Who's New

Jovay
m3n1ck
doni
antonius eka
vina
huller_bastian
pesonamml
Santoso
oLendo kwok
domingos neves
Erwin S.
Coco

AHKLAQUL KHARIMAH......... di djilid ke tigah......

paijo's picture

CRING..CRING .... UNTUK MR. POINT COLLECTOR

Kini giliran lelaki tinggi besar (untuk ukuran rata-rata Indonesia) yang duduk ditengah mimbar itu
berbicara. Suaranya jelas dan berwibawa, dibalut senyum yang sedari tadi nempel di
wajahnya. Inilah aktor utama yang ditunggu hadlirin dan hadlirot para wakil dan
tokoh penting umat Katolik Tangerang. Inilah Mr. WH alias Wahidin Halim…… sang Walikota.


 

Tokoh Tangerang nomor satu mengawali percakapannya dengan sapaan
“salam damai sejahtera” menggantikan
uluk “ Assalammualikum wahrahmatullahi
wabarokattuh…”
yang jamak dipakai para birokrat Indonesia. Nampaknya sapaan
itu demikian sederhana tetapi makna yang dikandung sangat dalam, karena ini
berarti sungguh menghargai eksistensi umat Katolik. Satu kredit poin yang patut
disematkan di dada beliau….. cring!

Selaku pelayan publik dipucuk pimpinan kota Tangerang,
beliau melakukan pertemuan dengan berbagai kelompok masyarakat serta Ormas yang
ada di Tangerang. Kesempatan itu diperlukan untuk lebih saling mengenal, dan untuk
mendapatkan masukan serta aspirasi langsung dari masyarakatnya. Maka janganlah
pertemuan ini dicurigai sebagai kampanye terselubung… kata Mr. WH…. Mbah Sonto
beranggapan bahwa beliau sungguh mengakui masyarakat majemuk sebagai realita
yang ada di Tangerang, yang mana salah satu kelompok masyarakat yang penting
dan tak mungkin diabaikan adalah Umat Katolik Tangerang . Maka patutlah…. Cring..cring..!!!,
kredit poin berikutnya….

Menjadi pelayan masyarakat di kota Tangerang bukanlah
pekerjaan mudah, katanya. Sebab daerah di pinggiran Ibokota Jakarta ini menjadi
muara pertemuan aneka budaya, etnis dan latar belakang social yang menjadikan Kota
Tangerang sarat dengan problematika. Faktanya, perkembangan kota dasawarsa
terakhir ini menunjukkan percepatan yang luar biasa. Bila saja penanganan pemerintahan
di Kota Tangerang ini amburadul niscaya akan menghancurkan sendi-sendi
kehidupan yang harmonis dan sejahtera yang diidamkan masyarakatnya. Pesatnya
pertumbuhan ekonomi, lajunya perkembangan teknologi, maraknya aneka macam industri
hiburan tidak sertamerta menjadikan masyarakatnya sejahtera. Bila tidak
dibarengi arah dan tujuan yang jelas dan baik, niscaya akan menjadikannya
terpuruk ke lembah kenistaan. Tengoklah, betapa maraknya pornografi dan
pornoaksi, kriminalitas, korupsi dan banyak hal lagi yang sangat bertentangan
dengan ajaran agama apapun. Ironisnya, ada juga kelompok yang mengatasnamakan
agama melakukan tindakan anarkis dan sewenang-wenang terhadap kelompok yang
lain. Untuk itu diperlukan satu Visi yang jelas yang menjadi arah dan tujuan
bersama baik pemerintah maupun masyarakat
Kota Tangerang…. , inilah visi yang ditawarkan beliau….”Ahklaqul
Kharimah”…. Dan cring-cring…cring..!!!!, ini kredit poin berikutnya lagi.

Ahklaqul Kharimah ?.....
apaan tuh !. Sebagai seorang Muslim yang saleh, Mr. WH mengambil slogan itu
dari bahasa Arab. Sah-sah saja bukan?. Bukankah anda juga sering menggunakan
slogan-slogan berbahasa asing. Bahasa Latin ora et labora”, “mangan ora mangan kumpul”, atau bahasa
inggris “time is money”, “no money no..dong!”
atau ala Mbah Sonto yang menggunakan bahasa suka-suka seperti : “ngono yo ngono ning mbok ojo ngono” atau
“jer basuki mawa geni..!” atau yang
lebih anggun seperti : “nderek Dewi
Mariyah, temtu geng kang manah”
dst dst. Nah “Ahkalqul Kharimah” hanyalah sekedar bunyi-bunyian bahasa lidah
saja, kecuali anda memahami artinya dan menghayati maknanya serta melakukan
amalannya dalam perbuatan sehari-hari…. Niscaya, bila saya, anda, pak walkot
dan jajarannya, pak camat, erwe, erte…. Pak Madun, Pok Yayah, Kang Somad, Pak
Ableh, Si Unyil, Si Usrok, Meilan dan Pak Ogah serta seluruh penghuni Kota
Tangerang se visi ini dan menerapkannya . Maka, kata Mr.WH…. Kota Tangerang
akan menjadi damai dan sejahtera.

