemuan dengan kapasitas 80 orang. Juga tersedia dua ruang menginap terpisah untuk laki-laki dan untuk perempuan, dengan mengelar kasur ataupun karpet dengan biaya murah, hanya dikenakan biaya untuk dana listrik dan kebersihan. Untuk konsumsi dapat memesankan pada penduduk sekitar dengan harga relatif murah, sehat dan bergizi.
Setelah cukup beristirahat dan melakukan ritual berdoa dihadapan patung Bunda Maria dan juga berdoa dibawah Salib Suci Yesus yang besar, kamipun mencari santapan makan siang. Diarea parkiran terdapat berbagai macam jajanan mulai dari makanan ringan, lontong, mie bakso sampai sate ayam. Juga cendera mata ciri khas yang bersifat rohani, dari mulai lilin-lilin bergambarkan Yesus dan Maria sampai patung Bunda Maria berukuran manusia. Yang lebih membuat kami merasa betah adalah keramahan penjualnya, yang ada disekitar GMK dari anak-anak sampai mbah-mbah. Mereka adalah penduduk sekitar GMK yang juga umat katolik.
GUA MARIA SENDANGSONO-KALIBAWANG, JOGJAKARTA
Kamipun melanjutkan perjalannan menuju Goa Maria Sendangsono didaerah kalibawang, Jogjakarta. Perjalanan dari Ambarawa ke lokasi ini menempuh jarak 2 jam lebih, karena kami harus memasuki kawasan hutan lindung dengan kondisi jalan tanah dan jurang disisi kiri bahu jalan.
Berhubung waktu itu hujan deras dan hari sudah malam, kami putuskan untuk bermalam di daerah Borobudur, karna di sekitar Gua Sendangsono tidak ada hotel ataupun penginapan lainnya. Kecuali rumah penduduk dan susteran yang juga menerima pengunjung atau peziarah untuk menginap. Sehingga kami putuskan untuk turun kembali ke Borobudur.
Gua Sendangsoni ini diberkati pada tanggal 8 Desember 1929 bertepatan dengan perayaan 75 tahun Bunda Maria Tak Bernoda oleh pembesar Serikat Jesuit, Pater Kalken. Dekat altar utama Gua Sendangsono terdapat semacam prasasti yang menunjukkan awal mulanya tempat itu sebagai tempat ziarah Bunda Maria. Bermula dari datangnya seorang misionaris berkebangsaan Belanda, Pastor Van Lith SJ, pada tanggal 14 Desember 1904 di Semarang, ia memberkati sumber air yang ada lalu digunakan untuk membaptis 173 orang, rombongan pertama orang katolik yang dipermandikan di Jawa Tengah. Lalu oleh Pater J.B Prennthaler SJ, yang sudah lebih dahulu bertugas di Kalibawang, dianjurkan agar disekitar sendang yang sudah diberkati sebaiknya ditempatkan suatu lambang kekudusan dan kemurnian. Maka dimulailah pembangunan Gua untuk menempatkan Bunda Maria, yang dipesan khusus dari Perancis.
Gua Maria Sendangsono dianggap sebagai Gua Lourdesnya Asia Tenggara dewasa ini, ribuan umat dari berbagai paroki di Indonesia maupun di luar negeri banyak berziarah ke gua ini. Khususnya pada bulan Mei dan Oktober.
Hening dan bersahaja suasana di Gua Maria Sendangsono ini, membuat kami ingin tetap tinggal.
Awalnya tujuan kami selanjutnya adalah Gua Maria Ganjuran, Bantul. Namun setelah berdoa di Gua Sendangsono kamipun sempat berbincang-bincang dengan seorang ibu yang sudah sepuh. Dialah Ibu Sowi atau yang dikenal dengan Mbah Sowi, yang telah mengabdi selama 85tahun dan hidup dari dedaunan pohon sono yang membuat teduh kawasan Gua Sendangsono. Mbah Sowi lah yang memberikan informasi adanya Gua Maria Jatiningsih dikawasan Kaliprogo, setelah Sendangsono arah Jogjakarta.
