Walterus Teguh Santosa, SJ

Walterus Teguh Santosa, SJ

Id Quod Volo

Sejak awal bulan September 2016 yang lalu, Paroki HSPMTB kembali kedatangan seorang Gembala Tuhan yang baru dan siap untuk melayani umat, yaitu Romo Walterus Teguh Santosa, SJ. yang biasa disapa Romo Teguh. Beliau lahir di Bantul, 28 Juni 1965 dari pasangan Lukas Rasidal dan Anastasia Sumartinah.

Awal mula tertarik untuk menjadi seorang Jesuit adalah ketika semasa kecil melihat seorang Romo Parokidi Ganjuranyang memberikan nasi bungkus miliknya kepada seorang anak kecil yang menangis karena tidak mendapatkanmakanan yang dibagikan dalam sebuah pesta paroki. “Sederhana memang, tetapi ini membuat hati saya tersentuh akan kebaikan Romo tersebut”, ucap Romo Teguh sembari tersenyum.Akan tetapi ‘panggilan’ itu timbul tenggelam sampai ia dewasa dan bekerja menjadi guru di kotaWonosobo. Ia memberikan kesaksian, “Menjelang usia 29 tahun saya merasa bimbang dalam memilih tujuan hidup, dihadapkan pada dua pilihan antara terpanggil melayani Tuhandengan menjadi seorang Jesuit atau menikah secara Katolik. Dan akhirnya saya pastikan untuk memilih mendaftar seminari. Ternyata pilihan yang saya ambil tidak berjalan dengan mudah, dikarenakan usia saya yang sudah memasuki usia produktif, oleh rektor seminari saya langsung diarahkan ke Novisiat (masa pendidikan awal dalam Serikat Jesus –Red) Girisonta bertemu dengan Romo Abdipranata, SJ. untuk mengikuti bimbingan.”

Satu tahun mengikuti bimbingan ternyata belum cukup untuk diterima dalam Serikat Jesus. Iamenjelaskan, “Saya mesti mengikuti program pra-novisiat di Jogja dengan terus bekerja menjadi guru di Wonosobo. ”Menurut kesaksiannya, bahkan setelah satu tahun mengikuti program pra-novisiat ada salah satu penguji meragukan kemampuannya untuk menjalani studi. Maka sepulang mengikuti Solisitasi (proses seleksi masuk novisiat-Red), iakembali menjalani kehidupan ‘bebas’ dan berfikiran akan mencari calon istri dikarenakan rasa pesimisnya akan tidak diterima. “Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, disaat saya hampir merasakan indahnya jatuh cinta, surat keputusan yang menyatakan saya diterima di novisiat pun dikirim ke rumah,” ucap Romo yang mempunyai hobi berolah raga lari ini.

Romo Teguh lantas menjalani pendidikan Jesuit dimulai di NovisiatGirisonta Ungaran (1997-1999), dilanjutkan studi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta (1999-2003), Tahun Orientasi Kerasulan di PIKA Semarang (2003-2004),diakhiri Studi Teologi di Fakultas Teologi Wedabhakti USD Kentungan Jogja (2004-2007). Sepuluh tahun mengikuti pendidikan Jesuit, akhirnya pada tanggal 26 Juli 2007 di Kotabaru Jogja, Romo Teguh ditahbiskan menjadi seorang Imam Jesuit. Dan mengikrarkan Kaul akhir dalam Serikat Jesus pada tanggal 15 Agustus 2016 di Gereja St. Teresia Jakarta yang bertepatandengan hari St. Perawan Maria Diangkat ke Surga.

Sebelum dipindah tugaskan ke Paroki HSPMTB, Romo Teguh pernah bertugas menjadi Pastor Rekan di Paroki St. Robertus Bellarminus Cililitan, Jakarta pada tahun 2007-2009 dan pada tahun 2009-Agustus 2016 ini bertugas di PIKA Semarang. Setelah menjalani hidup sekian waktu sebagai Jesuit, Romo Teguh pernah beberapa kali merasa hidupnya terkesan datar. Untuk membangkitkan kembali semangat mengikuti Tuhan, Romo Teguh merenungkan semboyan Id Quod Volo yang berartiApa keinginaku yang mendalam?” Romo Teguh mengatakan bahwa dalam Latihan Rohani Santo Ignasius Loyola,setiap orang dibimbing memiliki keinginan yang mendalam untuk dipertemukan dengan kehendak Allah. Ia menegaskan, “Api semanga takan berkobar, apabila kehendakku bertemu dengan kehendak Allah.”

Kesan pertama Romo Teguh yang didapat selama kurang lebih satu bulan tinggal di Paroki kita adalah umatnya mandiri, aktif dan atraktif. Terhadap Orang Muda Katolik (OMK) yang notabene merupakan mayoritas umat Paroki HSPMTB menurut data statistik yang ia lihat, Romo Teguh mendambakan orang muda yang kritis, tapi bukan hanya asal kritis namun lebih realistis dalam kehidupan yang konkrit serta aktif dalam organisasi menggereja. Karena kaum muda merupakan kaum penerus baik di dalam lingkup gereja maupun dalam masyarakat. Tak hanya itu, kaum muda diharapkan juga tidak hanya hura-hura semata atau mementingkan kegiatan rohani saja, namun hidup itu harus dilakukan secara seimbang dengan berpikir kritis. Kepada para anggota kategorial, ia pun berharap merekadapat “memperkaya” gereja dengan menyumbangkan diri mereka di gereja secara keseluruhan.

“Selamat datang Romo Teguh. Selamat berkarya di Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda Tangerang. Tuhan Yesus memberkati pelayanan Romo.”(PK)

Leave a Reply