“Ooo begitu..!, “
kata Paijo dan kawan-kawan mendengar penuturan Mbah Sonto tentang pertemuan
Istimewa yang membuat Mbah Sonto raib dan menggegerkan itu.

“Loh piye sih Mbah….,
lalu arti sebenarnya Ahka..ahka….. opo mau tadi…?”
Tanya Mbak Menik bingung…

“Ahklaq-ul…. Kho-ri-mah…
sambung si Bagas mengeja lantang.

“Wuiehhh…., lha koq
kamu hapal Gas…., tahu dari mana?”

selidik si Paijo menguji.

“Waduh!... ini nich…,
akibatnya kalo kuper…, lihat tuh billboard di perempatan jalan , poster-poster,
baliho-baliho … dimana-mana kan
boanyaaaakk….”
Jawab Bagas.

“Trus… artinya apa
Gas?”
Tanya mbak Menik.

“Wooo, lah embuh…. Ra weruh……
alias tara nyahok neng !”
jawab Bagas sekenanya.

“Makanya denger dulu
baik-baik, jangan asal nyahut dengan komentar sekenanya…, kayak Sanmarista pengumpul
poin saja…., pokoknya comment seuprit… yang penting dapet point..!”
kata
mbah Sonto nyinyir.

“Wah .. itu sih nyindir mbah…, memangnya ngga boleh
kasih komentar pendek ?!”
sanggah si Bagas.

“Bukan persoalan komentarnya
panjang atau pendek bentoooo……, tapi berbobot atau tidak begitu…, relevan
nggak?, bermakna nggak?..... nyambung nggaaaak!!!!??”
jawab mbah Sonto sewot.

“Iya tuch…, banyak
yang posting Cuma…. Wakakakaaakkk…… doang…., bener-bener gak mutu!”
timpal
Mbak Menik membumbui Mbah Sonto.

“Weh…. Wakakak itu
artinya ketawa ngakak neng…., itu biasanya milik biang admin… bung Coko.., kalo
ala Mbah Sonto ketawanya kan hahahaaa…atau
hihihiii…. Itu sih model …jadul ..alias jaman duluuuu…”
kata Paijo membela
para Sanmarista.

Lah setali tiga uang….,
Mas Paijo juga pernah komentar Cuma sepotong …wueegggg”
cibir Mbak Menik.

“Eit stop!.... kalian
ini apa-apaan sih…., sudah ayo kembali ke….”
Kata mbah Sonto.

“Laptop !!!!!”
sahut penghuni padepokan serempak, termasuk si Ole , sambil menarik ingusnya
dalam-dalam.

Intinya, Mr. WH dengan visi Aklaqul Kharimah ingin membangun
masyarakat yang mempunyai aklak yang baik atau bermoral tinggi. Bila saja
masyarakat beraklak baik, dapat dipastikan masyarakat itu jauh dari
perbuatan-perbuatan asusila, criminal atau perbuatan tak bermoral lainnya.
Masyarakat yang berakhlak baik pastilah tertib hokum, taat pada aturan dan
beradab. Bapak Walikota menjelaskan bahwa ciri utama orang beraklak baik yaitu
bila orang itu dipenuhi oleh kasih. Nah, orang-orang Katolik itu selaku
pengikut Isa Almasih mengajarkan “kasih”, kiranya dengan penghayatan
imannya pastilah menuju masyarakat Ahklaqul Kharimah tadi. Maka sebenarnya,
masyarakat Katolik pada dasarnya identik dengan masyarakat Ahklaqul Kharimah.
Jadi……. Cring..cringicring….icring…icring……!!!!!

“Nah, kalo begitu…ngapain
perlu pertemuan begitu segala mbah?”
Tanya Bagas.

“Tuh kan?, main sambar
saja komentarnya”
kata Mbak Menik.