GUA MARIA JATININGSIH,KLEPU-KALI PROGO
Gua Maria Jatiningsih, Klepu-Kali Progo, letaknya 500m dari jalan raya Muntilan menuju Jogjakarta setelah Kalibawang. Namun sayang kami tidak dapat memperoleh informasi apa-apa mengenai Goa Maria ini. Selain itu kawasan Goa Maria Jatiningsih ini belum selesai dibangun 100 % dan nampaknya masih dalam pembangunan dan butuh biaya yang tidak sedikit. Suasana doa ditemani oleh gemericik air yang mengalir dari Sungai Kaliprogo, yang letaknya berdampingan dengan kawasan Gua Maria Jatiningsih ini. Perjalannanpun kami lanjutkan ke arah Bantul.
GUA MARIA GANJURAN, BANTUL-JAGJAKARTA
Pada saat kami sampai di kawasan Gereja Ganjuran ini, hujan lebat membasahi perjalanan spriritual kami. Namun tekat dan niat kami tak mampu dihalangi oleh derasnya air hujan. Kala itu senjapun menemani kami dan rasa keinginan kami untuk datang ke gereja ganjuran ini.
Sebenarnya nama lengkapnya adalah Gereja Hati Kudus Yesus, namun lebih dikenal sebagai Gereja Ganjuran. Tepatnya gereja ini berada di desa Ganjuran, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, sekitar 17 Km ke arah Selatan dari Jogjakarta. Gereja tua ini mulai dibangun tanggal 16 april 1924 dan diresmikan tanggal 11 Februari 1930 oleh Uskup Agung Jakarta waktu itu Mgr.Van Velsen SJ. Rumah Tuhan ini bergaya arsitektur Jawa-Hindu.
Bila kita melihat didalam komplek gereja Ganjuran ini, terdapat Candi Hati Kudus Yesus, yang didalamnya terdapat patung Gusti Yesus dalam pakaian kebesaran seorang Raja Jawa. Digambarkan hati-Nya yang kudus bernyala melukiskan Raja Semesta Alam, dan bertuliskan huruf Jawa yang berbunyi Sampean Dalem Maha Prabu Yesus Kristus Pangeraning Para Bangsa. Didalam komplek gereja inipun terdapat patung Bunda Maria yang disebut Siti Maria berpakaian kebaya/Jawa.
Unsur kejawen juga sangat kental terlihat dari acara rutinnya, seperti Tirakatan Malem Jumat Kliwon. Dan Misa pun menggunakan bahasa Jawa. Bahkan, saat Jumat Agung upacara khusus dilaksanakan dipelataran candi lengkap dengan adat jawa, mulai dari busananya sampai gamelan.
Pada waktu kami berada disini, suasana hujan mulai gerimis, seakan cuaca ini mengerti keinginan kami. Angin berhembus sepoi, menambah suasana menjadi lebih kusyuk, tentram dan bersahaja, dengan terdengarnya musik gamelan yang dimainkan oleh anak-anak Misdinar yang sedang latihan untuk pentas Perayaan Natal yang telah dipesan oleh salah satu instansi pemerintah daerah setempat. Wah…. Kami pun ikut merasa bangga akan kemahiran mereka memainkan alat gamelan tersebut. Terlebih atas kemahiran mereka ini, mereka sudah beberapa kali disewa oleh instansi pemerintahan setempat. Suasana seperti ini sangat-sangat jarang kami rasakan di Jakarta maupun Tangerang. Ingin rasanya tinggal lebih lama.
Daya tarik lainnya dari Gereja Ganjuran yaitu adanya sumber air tanah yang tidak ada habisnya dari bawah candi. Sumber ini ditemukan pada bulan Mei 1997. Kabarnya, banyak orang sakit sembuh setelah minum air Candi Hati Kudus Yesus, baik umat katolik maupun yang beragama lainnya.
Dari kota Jogjakarta, perlu perjalanan sekitar 45 menit – 1 jam,untuk mencapai Gereja Ganjuran ini. Biasanya gereja ini dipadati oleh umatnya pada pagi hari. Karna sebagian besar umatnya adalah berprofesi sebagai buruh dan guru.
Gereja Ganjuran Bantul, ini sangat kami sarankan bila anda ingin berwisata rohani bersama keluarga. Pengalaman yang kami rasakan ini tidak dapat dinilai oleh apapun. Karna hari sudah malam dan hujan masih saja turun, maka kami putuskan untuk bermalam dikota Jogjakarta. Dan besok paginya kami melanjutkan perjalanan ini ke Gua Maria berikutnya.
GUA MARIA NGAJIREJO GADING-GUNUNG KIDUL JOGJAKARTA.
Gua Maria Ngajirejo inipun kami peroleh informasinya dari salah seorang ibu, yang sempat berkenalan dengan kami. Ia adalah umat di gereja Ganjuran dan juga salah satu ketua lingkungan yang ada di Gereja Ganjuran. Info-info seperti inilah yang membantu kami. Sekaligus menjadi sebuah petunjuk buat kami untuk dapat mengetahui keberadaan Gua-Gua Maria lainnya yang mungkin kami sendiri tidak tahu keberadaannya.
Gua Maria Ngajirejo, letaknya di belakang landasan AU Gading, Gunung Kidul. Dan kurang lebih 1,5 jam kami tempuh dari arah kota Jogjakarta. Perjalanan dari kota Jogja menuju kawasan inipun kami lalui dengan jalan yang berliku dan menanjak. Butuh konsentrasi yang lumayan baik dari pengemudi kendaraan. Ditambah waktu itu pun hujan rintik. Kami tak banyak memperoleh info tentang Gua Maria ini, hanya saja suasana di Ngajirejo ini cukup hening dan sepi, letaknyapun ditengah pedesaan .
GUA MARIA TRITIS, WONOSARI-GUNUNG KIDUL,JOGJAKARTA
Perjalanan ini sedikit membuat kami merasa pusing, karena kami harus melewati jalan menanjak yang berliku-liku. Namun keindahan alam gunung kidul dengan pemandangan gunung batu membuat kami tetap bersemangat. Menurut cerita penduduk setempat, yang sempat berbincang-bincang dengan kami, pada waktu gempa beberapa bulan yang lalu, kawasan Gunung Kidul ini hujan batu krikil. Dan bebatuan seakan turun dari atas gunung.
Dari parkiran, kami berjalan kaki 2 km dengan medan yang bukan jalan rata, melainkan bebatuan, menanjak dan berliku. Bisa bayangkan, bagaimana sulitnya apalagi kami membawa putri kami yang baru berumur 3 tahun. Apakah kami mampu?
Namun sekali lagi, ini belum apa-apa dibandingkan dengan cobaan lainnya. Rasa tekat dan semangat kami menghantam dan menghapuskan perasaan itu. Membuat kami bersemangat kembali. Dan karna kami sendiri belum perna dan belum tau seperti apa Gua Maria yang ada di Tritis ini? Mengapa harus ada dibalik gunung bebatuan karang ini?
Ternyata benar,…. Memng luar biasa ….
Gua Maria Tritis ini adalah gua yang betul-betul indah dan masih alami. Dengan latarbelakang stalaktit-stalaktit. Perjalanan kami ini ditemani oleh anak-anak desa, yang memberikan petunjuk jalan mana yang lebih cepat dan lebih aman buat kami. Mereka adalah anak-anak dari umat katolik disekitar Gua Tritis, yang memang dianjurkan oleh romo paroki untuk memandu wisatawan dan peziarah yang datang ketempat tersebut. Kalau pengunjung berniat jalan salib, rute yang ditempuh lebih jauh dan memakan waktu 2,5 jam untuk bisa melewati keempat belas stasi yang ada sampai ke bukit golgota. Di Bukit Golgota ini, mirip dengan Bukit Golgota yang asli, yang terdapat juga tiga salib besar tempat Yesus di salibkan bersama dengan Barnabas.