“Hallo …. Mr. Point Collector……!” , mas Paijo
menggoda Bagas dengan ledekannya yang sarkas, langsung dibalas oleh Bagas
dengan kepalan tangan.

“Jadi begini…”
jawab mbah Sonto menengahi…..”Pertemuan
itu dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi antara masyarakat Katolik Tangerang
yang diwakili para Tokohnya dengan Sang Walikota, dimana ada saat dengar
pendapat dari kedua belah, agar saling dapat memahami…”

“Jadi selama ini….,
Pak Walikota belum…..”
kata Bagas, yang langsung dipotong Mas Paijo dan Mbak
Menik.

“Hallo….Mr, Point Collector ….!!!!,”….. si
Bagas hanya bisa nyengir …kesal…

“Mister Poin Kolotor
itu apaan sih?...”
tanya si Ole
polos.

“Hussss… diem
bentooooo…”
gertak Bagas melotot…si Ole menyusut ingusnya lagi…..
sroooottt!!!

 

…………………………………………………………. Cerita lanjutnya , dilanjutkan kapan ya?....ah kapan-kapan aja!.....

"WONTEN ING NDONYA KADOS ING SWARGO"

Comments

Amandus's picture

Olaalalahu..........Akhlaqul Kharimah ketiga

Boleh tuh. WH masih pantes jadi nomor one di tangerang, soal buktikan karya olala banyak. yang belum tuh dukung sobat umat katolik stasi gregorius bangun gereja stasi yang resmi di kab tangerang kan ijinnya sulit dan bebelit sana sini. yeah payah. Mas sonto bisikin dong sama WH. Ditunggu ya kabar baiknya gimana.

paijo's picture

Wooo,...... terbalik bung...!!!

PUNOPO MBOTEN KLENTU NGGIH..., KISANAK!

Terima kasih bung Amandus soal bisik-membisiknya, tetapi bukankah hal ini terbalik?. Seyogyanya, kami yang umat Katolik biasa ini, mendapatkan penjelasan dari para tokoh perwakilan umat ikhwal pertemuan dengan Pak Walkot kala itu. Kalau daku tidak keliru, dikau adalah salah satu anggota panitia penting dari pertemuan ini. Maka justru kami seharusnya yang bertanya-tanya ... apa buah-buah dari pertemuan itu dari dikau dkk ......bung Amandus !.

Tulisan daku diposting kisaran sebulan setelah pertemuan itu. Ini semata-mata semacam siaran pandangan mata dari seorang Mbah Sonto yang kebetulan turut menyaksikan pertemuan ini. Mbah Sonto itu bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, sehingga pernyataannya tidak mewakili para tokoh Katolik ataupun panitia pertemuan ini. Sungguh, tulisan ini hanya berdasarkan rasa prihatin dan rasa malu Mbah Sonto .

Malu?, ya!. Karena mbah Sonto telah ikut menyantap hidangan di sana, yang konon menelan anggaran Rp. 14.000.000,- dari dana paroki yang nota bene adalah uang umat juga, maka kiranya tukisan ini layak menjadi pepulih rasa malunya pada umat Katolik Tangerang.

Kami sebagai umat Katolik Tangerang berharap mendapatkan perkembangan informasi dari yang mulia para wakil, tokoh penting dan khususnya panitia pertemuan itu. Mungkin, Bung Amandus dapat menuturkannya dengan lebih akurat dan layak dipercaya.

Pada suatu kesempatan, hari minggu pagi di ekor bulan Juni lalu, dokter Trisno menanyakan perkembangan dari hasil pertemuan itu pada Mbah Sonto. Beliau menyarankan agar dilakukan follow up dan , mengaktifkan Forum Komunikasi antar Umat Beragama sesuai arahan Pak Walkot. Sayang, dokter Trisno mengira bahwa Mbah Sonto adalah tokoh penting atau panitia karena melihat beliau ada di sana, kala itu. Mbah Sonto hanya mengatakan bahwa pasti hal itu sudah dilakukan oleh panitia, seperti Pak Wagiman dari St Maria dan Bung Amandus dari Gregorius.

Oh ya, sekedar keterangan, dokter Trisno adalah tokoh yang disebut Pak Walkot sebagai sahabat dekatnya, dimana beliau berkonsultasi kesehatan sekaligus menggali informasi untuk memahami umat Katolik Tangerang.

Bung Amandus,.... seperti halnya dr.Trisno kami menunggu informasi dari anda. GBU.

"CEMPENING ALLAH, INGKANG MBIRAT DOSANING JAGAD........"

edi's picture

Kenalkan Kekatolikan

Pak Paijo, ada panitia untuk pertemuan-pertemuan itu. Tapi tampaknya mereka kurang gaul dengan internet, hehehe. Jadi saya secara singkat tuliskan saja apa yang saya tangkap. Ada
tiga paroki di Kota Tangerang, yakni St Maria, St Agustinus dan St Bernadette. St
Bernadette, tempat ibadahnya ditutup warga didukung pemda kecamatan. St
Agustinus boleh beribadat, tidak boleh membuat tempat ibadat baru, bahkan untuk
renovasi aula pun tidak. Umat St Maria berjumlah besar (lebih dari 19 ribu) sehingga mesti
dimekarkan menjadi tiga paroki. Namun bahkan untuk mulai membeli tanah yang
nanti dapat didirikan Gereja Katolik di atasnya pun sudah amat sulit. Situasi
itulah yang membuat tiga paroki ini bersinergi untuk menjalin kerjasama dalam
membina hubungan dengan pihak pemda kota
Tangerang dan sesama umat beragama.

Pertemuan dengan pemda walikota telah dilaksanakan dengan
biaya dari Pemda pada beberapa waktu sebelumnya. Inilah pertemuan pertama wakil
tiga paroki dengan walikota Tangerang. Hasilnya? Pertama-tama, tentu saja
pengenalan satu sama lain. Kedua, dorongan untuk mengadakan pertemuan lanjutan
antara wakil tiga paroki dengan FKUB yang baru terbentuk setahun bersama dinas
departemen agama.

Pertemuan wakil tiga paroki dengan FKUB (Forum Kerukunan Umat
Beragama) dan Departemen Agama (Depag) dilaksanakan pada sabtu 8 Agustus 2008,
di Aula Padang
Golf, Kompleks Modernland, Tangerang. Kalau ini dibiayai bersama-sama oleh tiga Dewan Paroki. Selain perwakilan dari tiga paroki, hadar
perwakilan FKUB yang diketuai Haji Ahmad Baijuri. Hadir pula Kepala Bagian Tata
Usaha Kantor Depag Tangerang H. Muhammad Najib dan Kepala Kantor Depag
Tangerang Zaenal Arifin.

Lagi-lagi ini pertemuan
pertama, dimana orang saling mengenal pertama kali. Bagi para wakil katolik, ini
menjadi saat untuk mengemukakan masalah-masalah mereka, demikian pula
sebaliknya.
Orang diajak saling memahami satu sama lain. Demikianlah
hakekat komunikasi, yaitu saling memahami. Semakin disadari bahwa mayoritas
orang Tangerang tidak bisa membedakan orang Katolik dan orang Protestan.
Sebabnya antara lain adalah bahwa orang katolik kurang memperkenalkan dirinya
sebagai orang katolik kepada mereka. Memang kalau orang katolik sibuk dengan
dirinya sendiri dan komunitas katolik di Gereja saja, maka Kekatolikan tidak
dikenal. Yang orang tahu, gereja Kristen. Katolik atau protestan sama saja.
Tidak saling mengenal dan tidak berhubungan baik ini menjadi salah satu
halangan orang untuk memberi dukungan pada orang katolik dalam menjalankan
ibadahnya. Oleh karena itu, selain saling mengenal para wakil paroki dengan
FKUB dan Depag, hasil pertemuan itu adalah kesadaran pentingnya pengenalan
terus menerus (maklum orang mudah lupa) umat katolik kepada umat lain di
sekitarnya dan pentingnya menjaga hubungan baik sesama umat sehingga dapat
saling mendukung dalam kehidupan, termasuk kehidupan keagamaan. Dapat
dimengerti orang tidak mudah memberi dukungan, kalau tidak mengenal yang mesti
didukung. Orang tidak mau memberi dukungan kalau yang dikenal tidak dikenal
sebagai orang yang baik. Oleh karena itu kita semua harus terus menerus
memperkenalkan kekatolikan kita (walau tetap ada yang tidak mau tahu), membina hubungan baik, bekerjasama baik, dalam
segala aspek kehidupan dengan umat beragama lain. Hanya dengan demikian,
upaya-upaya kita mengembangkan kehidupan beragama seperti memiliki tempat
ibadat atau memekarkan paroki dapat lebih mudah terwujud. Tanpa keterlibatan
semua umat dalam hal itu semua, jangan berharap banyak untuk dapat
mengembangkan paroki. Untuk sampai ke sana,
membutuhkan proses panjang dan waktu yang tidak pendek. Hanya umat yang sabar
dan penuh harapan dapat mewujudkannya.

be.pe.ka's picture

"Oalahh... saya pikir kalian itu sama2 Kristen ya sama saja.."