Kata Tritis adalah bahas Jawa yang artinya tetesan air.
Tetesan air ini berasal dari stalaktit yang kemudian ditampung untuk digunakan sebagai obat. Letak Gua Tritis ini jauh dari perkampungan penduduk. Gua Tritis ini diresmikan oleh Romo Lamers SJ pada tahun 1979.
Ini adalah Gua Maria yang amat terkesan buat kami sekeluarga. Saran kami bila anda mengunjungi Gua Maria ini hendaknya anda membawa bekal seperlunya saja, seperti air minum mineral, botol kosong untuk wadah air suci dan lilin. Karna nanti kalau anda kembali ke tempat parkiran, jalan yang dilalui terus menanjak. Dan bagi orang tua yang sepuh, anda cukup menyewa tenaga pembawa tandu dari tempat parkiran sampai kedalam gua, dengan membayar upah seratus ribu rupiah pulang-pergi.
GUA MARIA SRININGSIH, WEDI-KLATEN
Kami tiba di Gua Maria Sriningsih ini sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Awan tebal dan angin yang cukup kencang menemani kami. Membuat kami ragu-ragu untuk turun dari kendaraan kami.
Gua ini diresmikan pada 19 Agustus 1979 oleh Justinus Kardinal Darmojuwono selaku Uskup Agung Semarang saat itu, berada di Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi, Dusun Jali, Desa Gayamhardjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DI Jogjakarta.
Jaraknya sekitar 30 km dari kota Jogjakarta, dari jalan raya Jogjakarta-Solo menuju kota Klaten, letaknya di sebelah kanan jalan. Masuk ke Dusun Jali - Desa Wedi kurang lebih 8-10 km dari jalan raya.
Gua ini terletak di lereng Perbukitan Seribu, pada malam hari kita dapat menikmati indahnya kota Klaten di malam hari. Tradisi yang menarik di Gua Maria Sendang Sriningsih ini adalah setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon selalu dihadiri banyak umat untuk menghadiri Misa Novena. Hal ini berlangsung sejak tahun 1985 yaitu Misa Novena yang ditunjukan dengan penghormatan Sakramen maha Kudus.
Rute perjalanan salib yang ada di lataran Gua Maria Sriningsih ini pun cukup curam dan terus menanjak naik ke lereng bukit.
Tidak ada lampu… tidak ada suara kebisingan, membuat kami cukup terbawa perasaan kusyuk untuk berdoa. Kurang lebih 2 km kami berjalan dari stasi pertama sampai stasi ke empat belas dan berujung pada Salib Besar Yesus. Arah berlawanan kami masih harus menurni tangga menuju Gua Maria Sriningsih yang sangat indah dan sangat suci, dengan ditemani sebuah gereja dimana umat dapat berkumpul bersama merayakan misa.
Perjalanan kami berwisata rohani pun di akhiri di Gua Maria Sriningsih ini. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami ke kota Solo.
Terima kasih Tuhan atas penyertaanMu pada keluarga kami. Akhirnya kami dapat menyelesaikan perjalanan ini dengan selamat .
Namun jika anda ingin mengikuti jejak kami berwisata rohani mengunjungi gua-gua Maria yang ada di sekitar Jawa Tengah, anda pun dapat mengunjungi gua Maria lainnya seperti Puh Sarang di Kediri, Gua Maria Mojosongo di solo, ataupun Goa Maria Sendang Ratu Kenyo di Wonogiri dan gua-gua Maria Lainnya. Gua-gua ini pun layak anda kunjungi.Mungkin kebiasaan ini pun dapat kita jadikan kebiasaan untuk berdoa dan berdevosi kepada Bunda Maria dan kepada Hati Kudus Yesus. Semoga saja. Amin.
Penulis : Anastasia Dewi NK
Ling. St.Louis
- 2389 reads