Betul sekali Romo...

PPG paroki saya (St. Agustinus) jg mengalami kendala yg sama :

Tim PPG : "Kami ingin mendirikan gedung gereja"

Aparat : "Lho? Buat apa? Kan sudah banyak tuh gedung2 gereja disini... yg disitu (maksudnya menunjuk kpd gereja protestant) kan gedungnya besar, udahlah dipake gantian aja..."

Tim PPG : "Itu beda Pak. Kami ini Kristen Katolik."

Aparat : "Oalahhh beda ya? Saya pikir kalian itu sama2 Kristen ya sama saja.."

Mungkin kita sebagai umat harus lebih dulu mencerminkan ke-katolik-an kita seperti yg diimbau Romo Edi, dan bisa segera dimulai dr lingkup terkecil aja dulu... keluarga sbg umat basis... kedengerannya teori bgt ya? tp apa bener udah diterapkan?

Semoga pribadi kita bisa mulai mencerminkan pribadi Kristus...
Selamat memulai...

God bless & peace always !

 

<--- Ut Omnes Unum Sint --->

 

 

"For my part, I should not believe the gospel except as moved by the authority of the Catholic Church." — St. Augustine (354–430)

 

S A M U E L's picture

mmmm....

Cuplikan dialog diatas..

Aparat : "Lho? Buat apa? Kan sudah banyak tuh gedung2 gereja disini... yg disitu (maksudnya menunjuk kpd gereja protestant) kan gedungnya besar, udahlah dipake gantian aja..."

Tim PPG : "Itu beda Pak. Kami ini Kristen Katolik."

Aparat : "Oalahhh beda ya? Saya pikir kalian itu sama2 Kristen ya sama saja.."

:: Percakapan singkat ini membuktikan 'sempit' nya pemikiran sebagian masyarakat Indonesia pada umumnya yang memang sudah menjadi paradigma sekelompok tertentu masyarakat yang 'sejak lahir' sudah dijejali paham-paham tersebut. Saya ingat waktu di kelas III Sekolah Dasar, saat itu saya bersekolah di sekolah 'umum' (bukan strada atau yayasan katolik), waktu pelajaran agama saya 'dicampur' dengan teman-teman dari kristen protestan oleh kepala sekolah, padahal jelas2 saya bukan kristen protestan dan saya pun protes, namun kepala sekolah tersebut malah berkata : " Lah.. khan kamu Kristen, disini tidak ada Protestan atau Katolik. Kristen ya kristen, agamanya sama saja.. "  >> so.. beginilah situasi kita.. Cry

 

m1m1nk's picture

Kampanye

Wah, foto posternya makin banyak, dekat pilkada yah, lagi giat2 kampanye dooong... 

God works in ways we'd never comprehend until we enjoy the fruits, so let Him guide us in everything we do.

God works in ways we'd never comprehend until we enjoy the fruits, so let Him guide us in everything we do.

Mario Oscar Titahelu's picture

SUDAH SAATNYA...!

Memang sudah saatnya kita sebagai umat katolik membuka diri dan dapat membaca lebih jelas lagi tentang situasi dan kondisi yang terjadi dilingkungan sekitar kita. Kita harus lebih banyak bergaul dengan teman-teman yang berbeda agama, agar supaya masyarakat luas dapat membedakan siapa yang katolik dan siapa yang protestan, atau bagaimana sih ciri-ciri khas umat katolik.

Kita saat ini harus belajar dari saudara-saudara kita kaum keturunan yang bukan katolik, bagaimana mereka dapat diterima di masyarakat? Bagaimana cinta kasih itu dapat disalurkan kepada seluruh masyarakat, bagaimana mereka dapat menyambangi orang-orang yang kelaparan,  dapat memberikan kehangatan bagi mereka yang kedinginan karena tidak punya tempat berteduh. Ini semua dilakukan dengan penuh rasa cinta kasih.

Dahulu kala kiat umat katolik ialah bagaimana supaya orang bisa sembuh dari sakitnya, makanya didirikan rumah sakit. Bagaimana supaya orang-orang dapat maju dalam dunia pendidikan, didirikanlah sekolah dasar sampai pada tingkat perguruan tinggi yang pada dasarnya dapat terjangkau oleh seluruh masyarakat. Apakah sekarang maasih begitu, marilah kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Sudahkah kita mengerti sekarang bahwa kita perlu untuk bangkit dan bergerak? Tema Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2005, harusnya membakar semangat kaum muda katolik untuk bangun dan bergerak. Bangun dari kelelapan tidur yang terlalu nyenyak, dan bergerak supaya jelas kearah mana kita mau pergi. Ini perlu persiapan yang mateng, tetapi tidak boleh stagnasi. Artinya kalau kita tidak siap, kita harus bergerak secara cepat dan simultan supaya kita siap dan dapat melakukan sesuatu untuk bangsa dan negara yang kita cintai ini.

 Mudah-mudahan dapat dimengerti oleh kaum muda yang militan dan penuh semangat.

 

Oscar. 

be.pe.ka's picture

Masi ngakak jg nih...

“Makanya denger dulu baik-baik, jangan asal nyahut dengan komentar sekenanya…, kayak Sanmarista pengumpul poin saja…., pokoknya comment seuprit… yang penting dapet point..!” kata mbah Sonto nyinyir.


Bwahahaha... baca ini udah berkali2... tp masi ngakak juga....
Mbah emang top dah... !! Hehuehuehue...

(Lho? berarti komentar ini jg salah satu point collector donks? Wakaka...)


 

<--- Ut Omnes Unum Sint --->

 

 

"For my part, I should not believe the gospel except as moved by the authority of the Catholic Church." — St. Augustine (354–430)

 

S A M U E L's picture

i think..

“Makanya denger dulu baik-baik, jangan asal nyahut dengan komentar sekenanya…, kayak Sanmarista pengumpul poin saja…., pokoknya comment seuprit… yang penting dapet point..!” kata mbah Sonto nyinyir.

mm.. lucu juga kalo kebebasan kita mengeluarkan pendapat harus diatur-atur, disetting sedemikian rupa, text book, atau harus panjang-panjang, berbobot, mengacu pada analisis, tesis, atau apalah. Apalagi kalau di pandang/nilai untuk mendapatkan poin sebanyak-banyaknya. Apalah arti poin bagi sebagian besar SanMarista..? Poin hanyalah sebuah angka, indikator seorang user SanMarista aktif online dalam web. So, i think.. seuprit atau se-tidak penting apapun komentar dari teman-teman patut kita hargai, jika dirasa kurang pas menurut saya dapat dikomunikasikan secara baik dan positif kepada yang bersangkutan. Kita tahu bahwa pengunjung web ini terdiri dari berbagai kalangan dengan berbagai macam latar belakang budaya atau lingkungan dan pendidikan serta usia yang bervariasi. Jadi isn't big deal lah.. Wink 

m1m1nk's picture

SE-7

Setuju Bro SAMUEL!

Website ini jadi tempat kumpul orang2 seiman, bisa bahas hal dari serius sampe yang nggak penting, pada akhirnya kita semua jadi lebih akrab.

Cuman, satu hal yang sedang saya risaukan adalah berapa sih ongkos menjalankan website kita tercinta ini, apakah sebanding dengan manfaatnya? Kalo isinya kebanyakan cuman bercanda-canda doang sih, sayang juga yah duitnya.... dengan kita posting artikel dsb apakah membebani biaya hosting juga? Kalo setiap posting ada biayanya, baiklah kita hemat posting hanya yg penting saja. Kalau yg saya amati sih, memang sang ADMIN mendorong kita agar lebih ramai posting sampe dikasih poin dan barang belanjaan supaya lebih ramai website-nya, mohon koreksi bila saya salah pengertian.

God works in ways we'd never comprehend until we enjoy the fruits, so let Him guide us in everything we do.

God works in ways we'd never comprehend until we enjoy the fruits, so let Him guide us in everything we do.

DmZ's picture

koreksi sedikit

 Koreksi sedikit bro m1m1nk, memang kalau panyak posting yang masuk bandwith akan semakin banyak terbuang, tetapi jika web sangat aktif Gereja juga tidak sungkan membiayai cost web ini, dari pihak hosting juga yang merupakan komunitas katolik memberikan fasilitas yg lebih jika web ini digunakan secara maksimal, dari pihak developer 'si dmz' juga senang kalau proyeknya berhasi, lihat pengunjung yang terus bertambah juga seneng bgt.

Jadi ya keep on posting all...

- Dimas Hermawan -
life-blog : http://www.duniakecilku.com
YM! : adh2000s

- Dimas Hermawan -
life-blog : http://www.duniakecilku.com
YM! : adh2000s